
FIFA bongkar 9 tren taktik Piala Dunia 2026, soroti ‘counter-pressing’ dan peran kiper

Pemain Norwegia Erling Haaland (kedua dari kanan) mengamati bola usai menembakkan bola ke gawang dalam pertandingan Grup I antara Norwegia melawan Irak di Piala Dunia FIFA 2026 di Boston Stadium di Boston, Amerika Serikat, pada 16 Juni 2026. (Xinhua/Huang Zongzhi)
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – FIFA menerbitkan laporan pascaturnamen Piala Dunia 2026 pada Jumat (2/10), yang menyebutkan bahwa turnamen tersebut menunjukkan tren "counter-pressing" dan perubahan peran kiper.
Laporan yang disusun oleh Kelompok Kajian Teknis (Technical Study Group) FIFA dan Departemen Wawasan Kinerja Sepak Bola (Football Performance Insights Department) FIFA ini menganalisis seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026 untuk mengidentifikasi inovasi taktis, evolusi peran pemain, serta jalur-jalur baru untuk meraih tingkat kesuksesan tertinggi dalam permainan.
Menurut FIFA, counter-pressing merupakan strategi bermata dua yang diidentifikasi sebagai salah satu tren kunci dalam kompetisi ini. "Tim-tim papan atas secara rutin berhasil mengubah kehilangan penguasaan bola menjadi peluang serangan langsung," kata FIFA.
Kiper semakin sering dilibatkan sebagai peserta aktif dalam fase membangun serangan dan sebagai solusi dalam mengatasi tekanan lawan, kata FIFA.
FIFA menyebut analisis ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun formula pasti untuk meraih kemenangan, serta menggambarkannya sebagai "jalur-jalur berseberangan untuk meraih kesuksesan," mulai dari tekanan tinggi yang agresif hingga pertahanan blok rendah yang disiplin dan transisi yang cepat.
Laporan itu juga mengeksplorasi turnamen tersebut di setiap fase permainan untuk mengidentifikasi sembilan topik utama, yang mencakup pembangunan serangan dengan formasi tiga bek, rotasi pemain sayap, pemanfaatan ruang lini dalam atau inside channel, pergerakan bola melalui pemain kunci, penerapan taktik high pressing, pemanfaatan taktik counter-pressing, blok pertahanan, transisi serangan, serta pengembangan peran penjaga gawang.
"Tujuannya bukan sekadar mendeskripsikan apa yang terjadi, melainkan untuk memahami mengapa sesuatu terjadi: bagaimana tim-tim menciptakan dan mengendalikan ruang, bagaimana mereka menyerang dan bertahan, bagaimana peran masing-masing pemain berkembang, serta bagaimana keputusan para pemain dan pelatih memengaruhi berbagai momen dalam pertandingan," kata Arsene Wenger, kepala pengembangan sepak bola global FIFA.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Satu abad memantau gunung api
Indonesia
•
17 Jan 2020

36 orang tewas dalam serangan Israel di Palmyra, Suriah
Indonesia
•
22 Nov 2024

Raih 201 emas, kontingen China capai target di Asian Games Hangzhou
Indonesia
•
10 Oct 2023

PBB siapkan rencana bantuan untuk jangkau 15 juta orang di Sudan
Indonesia
•
07 Feb 2024


Berita Terbaru

Buku anak dari China mulai dilirik penerbit Indonesia, apa yang menarik?
Indonesia
•
03 Oct 2026

Populasi penduduk 65 tahun ke atas di Korsel tembus 11 juta jiwa, 4 dari 10 warga diproyeksikan lansia pada 2050
Indonesia
•
01 Oct 2026

Sosok – Dari Bogor Hendra Wijaya gowes sejauh 15.234 km ke Makkah, tunaikan ibadah haji
Indonesia
•
30 Sep 2026

Telaah – Strategi komunikasi di medsos unik: Karakter X, YouTube, dan Facebook berbeda
Indonesia
•
30 Sep 2026
