
Fokus Berita – Dari Kereta Cepat Jakarta-Bandung hingga AI, ini alasan citra China menguat di dunia

Seorang staf melatih robot untuk menyortir berbagai barang di Maniformer, sebuah platform layanan data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) fisik, di Shanghai, China timur, pada 5 Agustus 2026. (Xinhua/Chen Haoming)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tiga tahun lalu, hasil jajak pendapat di Kanada menunjukkan kesenjangan tingkat persepsi positif yang sangat lebar antara Amerika Serikat (AS) dan China. Namun, pada musim semi tahun ini, tingkat persepsi positif terhadap China di Kanada telah melampaui AS, mencapai 44 persen dibandingkan 33 persen.
Perubahan tersebut menjadi sangat mencolok karena terjadi bukan di negara yang jauh, melainkan di salah satu sekutu dan mitra ekonomi terdekat AS.
Fenomena itu juga menjadi gambaran paling jelas dari perubahan yang jauh lebih luas. Dalam studi Pew Research Center pada Juli yang melibatkan 42.151 responden dewasa, China dipandang lebih positif daripada AS di 25 dari 36 negara yang disurvei.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran dalam hal apa yang kini diharapkan oleh sebagian besar dunia dari sebuah negara adidaya. Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, survei ini lebih dari sekadar pemeringkatan citra negara.
Temuan survei tersebut menunjukkan adanya preferensi yang semakin kuat terhadap kemitraan alih-alih tekanan, prediktabilitas alih-alih ketidakpastian, serta pembangunan bersama alih-alih persaingan yang bermentalitas menang-kalah (zero-sum).
Mengapa China menarik
Daya tarik China berawal dari pencapaiannya di dalam negeri. Selama lebih dari empat dekade, China berhasil mengangkat hampir 800 juta penduduk keluar dari kemiskinan.
China membangun jaringan kereta cepat terbesar di dunia, bertransformasi menjadi kekuatan manufaktur, serta muncul sebagai pemimpin global di bidang kendaraan listrik, energi terbarukan dan layanan digital.
Secara keseluruhan, berbagai pencapaian tersebut menggambarkan kisah yang lebih besar, bahwa China berulang kali mengubah rencana pembangunan jangka panjang menjadi perubahan yang dapat dirasakan masyarakat dalam hal pendapatan, mobilitas dan kehidupan sehari-hari.
Rekam jejak tersebut memiliki arti penting di tingkat internasional karena banyak negara sedang berupaya mengatasi masalah-masalah praktis yang sama dengan yang pernah dihadapi China, seperti bagaimana membangun infrastruktur, menciptakan lapangan kerja di sektor industri, mengurangi kemiskinan, serta membuat teknologi baru terjangkau.
Wang Lei, profesor di Beijing Normal University, mengatakan semakin banyak akademisi di luar negeri mempelajari rencana pembangunan lima tahunan China dan berusaha memahami logika tata kelola negara tersebut.
Menurut Wang, rekam jejak China dalam hal pembangunan yang stabil dan peningkatan taraf hidup masyarakat telah menjadi "kartu nama" nasional China yang paling meyakinkan. Dalam konteks ini, daya tarik China lebih bertumpu pada hasil yang dicapai daripada cara negara itu mendeskripsikan dirinya.
Pew tidak meminta responden menjelaskan alasan di balik pandangan mereka terhadap China secara keseluruhan.
Namun, di 17 negara berpendapatan menengah, lembaga tersebut menanyakan apakah China merupakan mitra yang dapat diandalkan, mempertimbangkan kepentingan negara-negara seperti negara mereka sendiri, serta berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas global.
Di Afrika Selatan, 72 persen responden menyebut China sebagai mitra yang andal. Sebanyak 64 persen menilai China menghormati kepentingan negara mereka, dan persentase yang sama menyatakan China berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas, meningkat dari 47 persen pada 2023.
Wang mengatakan bahwa temuan tersebut mencerminkan keinginan akan mitra yang kebijakannya tetap konsisten dan dapat diprediksi. Namun, keandalan lebih terbentuk bukan melalui retorika diplomatik, melainkan melalui pelaksanaan yang konsisten.
