
Feature – Universitas di Iran tetap jalankan misi pendidikan di tengah pengeboman

Foto yang diabadikan pada 7 April 2026 ini menunjukkan kondisi Universitas Teknologi Sharif yang rusak setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel di Teheran, Iran. (Xinhua/Shadati)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Puing-puing berserakan di lantai. Tanaman pot tertutup debu. Retakan bergerigi menjalar di dinding, memperlihatkan batu bata di baliknya.
Di ruangan itu, di tengah gemuruh ledakan, Alireza Zarei, kepala Pusat Teknologi Informasi di Universitas Teknologi Sharif di Teheran, tetap melanjutkan kegiatan mengajarnya.
Itulah yang dilihat oleh reporter Xinhua sehari setelah serangan udara Amerika Serikat (AS)-Israel menghantam universitas tersebut, salah satu institusi ilmiah terkemuka di Iran, yang mengakibatkan kerusakan parah pada gedung Pusat Teknologi Informasi dan sebuah substasiun gas di dekat masjid kampus.
Beberapa bagian kampus telah hancur lebur. Puing-puing yang berserakan, tulangan baja yang bengkok, dan kerangka bangunan yang terlihat membuat suasana di sana lebih menyerupai medan perang daripada kampus universitas.
Namun, bahkan di tengah kehancuran seperti itu, tempat tersebut tetap terasa sangat akademis. Buku teks dan dokumen berserakan di antara peralatan yang rusak. Dan di atas semua itu, terdengar suara para pengajar yang tetap tenang dan teguh saat melanjutkan perkuliahan mereka.
Zarei adalah salah satunya. Seiring berlanjutnya serangan AS dan Israel, banyak mahasiswa tidak lagi dapat datang ke kampus. Tidak ingin mereka tertinggal, Zarei mulai memberikan kelas algoritma daring khusus bagi mahasiswa pascasarjana, langsung dari ruang kelas tempat mereka dulu duduk bersama, meskipun kini telah berubah menjadi tumpukan puing-puing.
Bagi Masoud Tajrishi, presiden universitas tersebut, setiap bagian kampus itu dulunya terasa akrab. Namun, saat dia mengajak para reporter melihat kerusakan pascapengeboman, bahkan dia pun harus berhenti sesekali untuk mengenali apa yang sebelumnya berdiri di sana.
"Saya meminta kepada kalian dan berharap kalian tidak melihat kehancuran ini sebagai kemunduran atau kelemahan," ujar Tajrishi kepada para reporter, melainkan sebagai wujud "kebencian musuh" terhadap kemajuan ilmiah dan teknologi Iran.
"Kami, pihak universitas, bergerak bersama-sama menuju kemenangan besar ini," tambahnya. "Kami akan membangun kembali negara ini."
Universitas Teknologi Sharif bukanlah institusi pendidikan pertama yang menjadi sasaran dalam serangan-serangan terbaru AS dan Israel.
Menteri Ilmu Pengetahuan, Penelitian, dan Teknologi Iran, Hossein Simaei-Sarraf, pada Sabtu (4/4) mengatakan bahwa lebih dari 30 universitas di Iran telah menjadi sasaran serangan langsung oleh AS dan Israel sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Lima profesor universitas dan lebih dari 60 mahasiswa tewas dalam serangan tersebut, tambah Simaei-Sarraf, yang menyebut serangan terhadap infrastruktur Iran sebagai "kejahatan terhadap kemanusiaan".
Di tengah perjalanan mengelilingi kampus, sejumlah ledakan keras membuat kerumunan orang panik, sementara proyektil-proyektil yang berhasil dicegat melesat melintasi langit.
Berdiri di depan bendera nasional yang berkibar di samping podium yang hancur, Tajrishi dengan bangga menceritakan kemajuan universitas tersebut dalam bidang ilmu komputer dan kecerdasan buatan.
"Alasan utama musuh menargetkan infrastruktur sensitif ini adalah karena mereka tidak ingin kami mendapatkan akses ke teknologi ini," ujarnya, seraya menambahkan bahwa banyak warga Iran di luar negeri telah menghubungi universitas itu dan menawarkan bantuan dana untuk pemulihannya.
Menanggapi serangan asing ini, kata Tajrishi, para akademisi Iran akan merespons dengan cara mereka sendiri, di ranah ilmu pengetahuan dan pengetahuan, sama halnya seperti pihak lain yang merespons "di jalanan" dan "di medan perang".
Namun, untuk saat ini, respons yang paling jelas justru lebih sederhana: di dalam ruang kelas yang hancur akibat bom, di tengah debu dan dinding yang rusak, seorang pengajar membuka laptopnya dan memulai kembali.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Berbahayakah ransel bagi kesehatan anak Anda?
Indonesia
•
30 May 2022

Studi: Tulang prajurit Perang Waterloo 1815 dijual sebagai pupuk
Indonesia
•
19 Jul 2022

Australia Selatan akan kaji larangan media sosial untuk anak-anak
Indonesia
•
15 May 2024

Air Terjun Cijerai, “Antelope Canyon” di Geopark Pongkor
Indonesia
•
28 Jan 2020


Berita Terbaru

Feature – Si miskin Zhang Xue ciptakan sepeda motor balap yang menangkan kejuaraan dunia
Indonesia
•
08 Apr 2026

Feature – Mau anak lebih cerdas, ajari bahasa ibu sejak dini
Indonesia
•
06 Apr 2026

Feature – Warga Indonesia di China rasakan kedekatan dengan budaya Qingming
Indonesia
•
06 Apr 2026

Universitas Tadulako Palu terima hibah 4.000 buku dari penerbit China
Indonesia
•
06 Apr 2026
