Feature – Tambang hijau China olah limbah material pengotor batu bara

Foto menunjukkan timbunan material pengotor (gangue) di Tambang Batu Bara Changchunxing di Desa Dujiagou, Kota Datong, Provinsi Shanxi, China utara, pada 17 Maret 2026. (Xinhua/Ma Xiaojie)

Taiyuan, China (Xinhua/Indonesia Window) – Di Desa Dujiagou, Kota Datong, Provinsi Shanxi, China utara, deretan lereng material pengotor batu bara (coal gangue) yang tertata rapi kini mulai ditumbuhi tunas-tunas baru semak amorpha, yang berangsur-angsur membentuk penghalang (barrier) ekologis hijau. Setelah perencanaan dan restorasi ilmiah yang matang, tempat pembuangan limbah yang dahulu dipenuhi debu itu kini telah meninggalkan pemandangan lama tumpukan terbuka dan debu yang beterbangan.

Perubahan ini mencerminkan upaya berkelanjutan Shanxi dalam mengatasi tantangan lingkungan yang ditimbulkan oleh coal gangue, limbah padat yang dihasilkan dalam penambangan dan pengolahan batu bara.

Mulai 1 April 2026, Provinsi Shanxi akan secara resmi menerapkan Rencana Pelaksanaan Penimbunan Kembali Ekologis Material Pengotor Batu Bara Shanxi (Shanxi Coal Gangue Ecological Backfilling Implementation Plan), yang bertujuan untuk mengatasi tantangan lama dalam pembuangan material limbah skala besar.

Sebagai salah satu daerah penghasil batu bara utama di China, Shanxi menghadapi tekanan yang kian meningkat dalam beberapa tahun terakhir akibat besarnya volume coal gangue yang dihasilkan setiap tahun, bersama dengan timbunan lama yang sangat besar dan kapasitas pembuangan yang terbatas.

Tambang Batu Bara Changchunxing milik Shanxi Coking Coal Group pernah menghadapi tantangan serupa meskipun telah ditetapkan sebagai tambang hijau tingkat provinsi. Untuk mengatasi masalah tersebut, pihak perusahaan mengadopsi metode penimbunan kembali ekologis untuk coal gangue, menjajaki pendekatan baru untuk pengelolaan lingkungan berstandar tinggi.

Coal gangue, produk sampingan dari penambangan dan pencucian batu bara, sudah lama menimbulkan risiko lingkungan ketika ditumpuk di tempat terbuka. Timbunan limbah tersebut dapat menyebabkan polusi debu dan kontaminasi air tanah melalui pelindian, sementara metode pembuangan tradisional sering kali melibatkan biaya penanganan yang tinggi dan bahaya lingkungan yang persisten. Selama puluhan tahun, masalah ini terus menjadi beban ekologis yang berat bagi daerah-daerah penghasil batu bara.

Di beberapa lokasi pembuangan gangue di tambang tersebut, sejumlah fasilitas perlindungan lingkungan telah dibangun, termasuk sumur pemantauan, sistem drainase horizontal dan vertikal, bendungan penahan, serta struktur pelindung lereng.

Mesin-mesin berat seperti mesin pemuat (loader), mesin penggilas (roller), dan truk penyemprot air digunakan di lokasi, sementara gangue ditumpuk menggunakan metode berlapis, menutupi tanah lapis demi lapis dari bagian dalam ke bagian luar dan dari bawah ke atas.

Proyek ini juga memanfaatkan lembah alami untuk menyerap dan menyimpan gangue. Dengan memanfaatkan medan alami, sistem ini dilengkapi dengan langkah-langkah antirembesan, saluran drainase, dan fasilitas penutup tanah untuk memastikan keamanan lingkungan.

Menurut Wei Xin, kepala departemen perlindungan ekologi dan lingkungan Tambang Batu Bara Changchunxing, pendekatan ini tidak hanya meningkatkan stabilitas geologi dan secara efektif mencegah tanah longsor atau runtuhan, tetapi juga menahan pencemaran dari lindi (cairan limbah) dan menekan penyebaran debu, sehingga secara signifikan mengurangi risiko lingkungan dibandingkan dengan sistem pembuangan terbuka tradisional.

Upaya untuk mempromosikan penanganan coal gangue berstandar tinggi ini juga telah membawa manfaat ekonomi. Perusahaan tersebut melakukan penelitian mendalam tentang kebijakan terkait penggunaan dana restorasi lingkungan tambang dan aktif berkomunikasi dengan otoritas terkait, sehingga berhasil memasukkan biaya penanganan gangue ke dalam cakupan pendanaan tersebut.

Melalui inovasi kebijakan ini, biaya pembuangan coal gangue telah turun dari 47 yuan, atau sekitar 6,8 dolar AS, per ton menjadi 37 yuan, atau sekitar 5,4 dolar AS, per ton, sehingga menghemat biaya penanganan sekitar 15 juta yuan setiap tahunnya bagi perusahaan.

*1 yuan = 2.461 rupiah

**1 dolar AS = 16.999 rupiah

Selain perlindungan lingkungan dan pemangkasan biaya, metode penimbunan kembali ekologis ini juga membantu merevitalisasi sumber daya lahan. Pemanfaatan lembah alami untuk menyerap gangue menghilangkan kebutuhan untuk mendapatkan lahan bagi tempat pembuangan limbah baru, sehingga menghemat secara signifikan biaya infrastruktur dan operasional. Setelah ditutup dengan tanah dan direklamasi, area yang telah ditimbun dapat diubah menjadi lahan pertanian, hutan, atau padang rumput.

Proses ini tidak hanya mengembalikan fungsi lembah-lembah yang sebelumnya tidak terpakai menjadi lahan produktif, tetapi juga meningkatkan pasokan lahan yang tersedia, mengurangi keterbatasan lahan di area pertambangan, sekaligus mempraktikkan konsep "pertambangan, restorasi, dan pemulihan ekologis yang dilakukan secara bersamaan".

Mulai dari mengatasi masalah pembuangan limbah tambang yang sudah lama berlangsung hingga membuka jalur penanganan yang sesuai aturan dan hemat biaya, Shanxi menjajaki rute baru untuk transisi energi yang memprioritaskan perlindungan ekologi dan pembangunan hijau.

Di seluruh Provinsi Shanxi yang kaya batu bara, area yang dahulu merupakan gunungan limbah tambang berwarna hitam secara bertahap diubah menjadi lahan subur, basis bahan bangunan, dan bahkan fasilitas energi hijau, yang menunjukkan bagaimana industri sumber daya tradisional dapat bergerak menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait