Peneliti China ungkap hukum kolonisasi biotik gua di wilayah Asia Timur yang beriklim subtropis

kolonisasi gua asia timur
Foto dari udara yang diabadikan pada 1 April 2020 ini memperlihatkan air terjun di Taman Nasional Wuyishan, Provinsi Fujian, China timur. Gunung Wuyi memiliki representasi ekosistem hutan zona subtropis pertengahan yang komprehensif. Taman itu menawarkan beragam kelompok tanaman berkat ketinggiannya yang bervariasi. (Xinhua/Jiang Kehong)
Advertiser Popin

“Kawasan Asia Timur yang beriklim subtropis memiliki bentang alam karst terbesar di dunia dengan banyak kolonisasi gua kuno, yang menyimpan keanekaragaman tinggi organisme penghuni gua dan dianggap sebagai pusat keanekaragaman hayati.”

 

Jakarta (Indonesia Window) – Para peneliti China berhasil mengungkap hukum kolonisasi biotik organisme gua di wilayah Asia Timur yang beriklim subtropis, menurut Institut Botani yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).

Gua menjadi rumah bagi biota-biota unik dan rapuh dengan tingkat endemisme yang tinggi. 

Kawasan Asia Timur yang beriklim subtropis memiliki bentang alam karst terbesar di dunia dengan banyak gua kuno, yang menyimpan keanekaragaman tinggi organisme penghuni gua dan dianggap sebagai pusat keanekaragaman hayati, kata Wang Wei, kepala tim peneliti.

Melalui analisis filogenetik, waktu diferensiasi dan biogeografi pada 28 tumbuhan, hewan, dan jamur di gua-gua subtropis di Asia Timur, mereka menemukan bahwa 88 persen peristiwa kolonisasi gua terjadi setelah batas Oligosen-Miosen, dan organisme dari hutan sekitar menjadi sumber utama keanekaragaman hayati gua di wilayah Asia Timur yang beriklim subtropis.

Para peneliti juga menemukan sembilan kejadian di mana organisme kembali ke permukaan dari biota gua. “Fenomena ini menunjukkan bahwa gua bukan hanya suaka bagi spesies hutan, tetapi juga sumber daya untuk restorasi ekosistem hutan,” ujar Wang.

Studi ini telah diterbitkan di jurnal The Proceedings of the National Academy of Sciences.

Sumber: Xinhua

Laporan: Redaksi

Advertiser Popin

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here