
Israel tuding Hamas hambat perundingan gencatan senjata, Hamas bantah dan sebut utusan AS "bias"

Warga Palestina mengantre untuk menerima makanan gratis di sebuah pusat distribusi makanan di kamp pengungsi al-Shati, Gaza City bagian barat, pada 28 Mei 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Hamas menuntut pembebasan sandera dalam tiga tahap selama gencatan senjata 60 hari, akses bantuan yang lebih luas di seluruh Gaza, serta adanya jaminan bahwa kesepakatan tersebut akan mengarah pada gencatan senjata permanen.
Yerusalem, Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu (31/5) mengatakan bahwa Israel telah menerima proposal terbaru yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) untuk kesepakatan pembebasan sandera, sementara menuduh Hamas menghambat kemajuan dengan menolak kerangka kerja tersebut."Tanggapan Hamas tidak dapat diterima dan membuat situasi kembali mundur," demikian bunyi pernyataan tersebut, mengutip utusan khusus AS Steve Witkoff. "Israel akan melanjutkan aksinya untuk memulangkan sandera kami dan mengalahkan Hamas."Di sisi lain, Hamas mengatakan pihaknya telah menyampaikan tanggapan "positif" terhadap rencana yang didukung AS tersebut, tetapi meminta amandemen, termasuk tuntutan gencatan senjata jangka panjang.Di platform media sosial X, Witkoff menggambarkan balasan Hamas itu sebagai suatu hal yang "sama sekali tidak dapat diterima" dan mendesak Hamas untuk menerima kerangka kerja tersebut guna membuka jalan bagi pembicaraan dalam waktu dekat yang menurutnya dapat dimulai paling cepat pekan depan."Itulah satu-satunya cara kita dapat menyepakati kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari dalam beberapa hari ke depan," tutur Witkoff. Kesepakatan tersebut akan memungkinkan pembebasan setengah dari sandera yang tersisa, termasuk sandera yang telah meninggal, dan membuka kesempatan untuk negosiasi mengenai gencatan senjata permanen, imbuhnya.
Warga yang mengungsi terlihat di sebuah tempat penampungan sementara di area pelabuhan di Gaza City bagian barat pada 21 Mei 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Sebuah tank Israel terlihat di dekat perbatasan selatan Israel dengan Gaza pada 20 Mei 2025. (Xinhua/Jamal Awad)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Laporan: Dampak krisis iklim memburuk di Jerman
Indonesia
•
29 Nov 2023

49 negara nikmati visa wisata Saudi untuk pertama kali
Indonesia
•
27 Sep 2019

Menlu Iran: Teheran berhak merespons serangan Israel
Indonesia
•
28 Oct 2024

Taiwan gabung blok perdagangan saingan, tandingi RCEP
Indonesia
•
17 Nov 2020


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