Sizo Nkala, peneliti di Pusat Kajian Afrika-China di Universitas Johannesburg, menyoroti jalur kereta, pelabuhan, pembangkit listrik dan jaringan komunikasi. "Kaum muda melihat semua hal ini."
Jalur Kereta China-Laos, Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Indonesia, serta Pelabuhan Chancay di Peru menjadikan kerja sama China terlihat nyata dalam skala nasional.
Sementara itu, berbagai program berskala lebih kecil, mulai dari teknologi Juncao, Lokakarya Luban, hingga tim medis China, memberi manfaat yang lebih langsung bagi masyarakat setempat.
China juga terus memperluas kerja sama pembangunan ke bidang teknologi baru.
Dalam Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia (World Artificial Intelligence Conference/WAIC) 2026 di Shanghai, China mengumumkan 5.000 peluang pelatihan AI bagi negara-negara berkembang selama lima tahun ke depan.
China juga bergabung dengan 28 negara lain dalam mendirikan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia (World Artificial Intelligence Cooperation Organization/WAICO).
Langkah tersebut menjawab kekhawatiran yang semakin besar di negara-negara berkembang bahwa negara yang kekurangan keahlian teknologi dan tidak memiliki suara dalam tata kelola AI berisiko semakin tertinggal. Inisiatif semacam itu juga memperluas makna kemitraan dengan China, dari sekadar membangun jalan dan pelabuhan menjadi berbagi pengetahuan yang dibutuhkan untuk tahap pembangunan berikutnya.
Pembukaan China yang lebih luas bagi wisatawan asing juga menciptakan jutaan interaksi kecil. Kebijakan transit bebas visa selama 240 jam kini tersedia bagi wisatawan dari 55 negara. Para pengunjung membanjiri feed media sosial dengan video-video tentang kereta cepat, sistem pembayaran digital, pasar malam, hingga kehidupan sehari-hari di jalanan China. Video-video semacam itu memang tidak dapat menjelaskan sendiri hasil jajak pendapat di 36 negara, tetapi memungkinkan masyarakat dunia untuk membandingkan kesan yang mereka miliki sebelumnya dengan pengalaman secara langsung.
Roger Tan Wei Jian, wakil sekretaris jenderal Asosiasi Interaksi Malaysia-China, mengatakan kunjungannya ke China memperlihatkan kepadanya sebuah negara yang berbagi pengalamannya dalam transformasi ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan inovasi, sekaligus tetap mendengarkan pendapat negara lain.
Hal yang membuatnya terkesan adalah upaya mencapai kemajuan melalui "pertukaran timbal balik, saling belajar, dan penciptaan peluang kerja sama".
Film animasi ‘Ne Zha 2’ dan gim video ‘Black Myth: Wukong’ menghadirkan kembali mitologi China dalam kemasan kontemporer. Sementara itu, penetapan Festival Musim Semi oleh UNESCO turut meningkatkan visibilitas tradisi itu di berbagai belahan dunia. Secara bersama-sama, berbagai ekspresi budaya tersebut menggambarkan China yang tidak hanya kuno, tetapi juga kreatif, modern dan terbuka.
Pandangan terhadap suatu negara berubah ketika negara yang semula terasa jauh mulai hadir secara nyata, ketika jalur kereta dibuka, sebuah perjalanan dimulai, teknologi digunakan, atau sebuah kisah diceritakan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Minyak naik di Asia setelah data menunjukkan stok AS turun mengejutkan
Indonesia
•
09 Feb 2022

Minyak merangkak naik, tetapi menuju penurunan pekanan yang tajam
Indonesia
•
11 Mar 2022

Sekitar 2.000 delegasi akan hadiri Forum Boao untuk Asia 2024
Indonesia
•
27 Mar 2024

Minyak turun, Prancis dan Iran sebut lebih dekat ke kesepakatan nuklir
Indonesia
•
17 Feb 2022


Berita Terbaru

Biaya usaha naik, perusahaan Singapura justru lirik Indonesia untuk perluas bisnis
Indonesia
•
07 Aug 2026

Leapmotor mulai produksi mobil listrik di Indonesia, target 34.000 unit per tahun
Indonesia
•
07 Aug 2026

Ekspor salak Indonesia ke China naik 208 persen, durian melesat 600 persen
Indonesia
•
07 Aug 2026

Fokus Berita – Mengapa produsen EV China kini lebih sibuk membangun pabrik daripada menjual mobil?
Indonesia
•
06 Aug 2026
