Singapura naikkan tarif listrik dan gas 17 persen, konflik Timur Tengah jadi pemicu

Ilustrasi. (Raze Solar on Unsplash)

Singapura mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya, dengan gas alam impor menyumbang sekitar 95 persen dari pembangkitan listrik dan menjadi bahan baku utama untuk produksi gas kota.

 

Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – Singapura akan menaikkan tarif listrik dan gas kota yang diatur pemerintah untuk kuartal Juli-September menyusul kenaikan harga gas alam, yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan meningkatnya biaya produksi energi, demikian disampaikan Otoritas Pasar Energi (Energy Market Authority/EMA) Singapura pada Selasa (30/6).

EMA mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tarif listrik rumah tangga akan naik 17 persen menjadi 31,91 sen Singapura per kilowatt-jam (kWh), sebelum pajak barang dan jasa, dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, tarif gas kota akan naik 7,1 persen menjadi 23,48 sen per kWh.

*1 dolar Singapura = 13.806 rupiah

Negara kota ini mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya, dengan gas alam impor menyumbang sekitar 95 persen dari pembangkitan listrik dan menjadi bahan baku utama untuk produksi gas kota.

EMA menyatakan harga gas alam melonjak tajam sejak akhir Februari dan tetap tinggi antara April dan Juni akibat konflik di Timur Tengah, yang mengakibatkan kenaikan biaya bagi produsen listrik dan gas kota.

EMA menyatakan bahwa situasi di Timur Tengah masih tidak pasti. Namun, jika kondisi membaik, harga bahan bakar dapat turun dan berujung pada penurunan tarif listrik dan gas kota pada kuartal keempat 2026.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait