
Sri Lanka hadapi tantangan penuhi regulasi perdagangan bebas deforestasi UE

Foto yang diabadikan pada 7 Juni 2025 ini menunjukkan Proyek Jalan Layang Akses Pelabuhan di Kolombo, Sri Lanka. (Xinhua/Chen Dongshu)
Implementasi Regulasi Deforestasi Uni Eropa yang akan berlaku pada 30 Desember mewajibkan semua komoditas yang memasuki pasar Uni Eropa untuk bebas deforestasi dan berasal dari sumber yang legal.
Kolombo, Sri Lanka (Xinhua/Indonesia Window) – Sri Lanka sedang bersiap menghadapi implementasi Regulasi Deforestasi Uni Eropa (European Union's Deforestation Regulation/EUDR) yang akan berlaku pada 30 Desember. EUDR mewajibkan semua komoditas yang memasuki pasar Uni Eropa (UE) untuk bebas deforestasi dan berasal dari sumber yang legal, menurut studi terbaru oleh Institute of Policy Studies (IPS), sebuah lembaga riset yang berbasis di Sri Lanka.Regulasi tersebut menargetkan tujuh komoditas utama yang meliputi karet alam, minyak sawit, kedelai, ternak, kakao, kopi, dan kayu, serta produk-produk turunannya, seperti ban dan furnitur kayu. Ekspor karet Sri Lanka ke UE, yang bernilai sekitar 338 juta dolar AS pada 2024, merupakan bagian yang signifikan dari perdagangan ini, kata para peneliti IPS.*1 dolar AS = 16.640 rupiahUntuk memenuhi EUDR, para eksportir harus menyediakan data geolokasi terperinci dan membuktikan kepemilikan legal atas lahan tempat komoditas tersebut diperoleh. Meski perkebunan luas mungkin dapat memenuhi persyaratan ini tanpa kesulitan berarti, studi tersebut menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi oleh para petani kecil yang menggarap 68 persen lebih dari hampir 98.400 hektare karet di Sri Lanka.Minimnya infrastruktur digital, akses internet yang tidak dapat diandalkan di daerah pedesaan, serta kompleksitas dalam pendigitalan sertifikat tanah menghambat kemampuan petani kecil untuk memenuhi standar ketertelusuran dan dokumentasi yang ketat, ungkap tim IPS. Potensi eksklusi petani kecil dari pasar UE yang menguntungkan menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak sosial-ekonomi terhadap komunitas pedesaan.Pemodelan IPS memproyeksikan pemenuhan terhadap regulasi tersebut dapat meningkatkan biaya ekspor sebesar 5 persen, yang berpotensi menyebabkan penurunan ekspor karet ke UE sebesar 7,6 persen, setara dengan kerugian tahunan sebesar 24,4 juta dolar AS. Kegagalan memenuhi regulasi dapat mengakibatkan hilangnya akses pasar UE secara total untuk produk-produk ini, yang berpotensi menurunkan produk domestik bruto (PDB) Sri Lanka sebesar 0,07 persen.Ketenagakerjaan di sektor manufaktur karet, yang saat ini mendukung lebih dari 34.000 pekerja, juga berpotensi terdampak. Studi tersebut memperkirakan skenario kegagalan memenuhi regulasi dapat menurunkan permintaan tenaga kerja sebesar 15,6 persen, yang berakibat pada hilangnya ribuan pekerjaan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Aneka roti NIOPAN jamin kemeriahan semua hajatan
Indonesia
•
14 Jan 2024

Hadapi krisis tenaga kerja yang terus meningkat, Turkiye kini bergantung pada pekerja asing
Indonesia
•
11 Nov 2024

Feature – Teknologi dan kerja sama pertanian makmurkan kehidupan petani tebu di China dan ASEAN
Indonesia
•
27 Mar 2024

Destatis: Ekonomi Jerman terkontraksi 0,4 persen pada Q4 2022
Indonesia
•
25 Feb 2023


Berita Terbaru

Kasus korupsi di Singapura menurun pada 2025
Indonesia
•
30 Apr 2026

Atasi lonjakan harga bahan bakar, Thai AirAsia kurangi jadwal penerbangan hingga 30 persen
Indonesia
•
30 Apr 2026

Perubahan tarif akan tambah 1,1 triliun dolar AS ke defisit anggaran ASdalam 10 tahun
Indonesia
•
30 Apr 2026

UEA keluar dari OPEC, sejalan dengan visi ekonomi jangka panjang
Indonesia
•
30 Apr 2026
