Feature –  Di ujung harapan, teknologi AI China berikan harapan bagi pasien pankreas Indonesia

Foto tak bertanggal ini menunjukkan para dokter dari Rumah Sakit Changhai di Kota Shanghai, China timur, sedang melakukan operasi untuk Chen, seorang pasien penyakit pankreas asal Indonesia yang menjalani rawat inap di rumah sakit tersebut. (Xinhua)

Model stratifikasi risiko kanker pankreas berbasis AI pertama di dunia menggunakan CT nonkontras.

 

Shanghai, China (Xinhua/Indonesia Window) – Bagi Chen, warga Indonesia yang menderita penyakit pankreas kambuhan sejak 2022, menerima pengobatan canggih yang didukung teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Shanghai, China timur, terasa seperti ‘mendapat kesempatan kedua dalam hidup’.

Setelah kembali ke Shanghai untuk pemeriksaan ulang pascaoperasi satu bulan setelah menjalani pembedahan, Chen mengenang pengalamannya yang tak terlupakan tentang penderitaan serta keputusasaan sebelum datang ke China, hingga akhirnya melihat secercah harapan akan kehidupan baru.

Setelah didiagnosis menderita penyakit pankreas pada 2022, Chen mengunjungi beberapa rumah sakit terkemuka di Amerika Serikat (AS), Singapura, dan berbagai tempat lain, sambil berdoa agar suatu hari mendapatkan kesembuhan. Namun, Chen mulai merasa putus asa pada Juni 2025, saat sebuah rumah sakit di Singapura mendeteksi intraductal papillary mucinous neoplasm (IPMN) dalam kepala pankreasnya. Lampiran dokter tentang "kemungkinan terjadinya kanker" seperti menjerumuskan Chen ke dalam jurang kesedihan.

Dalam keputusasaan, sambil berpegang pada secercah harapan terakhirnya, Chen berhasil menghubungi Direktur Li Gang dari Departemen Bedah Hepatobilier, Pankreas, dan Limpa di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Kedokteran Angkatan Laut (Rumah Sakit Changhai Shanghai) melalui berbagai jalur. Sejumlah salinan laporan medis yang telah diterjemahkan dan hasil pencitraan tomografi terkomputasi (CT), yang membawa harapan seluruh keluarga, melintasi perbatasan negara hingga tiba di meja Direktur Li Gang.

Kanker pankreas, yang dikenal sebagai ‘raja segala kanker’ karena gejala awalnya yang tersembunyi serta tingkat bertahan hidup lima tahun yang sangat rendah, masih belum memiliki metode skrining dan diagnosis dini yang efisien di seluruh dunia. Alih-alih terburu-buru mengambil kesimpulan, Direktur Li Gang segera mengaktifkan mekanisme konsultasi multidisipliner dan bersama tim yang dipimpin oleh Cao Kai, associate professor dari Departemen Diagnosis Radiologi, memperkenalkan model mahadata (big data) mutakhir berbasis AI untuk melakukan penilaian secara presisi.

Dikembangkan secara mandiri oleh Rumah Sakit Changhai, model ini merupakan model stratifikasi risiko kanker pankreas berbasis AI pertama di dunia yang menggunakan CT nonkontras. Selain mampu mengatasi secara akurat masalah utama terkait gejala awal yang sulit dideteksi serta tingginya kekeliruan diagnosis pada kanker pankreas, model ini dapat mewujudkan stratifikasi risiko kanker pankreas yang noninvasif, berbiaya rendah, dan berskala besar. Model ini juga menyediakan dukungan AI yang krusial bagi intervensi klinis dini serta diagnosis dan pengobatan terstandar.

Keajaiban terjadi saat hasil pemeriksaan muncul, yang menyatakan IPMN dalam tubuh Chen kemungkinan besar merupakan lesi jinak dan ancaman tersebut hampir seluruhnya dapat diatasi melalui operasi.

Dengan hati yang dipenuhi harapan dan juga rasa cemas, Chen terbang ke Shanghai dan menjalani operasi yang mengubah nasibnya.

Di ruang operasi, waktu terus berjalan, dan sebuah pertarungan senyap melawan penyakit berlangsung di atas meja bedah. Setelah lebih dari enam jam melewati proses operasi yang berat, jaringan yang sakit berhasil diangkat sepenuhnya. Hasil pemeriksaan patologi bagian beku intraoperatif memberikan kelegaan besar: tumor ganas berhasil disingkirkan! Hal ini berarti organ vital Chen, seperti kepala pankreas, lambung, dan duodenum, tetap terjaga utuh, dan ‘bom waktu’ di dalam tubuhnya berhasil diangkat dengan sukses.

"Ternyata teknologi AI di China dan keterampilan para dokter China yang memberi saya kehidupan baru," seru Chen usai menjalani pembedahan.

Chen belum lama ini menjalani pemeriksaan ulang di Shanghai pada 3 Maret, bertepatan dengan Hari Cap Go Meh di China. Menurut para dokter, hasil pemeriksaan terbaru ini menunjukkan kondisi tubuh Chen stabil dan sehat. Mereka juga memberi beberapa rekomendasi tentang pola hidup sehat setelah pulang ke rumah.

"Saya sangat senang dan berterima kasih kepada para dokter, serta bersyukur mendapat manfaat dari teknologi medis AI di sini," ungkap Chen. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait