Harga batu bara acuan Agustus tembus 130,99 dolar AS per ton

Harga batu bara acuan Agustus tembus 130,99 dolar AS per ton
Ilustrasi. Harga Batu bara Acuan (HBA) bulan Agustus 2021 naik hingga 130,99 dolar AS per ton, atau tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir, menyusul meningkatnya permintaan batu bara di China, Jepang dan Korea Selatan. (Kementerian ESDM)

Jakarta (Indonesia Window) – Harga Batu bara Acuan (HBA) bulan Agustus 2021 naik hingga 130,99 dolar AS per ton, atau tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir, menyusul meningkatnya permintaan batu bara di China, Jepang dan Korea Selatan.

“Melambungnya harga batu bara dunia dipengaruhi musim penghujan yang ekstrem di China, yang mengganggu kegiatan produksi dan transportasi batu bara di negara tersebut. Di lain pihak, kebutuhan batu bara untuk keperluan pembangkit listrik telah melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik negara tersebut,” ujar Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Agung Pribadi, di Jakarta, Selasa (3/8).

Agung menambahkan, menguatnya harga batu bara juga didorong meningkatnya permintaan batu bara dari Jepang dan Korea Selatan. Sebelumnya, pada Februari 2021 rekor HBA tertinggi tercatat sebesar 127,05 dolar AS per ton.

Sempat melandai pada Februari-April 2021, HBA mencatatkan kenaikan beruntun pada periode Mei-Juli 2021 hingga menyentuh angka 115,35 dolar AS per ton di Juli 2021.

Kenaikan tersebut terus terjadi hingga Agustus 2021 dengan mencatatkan rekor tertinggi baru.

HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6.322 kcal/kg GAR, total moisture 8 persen, total sulphur 0,8 persen, dan ash 15 persen.

Ada dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, pasokan (supply) dan permintaan (demand).

Faktor turunan supply dipengaruhi oleh cuaca, teknis tambang, kebijakan negara pemasok, hingga teknis di rantai pasokan seperti kereta, tongkang, dan loading terminal.

Sementara faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun, berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG (gas alam cair), nuklir, dan tenaga air.

HBA Agustus akan digunakan untuk menentukan harga batu bara di titik serah penjualan secara Free On Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here