Ilmuwan China temukan gen baru di balik penyakit darah langka

Para tenaga kesehatan menyemangati seorang anak berusia 4 tahun penderita atrofi otot tulang belakang setelah diberi injeksi Spinraza di sebuah rumah sakit di Zaozhuang, Provinsi Shandong, China timur, pada 1 Januari 2022. China sedang berusaha keras meningkatkan diagnosis dan pengobatan pada penyakit langka. (Xinhua/Guo Xulei)
Penyakit darah langka langka ini biasanya terjadi pada anak usia dini, dengan transplantasi sel induk menjadi satu-satunya terapi kuratif definitif.
Jakarta (Indonesia Window) – Para ilmuwan China mengidentifikasi sebuah gen baru, yang apabila kekurangan gen tersebut dapat menyebabkan sebuah penyakit darah langka dan mengancam jiwa bernama hemophagocytic lymphohistiocytosis (HLH).Penyakit ini biasanya terjadi pada anak usia dini, dengan transplantasi sel induk menjadi satu-satunya terapi kuratif definitif. Beberapa studi sebelumnya telah menemukan 12 gen berisiko, tetapi hanya dapat menjelaskan sebagian kecil dari kasus HLH.Kini sebuah studi baru, dengan temuan yang diterbitkan dalam Journal of Hematology & Oncology, dapat membantu para dokter untuk menyaring populasi berisiko tinggi dari penyakit genetik tersebut dan meningkatkan diagnosis dini serta tingkat pengobatan.Dengan menggunakan teknologi pengurutan genom menyeluruh (whole genome sequencing), para peneliti dari Institut Genomik Beijing (Beijing Institute of Genomics) di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) dan Rumah Sakit Anak Beijing dari Capital Medical University, mengidentifikasi sebuah gen baru bernama NBAS pada pasien China yang menderita HLH.Menurut penelitian itu, yang mencakup 237 kasus, perkiraan frekuensi varian NBAS di antara pasien anak adalah 2,11 persen, menjadikannya gen kedua yang paling sering bermutasi. PRF1, gen pertama yang paling sering bermutasi, memiliki tingkat mutasi 3,8 persen.Penelitian ini menjadi contoh terbaru dari upaya penelitian intensif China untuk menyelamatkan jutaan pasien dengan penyakit langka di negara itu.Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Temuan baru di Guizhou China tunjukkan aktivitas manusia prasejarah lebih dari 55.000 tahun silam
Indonesia
•
19 Jan 2024

Indonesia punya 12.000 jenis ngengat, jaga kesehatan vegetasi hutan
Indonesia
•
07 Oct 2020

Detektor plasma, alat pemantau di stasiun luar angkasa China
Indonesia
•
26 Aug 2022

Tim ilmuwan China susun peta terperinci baru tentang batuan Bulan
Indonesia
•
03 Nov 2022
Berita Terbaru

Pola makan vegan dan vegetarian mman bagi pertumbuhan bayi
Indonesia
•
10 Feb 2026

Hidrogen dan manufaktur hijau, kunci penting transisi energi rendah karbon
Indonesia
•
10 Feb 2026

Studi sebut perubahan iklim picu lonjakan infeksi serius di wilayah terdampak banjir
Indonesia
•
09 Feb 2026

Rusia luncurkan amunisi peledak jarak jauh 30 mm untuk cegat ‘drone’
Indonesia
•
07 Feb 2026
