Tim ilmuwan temukan ‘Korus Luar Angkasa’ jauh dari Bumi

Ilustrasi. (Greg Rakozy on Unsplash)
Gelombang elektromagnetik dengan karakteristik frekuensi yang mirip dengan kicauan burung di pagi hari, dikenal sebagai gelombang korus, merupakan salah satu fluktuasi elektromagnetik yang paling intens di luar angkasa. Gelombang tersebut secara luas dipercaya hanya terjadi di dekat wilayah medan magnet dipol Bumi.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti internasional yang dipimpin oleh para ilmuwan China menemukan gelombang korus yang berjarak lebih dari 160.000 km dari Bumi. Ini merupakan sebuah fenomena luar angkasa yang sebelumnya diyakini hanya terjadi di dekat wilayah medan magnet dipol Bumi, demikian menurut sebuah makalah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature pada Kamis (23/1)."Kami mengamati gelombang korus dengan frekuensi di bawah 100 Hz. Ketika kami mengubah gelombang korus menjadi output audio, kami memperoleh sepotong 'korus luar angkasa' yang dapat kami dengar," ungkap Liu Chengming di Universitas Beihang, penulis pertama makalah ini, menggambarkan suara tersebut seperti "kicauan burung."Medan magnet Bumi meluas hingga ke luar angkasa. Ketika partikel bermuatan di alam semesta melewati medan magnet, partikel tersebut dapat membangkitkan gelombang korus, atau gelombang elektromagnetik dengan karakteristik frekuensi yang mirip dengan kicauan burung di pagi hari. Sebagai salah satu fluktuasi elektromagnetik yang paling intens di luar angkasa, gelombang korus menjadi fokus utama dalam penelitian fisika antariksa. Gelombang tersebut secara luas dipercaya hanya terjadi di dekat wilayah medan magnet dipol Bumi.Tim yang terdiri dari para peneliti dari China, Amerika Serikat (AS), dan Swedia ini menganalisis data dalam jumlah besar yang dikumpulkan oleh Magnetospheric Multiscale Mission, sebuah misi penyelidikan Matahari-Bumi. Mereka menemukan gelombang korus yang berjarak lebih dari 160.000 km dari Bumi, dan memberikan penjelasan teoretis bahwa interaksi gelombang-partikel nonlinier adalah penyebabnya.Gelombang korus berperan penting dalam upaya untuk memahami pertanyaan-pertanyaan fundamental di bidang luar angkasa dan memiliki implikasi praktis yang luas. Gelombang korus merupakan kunci percepatan elektron berenergi tinggi di sabuk radiasi Bumi dan pembentukan aurora pulsating di daerah kutub. Gelombang korus juga dapat memengaruhi perubahan cuaca antariksa, yang membahayakan kestabilan pengoperasian pesawat luar angkasa dan kesehatan para astronaut.Temuan ini memberikan dukungan teoretis yang penting untuk pemodelan dan prakiraan cuaca antariksa yang tepat, menurut penelitian tersebut.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Situs permukiman manusia Zaman Neolitikum ditemukan di China utara
Indonesia
•
21 Oct 2024

Riset BRIN ungkap emisi karbon lamun Indonesia, Jawa dan Sumatra tertinggi
Indonesia
•
16 Jan 2026

China punya 1,96 juta lebih BTS 5G aktif
Indonesia
•
10 Sep 2022

COVID-19 – Dokter: Vaksinasi bantu blokir mutasi virus corona
Indonesia
•
06 Aug 2021
Berita Terbaru

Studi sebut perubahan iklim picu lonjakan infeksi serius di wilayah terdampak banjir
Indonesia
•
09 Feb 2026

Rusia luncurkan amunisi peledak jarak jauh 30 mm untuk cegat ‘drone’
Indonesia
•
07 Feb 2026

Satelit BeiDou sediakan layanan komunikasi darurat tanpa cakupan seluler
Indonesia
•
07 Feb 2026

24.000 kematian di AS terkait dengan polusi asap karhutla
Indonesia
•
07 Feb 2026
