Feature – Siauw Pek San, napas baru wayang Potehi Indonesia

Sejumlah boneka lakon wayang potehi dari kelompok seni Sanggar Siauw Pek San terlihat menampilkan pementasan Kelana Wayang Potehi Cap Cip Cup Fest di Tjap Sahabat di Bandung, Provinsi Jawa Barat, pada 15 Januari 2026. (Xinhua/Septianjar Muharam)
Wayang potehi, seni pertunjukan boneka tangan yang dibawa imigran China selatan berabad-abad silam ke Tanah Air, kini beradu dengan waktu.
Bandung, Jawa Barat (Xinhua/Indonesia Window) – Di bawah temaram lampu panggung, sesosok figur boneka kecil terlihat hidup. Dia melompat, bersalto, lalu mendarat seperti seorang jenderal perang. Di balik layar kain yang sempit, jemari Andika Pratama bergerak lincah, seolah-olah jiwanya berpindah ke dalam rongga boneka tersebut.
Andika bukanlah sekadar pemain. Andika merupakan ketua di Sanggar Wayang Potehi Siauw Pek San yang berupaya menjaga nyala api sebuah tradisi yang sempat meredup.
"Kami berdiri karena keresahan," ujar Andika dengan nada tenang namun tegas. Di tengah hiruk pikuk modernitas, wayang potehi, seni pertunjukan boneka tangan yang dibawa imigran China selatan berabad-abad silam, kini beradu dengan waktu.
"Permintaannya banyak, tetapi sumber daya manusianya kurang. Kita punya wayang golek dan wayang kulit yang sudah memiliki sekolah formal, tetapi potehi masih dianggap minoritas yang terancam punah," kata Andika.
Berdiri sejak Mei 2023, Siauw Pek San tidak ingin sekadar tampil. Sanggar ini berupaya menjaga bentuk-bentuk paling klasik dari akarnya agar tidak tercabut, memberikan napas baru agar tetap relevan dengan zaman, serta mengajarkan cara memainkannya kepada siapa pun yang berminat.
"Dahulu, potehi hanya hidup di dalam tembok vihara atau komunitas Tionghoa yang tertutup," kenang Andika. "Kini, kami membawanya keluar ke mal, galeri, hingga fasilitas publik lainnya. Kami ingin potehi dapat diakses oleh siapa saja."
Salah satu inovasi paling berani dari sanggar ini adalah naskah berjudul ‘Dr. Oen Boen Ing, Menjadi Indonesia’. Alih-alih membawakan epos klasik seperti kisah kerajaan China, mereka mengangkat kisah nyata seorang dokter Tionghoa yang mendedikasikan hidupnya untuk mengobati Panglima Besar Jenderal Sudirman saat perang kemerdekaan Indonesia.
"Kami menawarkan narasi bahwa meski darah mereka Tionghoa, cinta dan baktinya untuk tanah air. Ini bukan lagi soal etnis, tetapi tentang kemanusiaan dan sejarah nasional kita," ungkap Andika.
Fleksibilitas potehi memang unik. Berbeda dengan wayang golek yang satu karakter satu boneka, potehi merupakan seni yang ringkas. "Satu boneka, jika diganti baju dan topinya, bisa menjadi karakter baru," imbuhnya, kecuali untuk tokoh pakem seperti Kera Sakti yang tak tergantikan.
Di sudut lain, Indira Natalia, seniman murni lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang telah bergabung dengan dunia potehi sejak 2016, berbagi pengalamannya membawa boneka-boneka tersebut melintasi benua, dari Ciamis hingga Italia dan Malaysia.
Ada satu hal yang selalu membuat penonton luar negeri tertegun, yakni penggunaan Bahasa Indonesia.
"Waktu di Italia atau Malaysia, mereka heran. Ini tokoh-tokoh Tionghoa, tetapi berbicara dalam bahasa Indonesia dengan dialek lokal yang kental," tutur Indira sambil tersenyum. Baginya, wayang potehi Indonesia merupakan entitas unik, sebuah "Opera Peking mini" yang telah mengalami pribumisasi total.
Indira, yang kini berusia 34 tahun, melihat potehi sebagai ruang tanpa batas. "Nilainya tidak terbatas pada suku atau agama. Saya tertarik karena gerakan motoriknya menyerupai opera dan sangat artistik."
Perjalanan Siauw Pek San merupakan upaya merajut kembali dialog yang sempat terputus oleh sejarah. Dari panggung-panggung di ibu kota hingga pementasan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) bagi anak-anak binaan, mereka terus bergerak.
Harapan Andika sederhana namun mendalam. Dia ingin melihat regenerasi yang berkelanjutan. Dia berharap masyarakat tidak lagi melihat potehi sebagai "milik mereka", melainkan "milik kita". Di tangan anak-anak muda ini, wayang potehi bukan lagi sekadar kayu berbalut kain usang, melainkan cermin besar yang memantulkan wajah Indonesia yang beragam.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Kejahatan bermotif kebencian di AS meningkat pada H1 2022
Indonesia
•
27 Aug 2022

ITB-Universitas Osaka kerja sama penelitian vaksin
Indonesia
•
05 Mar 2021

PBB: Bakeri-bakeri di Gaza utara terancam tutup akibat kelangkaan tepung dan bahan bakar
Indonesia
•
22 Nov 2024

Feature – ‘Jabatan untuk ibu’ hadirkan jam kerja yang fleksibel bagi para ibu bekerja di China
Indonesia
•
09 Dec 2024
Berita Terbaru

Ramadan 1447 – Warga Palestina bersiap hadapi ‘Ramadan kelabu’ di tengah eskalasi kekerasan dan ketegangan di Gaza dan Tepi Barat
Indonesia
•
17 Feb 2026

Usai absen panjang, Gu Ailing sabet perak ‘freeski big air’ di Olimpiade Musim Dingin 2026
Indonesia
•
17 Feb 2026

Emas berbentuk tapal kuda dari China ingatkan mahasiswa Indonesia akan ‘api kemerdekaan’ di Jakarta
Indonesia
•
16 Feb 2026

Raih emas kesembilan, atlet Norwegia Klaebo pecahkan rekor Olimpiade Musim Dingin
Indonesia
•
16 Feb 2026
