Menlu China sebut AS harus ambil pelajaran dari hubungan China-AS yang rusak parah

Hubungan China-AS kritis
Anggota Dewan Negara sekaligus Menteri Luar Negeri China Wang Yi memaparkan cara tepat bagi China dan Amerika Serikat untuk mengembangkan hubungan di era baru saat menyampaikan pidato utama di kantor pusat Asia Society di New York, Amerika Serikat, pada 22 September 2022. (Xinhua/Liu Jie)
Advertiser Popin

“Hubungan China-AS berada di titik kritis, dan sangat penting bagi kedua belah pihak, dengan sikap bertanggung jawab terhadap dunia, sejarah, dan masyarakat di kedua negara, untuk mengadopsi pendekatan yang tepat demi mewujudkan kerukunan antara dua negara besar, serta berupaya untuk menghentikan kemerosotan lebih lanjut pada hubungan bilateral dan menstabilkannya kembali.”

 

New York City, AS (Xinhua) – Anggota Dewan Negara sekaligus Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi pada Jumat (23/9) mengatakan kepada Menlu Amerika Serikat (AS) Antony Blinken bahwa hubungan China-AS saat ini dalam kondisi rusak parah, dan AS harus mengambil pelajaran dari kondisi itu.

Wang menyampaikan pernyataan tersebut dalam pembicaraan mereka di lokasi Misi Tetap Republik Rakyat China untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kedua diplomat itu turut menghadiri Sidang Majelis Umum PBB ke-77 yang sedang berlangsung.

Wang mengatakan bahwa hubungan China-AS berada di titik kritis, dan sangat penting bagi kedua belah pihak, dengan sikap bertanggung jawab terhadap dunia, sejarah, dan masyarakat di kedua negara, untuk mengadopsi pendekatan yang tepat demi mewujudkan kerukunan antara dua negara besar, serta berupaya untuk menghentikan kemerosotan lebih lanjut pada hubungan bilateral dan menstabilkannya kembali.

Wang secara spesifik berfokus pada pelanggaran-pelanggaran terbaru yang dilakukan pihak AS terkait masalah Taiwan, secara komprehensif menguraikan posisi resmi pihak China. “Masalah Taiwan merupakan inti dari kepentingan inti China, dan hal itu memiliki bobot yang signifikan di dalam benak rakyat China,” demikian Wang menekankan.

“Misi kami adalah untuk menjaga kedaulatan nasional dan integritas teritorial, dan sama sekali tidak ada ambiguitas tentang hal itu,” ujar Wang kepada Blinken.

Wang mengingatkan Blinken bahwa AS telah membuat komitmen politik yang jelas kepada China mengenai masalah Taiwan, termasuk tiga komunike bersama China-AS yang dicapai beberapa dekade lalu dan pernyataan yang berulang kali disampaikan oleh pemerintah AS saat ini bahwa pihaknya tidak mendukung “kemerdekaan Taiwan.”

Namun, apa yang telah dilakukan AS bertentangan dengan komitmennya, dalam berbagai upaya untuk merusak kedaulatan nasional dan integritas teritorial China, menghalangi tujuan besar reunifikasi damai China, dan terlibat dalam apa yang disebut sebagai strategi “menggunakan Taiwan untuk mengekang China,” ujar Wang. Dia juga menambahkan bahwa pihak AS bahkan secara terbuka mengklaim akan membantu melindungi Taiwan, yang telah mengirimkan sinyal yang sangat berbahaya dan salah.

AS harus kembali mematuhi tiga komunike China-AS dan prinsip Satu China sebagaimana adanya, menegaskan kembali kebijakan Satu China-nya tanpa elemen tambahan, dan dengan tegas menyatakan penolakan jelas terhadap segala bentuk aktivitas separatis “kemerdekaan Taiwan,” sebut Wang.

Masalah Taiwan merupakan urusan internal China, kata Wang, dan AS sama sekali tidak berhak ikut campur dalam proses penyelesaian masalah Taiwan. Sikap China terkait penyelesaian masalah Taiwan selalu konsisten dan tidak ambigu, yaitu bahwa China akan terus berpegang pada prinsip-prinsip dasar “reunifikasi damai dan satu negara, dua sistem.”

Wang menekankan bahwa sangat tidak mungkin bagi resolusi damai untuk berjalan beriringan dengan “kemerdekaan Taiwan.” Semakin aktivitas “kemerdekaan Taiwan” merajalela, semakin kecil kemungkinan untuk menyelesaikan masalah Taiwan secara damai, kata Wang, seraya menambahkan bahwa perdamaian lintas Selat hanya dapat benar-benar dipertahankan dengan secara tegas menentang dan menghalangi aktivitas “kemerdekaan Taiwan.”

China dan AS memiliki kepentingan yang sama dan perbedaan mendasar secara bersamaan, sebuah kenyataan yang tidak akan berubah, ujar Wang. China dan AS menyadari pada awal interaksi di antara keduanya bahwa kedua negara itu memperlakukan satu sama lain dengan sistem yang berbeda, yang tidak menjadi penghalang untuk menjalin kerja sama bilateral berdasarkan kepentingan bersama, dan juga tidak boleh menjadi alasan bagi konfrontasi atau konflik di antara kedua negara.

Wang menyatakan harapan bahwa pihak AS akan memperbaiki persepsinya tentang China, serta memikirkan kembali dan mengubah kebijakan China-nya yang diarahkan oleh pengekangan dan penindasan. Washington harus mengurungkan niatnya untuk berurusan dengan China dari posisi yang lebih kuat, serta tidak perlu selalu mencari cara untuk mengekang perkembangan China atau terus mengandalkan intimidasi sepihak.

AS harus menciptakan lingkungan yang kondusif untuk memulai kembali pertukaran normal antara kedua belah pihak, dan mendukung kembalinya hubungan China-AS ke jalur pengembangan yang sehat dan stabil, sebut Wang.

Blinken mengatakan bahwa hubungan AS-China berada dalam situasi yang sulit, dan membawa hubungan bilateral kembali ke jalur yang stabil adalah tindakan yang sejalan dengan kepentingan kedua belah pihak.

Seraya menyebutkan bahwa AS dan China berhasil mengatasi perbedaan mereka di masa lalu, Blinken mengatakan bahwa pihak AS bersedia untuk terlibat dalam komunikasi dan dialog yang jujur dengan China, menghindari kesalahpahaman dan salah perhitungan, serta menemukan jalan untuk ke depannya.

Blinken juga menegaskan kembali bahwa pihak AS tidak berniat untuk memicu “Perang Dingin baru,” tidak mengubah kebijakan Satu China-nya, dan tidak mendukung “kemerdekaan Taiwan.”

Wang dan Blinken juga bertukar pandangan terkait situasi Ukraina. Kedua belah pihak menganggap pertemuan itu bersifat jujur, konstruktif, serta penting, dan mereka sepakat untuk menjaga komunikasi.

Laporan: Redaksi

Advertiser Popin

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here