Feature – Tak sekadar urus administrasi, pejabat desa China lakukan ‘livestreaming’ jual hasil panen petani

Foto yang diabadikan pada 9 Januari 2018 ini menunjukkan lanskap yang tertutup salju di Wilayah Otonom Etnis Gelao dan Miao Wuchuan, Provinsi Guizhou, China barat daya. (Xinhua/Tao Liang)

Guiyang, China (Xinhua/Indonesia Window) – Pada suatu pagi yang cerah di bulan Juni, petani bernama Wang Luzhang (59) duduk di bawah kanopi sementara di halaman kantor komite Desa Qianjin di wilayah Wuchuan, Provinsi Guizhou, China barat daya. Di hadapannya terdapat 25 kilogram beras giling rumahan serta sekeranjang telur.

Tidak jauh dari sana, puluhan warga desa berdiri di samping barang dagangan mereka, mulai dari kacang tanah, cabai kering, hingga stoples-stoples berisi madu emas.

Namun, hari itu bukanlah hari pasar biasa. Dua pembawa acara muda mengarahkan kamera smartphone mereka ke berbagai hasil bumi tersebut, memperlihatkan suasana tersebut kepada para pembeli melalui siaran langsung (livestreaming) Douyin, TikTok versi China.

"Dahulu, apakah saya bisa menjual dagangan atau tidak sepenuhnya bergantung pada keberuntungan," ujar Wang sambil tersenyum. Hingga pukul 10.00, seluruh telur miliknya telah habis terjual dengan harga 1,2 yuan atau setara 0,18 dolar AS per butir, lebih tinggi daripada harga 1 yuan per butir yang selama ini dia peroleh dengan susah payah di pasar fisik.

*1 yuan = 2.628 rupiah

**1 dolar = 17.856 rupiah

Dalam dua bulan sejak desanya mulai melakukan livestreaming, Wang telah meraup lebih dari 1.000 yuan, melampaui total hasil berjualan di pasar selama berhari-hari.

Tetangga Wang, seorang peternak lebah bernama Lei Guangyang, bahkan meraih hasil yang lebih baik lagi. Produk madu gunung liarnya, yang dijual seharga 120 yuan per stoples, sebelumnya kerap tidak laku di pasar fisik karena dianggap terlalu mahal oleh pembeli lokal. Namun, melalui livestreaming, dia telah menjual 41 stoples madu dengan total nilai lebih dari 4.000 yuan, jauh melampaui hasil penjualan yang berhasil diraih sebelumnya.

Inilah ‘Pasar Desa Douyin’, sebuah pasar virtual yang beroperasi melalui Douyin. Inisiatif tersebut diluncurkan oleh para pejabat muda pemerintah di daerah pegunungan terpencil itu.

Seiring Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) memperingati 105 tahun pendiriannya pada Juli tahun ini, inisiatif tersebut merefleksikan generasi baru anggota Partai yang memanfaatkan perangkat digital untuk menjembatani kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

Gagasan tersebut berawal dari kenyataan yang memprihatinkan. "Warga desa akan membawa barang dagangan mereka ke pasar, tetapi terkadang tidak berhasil menjual apa pun," kata pejabat setempat Deng Yufeng.

Pasar-pasar lokal dipenuhi produk-produk serupa, yaitu sayuran, telur, hingga bahan pangan olahan, yang dibawa para petani dari desa-desa sekitar, sementara permintaannya tidak cukup besar untuk menyerap seluruh pasokan tersebut.

Pada Juni 2025, para pejabat muda tersebut meluncurkan livestreaming pertama mereka untuk membantu para petani menjual barang dagangan mereka, yang menghasilkan lebih dari 3.200 pesanan dengan nilai penjualan melampaui 120.000 yuan hanya dalam satu hari. Keberhasilan tersebut semakin meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Satu sesi siaran langsung umumnya melibatkan sedikitnya enam orang, yakni dua pembawa acara, seorang petugas pemeriksaan mutu, seorang operator backend yang mengelola pesanan dan persediaan, seorang petugas administrasi pemesanan, serta petugas pengemasan. Desa Qianjin telah melatih empat pembawa acara yang bertugas secara bergiliran.

"Saya sempat terbata-bata saat sesi penjualan livestreaming pertama saya," kata Li Xue (29), seorang pejabat desa. "Membantu warga desa menjual hasil bumi mereka memberi saya kepuasan yang luar biasa."

Pengendalian mutu tetap menjadi prioritas. Untuk saat ini, tim tersebut membatasi produk yang dijual melalui siaran langsung hanya pada produk pangan kering, dengan regulator pasar lokal melakukan pemeriksaan awal.

Untuk menekan biaya logistik, wilayah tersebut bermitra dengan beberapa perusahaan jasa kurir, memangkas rata-rata biaya pengiriman dari 8 yuan menjadi 3,5 yuan per paket. Komitmen untuk menyelesaikan berbagai persoalan nyata bagi masyarakat ini melanjutkan tradisi lokal yang membanggakan.

Pada tahun 1930-an, pasukan Tentara Merah yang dipimpin oleh mendiang marsekal He Long melintasi wilayah tersebut, dan menjalin ikatan kuat dengan para petani lokal melalui kedisiplinan dan respek.

Wilayah Wuchuan merupakan bagian dari Zunyi, lokasi berlangsungnya konferensi penting CPC pada 1935 yang menyelamatkan revolusi China dari ancaman besar.

Kini, para pejabat muda tersebut meneruskan warisan itu bukan melalui slogan, melainkan tindakan nyata. Mereka mempelajari algoritma platform digital dan menguasai cara membuat video yang menarik.

Hingga livestreaming berakhir pada pukul 14.00, para pejabat muda itu masih sibuk mengunggah tautan promosi kacang tanah, sementara Li menyampaikan ajakan terakhir kepada seorang pengunjung. "Belilah sebotol madu hutan. Rasanya benar-benar lezat!"

Wang Luzhang pun membereskan keranjang telurnya yang telah kosong sambil tersenyum puas melihat hasil penjualannya. Pekan depan dia akan kembali lagi, tidak lagi menggantungkan hasil penjualannya pada keberuntungan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait