Fokus Berita – Guncangan energi akibat ketegangan di Timur Tengah berpotensi ubah prospek pasar global

Orang-orang memegang sebuah poster dalam aksi unjuk rasa untuk menentang serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran di Parliament Square di pusat kota London, Inggris, pada 28 Februari 2026. (Xinhua/Li Ying)

Guncangan energi saat ini dapat mendorong inflasi di Inggris dan zona euro kira-kira dua kali lipat dibandingkan di AS dan Kanada, yang mencerminkan ketergantungan Eropa yang lebih besar pada energi impor.

 

London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Harga minyak melonjak saat pasar global dibuka pada Senin (16/3) di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa eskalasi ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan energi dan berdampak pada pasar keuangan global.

Minyak mentah Brent, sebagai acuan internasional, naik 2,5 persen menjadi 105,61 dolar AS per barel pada perdagangan awal Asia, sementara patokan AS West Texas Intermediate naik hampir 3 persen menjadi 101,52 dolar AS. Brent telah naik lebih dari 40 persen sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu.

*1 dolar AS = 16.934 rupiah

Kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran bahwa gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia, serta rentetan serangan terhadap infrastruktur energi regional, berpotensi menekan pasokan energi global.

Dampak guncangan energi

Para analis menilai signifikansi dari krisis ini tidak hanya terletak pada volatilitas pasar jangka pendek, tetapi juga pada kemungkinan bahwa guncangan energi yang berkepanjangan dapat mengubah ekspektasi inflasi, prospek suku bunga, serta penetapan harga aset global.

Patrick Minford, profesor ekonomi terapan di Universitas Cardiff, mengatakan kepada Xinhua bahwa dampak ekonomi paling langsung dari krisis ini akan dirasakan melalui harga energi.

"Jika harga minyak tetap tinggi, hal itu akan memicu inflasi dan dapat memengaruhi ekspektasi terkait suku bunga," katanya.

Guncangan energi ini terjadi di waktu yang sangat krusial. Pekan depan akan menjadi pekan yang sibuk bagi bank-bank sentral utama, dengan Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank of Japan dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan. Pertemuan-pertemuan ini akan menjadi kesempatan resmi pertama bagi bank-bank sentral utama untuk menilai implikasi ekonomi dari krisis di Timur Tengah.

Menurut proyeksi Oxford Economics, guncangan energi saat ini dapat mendorong inflasi di Inggris dan zona euro kira-kira dua kali lipat dibandingkan di AS dan Kanada, yang mencerminkan ketergantungan Eropa yang lebih besar pada energi impor.

Implikasi ketidakpastian geopolitik

Di luar dampak makroekonomi, ketidakpastian geopolitik juga dapat memengaruhi bagaimana pasar keuangan menetapkan harga aset.

Hisham Farag, profesor keuangan di Universitas Birmingham, mengatakan risiko geopolitik biasanya muncul di pasar melalui premi risiko yang lebih tinggi.

"Ketika ketidakpastian meningkat, investor menuntut kompensasi yang lebih besar untuk risiko," kata Farag kepada Xinhua.

Menurut Farag, dampaknya kemungkinan tidak akan merata di seluruh industri. Sektor pertahanan, kedirgantaraan, dan energi mungkin akan mendapat manfaat dari meningkatnya permintaan dan pengeluaran pemerintah, sementara industri yang sangat bergantung pada stabilitas regional, termasuk pariwisata, logistik, dan real estat, dapat menghadapi tantangan yang lebih besar.

Krisis ini juga berpotensi memengaruhi pasar global melalui perilaku investasi dana kekayaan negara di Timur Tengah.

Menurut Farag, dana kekayaan negara Teluk secara kolektif mengelola aset senilai triliunan dolar AS dan memiliki investasi yang luas di seluruh dunia, termasuk sekitar 2 triliun dolar AS yang diinvestasikan di AS saja.

Jika ketegangan geopolitik berlanjut, dana-dana ini mungkin akan mengevaluasi kembali strategi investasi global mereka untuk memperkuat ketahanan portofolio.

Farag juga berpendapat pergeseran alokasi modal global dapat menciptakan peluang bagi beberapa emerging economy utama.

Menurutnya, negara-negara dengan pasar domestik yang besar dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang lebih kuat, termasuk China, Brasil, dan beberapa negara kaya sumber daya, berpotensi menarik lebih banyak investasi jangka panjang jika investor global mencari diversifikasi di luar pasar Barat tradisional.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait