
Ilmuwan temukan area terumbu karang di Australia Barat yang tahan panas ekstrem

Wisatawan bersepeda di Pulau Rottnest di Australia pada 25 Oktober 2024. Pulau Rottnest adalah sebuah pulau di lepas pantai Australia Barat. (Xinhua/Ma Ping)
Terumbu karang Houtman Abrolhos Islands di Samudra Hindia menunjukkan bahwa ketahanan terhadap pemutihan 3,7 kali lebih tinggi dari perkiraan, dengan kemampua bertahan hampir empat kali lebih lama di bawah tekanan panas ekstrem.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sekelompok terumbu karang di dekat Negara Bagian Australia Barat (Western Australia/WA) di Australia menunjukkan ketahanan luar biasa terhadap gelombang panas laut ekstrem, memberikan secercah harapan langka bagi kelangsungan hidup terumbu karang di tengah perubahan iklim, ungkap penelitian baru.
Para peneliti dari Universitas James Cook (James Cook University/JCU) Australia dan sejumlah institusi mitranya menemukan pemutihan karang yang minim di Kepulauan Houtman Abrolhos (Houtman Abrolhos Islands/HAI) terlepas dari gelombang panas laut yang masif dan mematikan sepanjang 2025 yang mengakibatkan pemutihan dan kematian karang secara luas di sepanjang garis pantai WA, ungkap pernyataan JCU yang dirilis pada Kamis (21/5).
"Suhu telah melampaui batas normal selama delapan bulan ... yang kami sebut sebagai kondisi katastropik. Namun, saat kami meneliti terumbu karang HAI, nyaris tidak ada atau hanya ada sedikit tanda-tanda pemutihan ... Itu sungguh di luar dugaan," ujar penulis utama studi tersebut, Kate Quigley, research fellow di JCU.
Uji laboratorium terhadap tiga spesies karang berbeda dari terumbu karang HAI di Samudra Hindia di lepas pantai WA menunjukkan bahwa ketahanan terhadap pemutihan 3,7 kali lebih tinggi dari perkiraan, dengan karang mampu bertahan hampir empat kali lebih lama di bawah tekanan panas ekstrem.
Ambang batas penurunan efisiensi fotosintesis tercatat hingga 22 kali lebih tinggi dari perkiraan, menurut temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology.
Peningkatan efisiensi fotosintesis tersebut dapat dikaitkan dengan alga simbiotik yang membantu mempertahankan produksi energi karang, serta lokasi area itu yang berada di pertemuan antara perairan beriklim sedang dan tropis, kata Quigley.
Para peneliti memperkirakan bahwa hanya ada kurang dari 10 area perlindungan semacam itu di seluruh dunia dan menekankan perlunya memprioritaskan pelestariannya beserta dengan pelaksanaan upaya untuk menekan emisi gas rumah kaca.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

LIPI temukan empat spesies kumbang baru di Maluku Utara
Indonesia
•
13 Feb 2020

Ilmuwan China akan eksplorasi material dan teknologi konstruksi Bulan
Indonesia
•
11 May 2023

China capai terobosan dalam produksi listrik tenaga panas laut
Indonesia
•
14 Sep 2023

Perubahan iklim dorong deteksi DNA teritip invasif di Arktik Kanada
Indonesia
•
15 Sep 2025


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
