Fokus Berita – Mikroplastik ditemukan di kedalaman 2.450 meter, berpotensi masuk rantai makanan manusia

Ilustrasi. (Naja Bertolt Jensen on Unsplash)

Mikroplastik telah mencapai kedalaman hingga sekitar 2.450 meter di jalur utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau Indonesian Throughflow (ITF), sistem arus laut yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Ancaman mikroplastik ternyata tidak hanya berada di permukaan laut. Penelitian terbaru menemukan partikel plastik berukuran sangat kecil ini telah mencapai kedalaman hingga sekitar 2.450 meter di jalur utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau Indonesian Throughflow (ITF), sistem arus laut yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Marine Pollution Bulletin melalui artikel berjudul ‘Vertical Distribution of Microplastic Along the Main Gate of Indonesian Throughflow Pathways’ tahun 2024.

Studi ini dipimpin oleh peneliti Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Corry Yanti Manullang, bersama tim kolaborasi internasional dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan China.

Arlindo merupakan jalur arus laut strategis yang mengalir melalui sejumlah selat penting di Indonesia, seperti Selat Makassar, Selat Alas, dan Selat Lombok. Arus ini tidak hanya membawa massa air, garam, dan nutrien, tetapi juga berpotensi mengangkut partikel mikroplastik ke berbagai lapisan laut.

“Arlindo menghubungkan dua samudra besar, Pasifik dan Hindia. Selain membawa massa air dan nutrien, arus ini juga dapat membawa partikel kecil seperti mikroplastik,” kata Corry, dikutip dari situs jejaring BRIN, pada Sabtu.

Selama ini, sebagian besar penelitian mengenai Arlindo berfokus pada aspek fisik laut, seperti suhu, salinitas, dan dinamika arus. Sementara distribusi mikroplastik di kolom air, terutama hingga kedalaman laut dalam, masih jarang diteliti.

Menurut Corry, penelitian ini menjadi salah satu studi awal yang mengkaji penyebaran vertikal mikroplastik hingga ke laut dalam di jalur Arlindo.

“Sebagian besar penelitian mikroplastik di Indonesia masih berfokus pada lapisan permukaan atau wilayah pesisir. Kajian hingga laut dalam masih sangat terbatas,” ujarnya.

Sampel dari kedalaman ribuan meter

Penelitian tersebut dilakukan melalui ekspedisi oseanografi pada Januari hingga April 2021 dalam program kolaborasi internasional TRIUMPH. Pengambilan sampel dilakukan di 11 stasiun penelitian yang membentang dari Selat Makassar hingga Selat Lombok.

Tim peneliti mengumpulkan 92 sampel air laut dari berbagai kedalaman, mulai dari lima meter hingga sekitar 2.450 meter di bawah permukaan laut.

Sampel diambil menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD (Conductivity, Temperature, Depth), sehingga memungkinkan peneliti mengambil air pada kedalaman yang telah ditentukan secara presisi.

“Botol sampel diturunkan ke laut, lalu ditutup pada kedalaman tertentu, misalnya 50 meter, 200 meter, hingga ribuan meter,” jelas Corry.

Dari total 872 liter air laut yang dianalisis, tim peneliti menemukan 924 partikel mikroplastik dengan rata-rata konsentrasi sekitar 1,062 partikel per liter. Mikroplastik ditemukan di seluruh lokasi penelitian, termasuk pada kedalaman lebih dari dua kilometer.

Analisis juga menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat atau fiber, yang umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis.

“Pakaian yang kita gunakan juga dapat menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat kecil dari kain sintetis bisa terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” katanya.

Melalui analisis spektroskopi Raman, tim peneliti mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik, di antaranya polyester, polypropylene, dan polyurethane, yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, serta bahan industri.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa laut dalam berpotensi menjadi lokasi akumulasi mikroplastik.

“Pada kedalaman tertentu, arus Arlindo cukup kuat sehingga partikel plastik dapat terbawa dan tersebar ke berbagai lapisan air,” ujar Corry.

Mikroplastik masuk rantai makanan

Selain meneliti distribusi mikroplastik di laut, tim peneliti juga mengkaji kemungkinan partikel tersebut telah masuk ke dalam rantai makanan.

Dalam penelitian lain yang dipublikasikan di jurnal Sains Malaysiana berjudul ‘Ingestion of Microplastics in the Planktonic Copepod from the Indonesian Throughflow Pathways’ tahun 2024, tim menemukan mikroplastik dalam tubuh organisme zooplankton kecil bernama kopepoda di jalur Arlindo.

Kopepoda merupakan salah satu jenis zooplankton paling melimpah di laut dan menjadi sumber makanan penting bagi berbagai jenis ikan.

Dalam penelitian tersebut, sekitar 6.000 individu kopepoda dianalisis dari beberapa lokasi di jalur Arlindo. Hasilnya, sebanyak 133 partikel mikroplastik ditemukan di dalam tubuh organisme tersebut.

Rata-rata tingkat konsumsi mikroplastik tercatat sekitar 0,022 partikel per individu, atau setara dengan satu partikel plastik pada setiap 45 kopepoda.

“Kopepoda tidak dapat membedakan makanan alami dengan partikel plastik. Apa pun yang lewat di depannya akan ditangkap dan dimakan,” kata Corry.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kopepoda berukuran lebih besar cenderung mengandung lebih banyak mikroplastik dibandingkan yang berukuran lebih kecil.

Masuknya mikroplastik ke tubuh kopepoda menjadi perhatian serius karena organisme ini merupakan sumber makanan utama bagi banyak spesies ikan.

“Kopepoda dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan yang lebih besar, hingga akhirnya ikan tersebut dikonsumsi manusia. Artinya, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia,” jelasnya.

Tantangan penelitian laut dalam

Corry menambahkan bahwa penelitian mikroplastik di laut Indonesia masih perlu terus dikembangkan, terutama di wilayah laut dalam.

Sekitar 70 persen wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter, sehingga ekosistem laut dalam masih relatif kurang dipelajari.

“Temuan bahwa mikroplastik telah mencapai kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya terjadi di wilayah pesisir. Ini sudah menjadi masalah bagi ekosistem laut secara keseluruhan,” katanya.

Corry berharap hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi studi lanjutan mengenai pergerakan mikroplastik di laut dalam serta dampaknya terhadap organisme laut dan rantai makanan.

Selain itu, pemahaman yang lebih baik mengenai distribusi mikroplastik di laut juga dinilai penting untuk mendukung kebijakan pengelolaan sampah plastik serta upaya perlindungan ekosistem laut di Indonesia.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait