Ramadan 1447 – Warga Palestina bersiap hadapi ‘Ramadan kelabu’ di tengah eskalasi kekerasan dan ketegangan di Gaza dan Tepi Barat

Seorang pria berjualan di sebuah pasar menjelang Ramadan di Gaza City pada 28 Februari 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat bersiap menyambut bulan suci Ramadan, di tengah eskalasi kekerasan dan ketegangan yang masih berlanjut.
Gaza, Februari (Xinhua/Indonesia Window) – Warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat bersiap menyambut bulan suci Ramadan, akan dimulai pada Rabu (18/2), di tengah eskalasi kekerasan dan ketegangan yang masih berlanjut.
Banyak yang menyebut Ramadan tahun ini akan menjadi "bulan Ramadan kelabu" lainnya mengingat kondisi kemanusiaan yang memburuk di Palestina.
Meski gencatan senjata telah berlaku di Gaza sejak Oktober 2025, serangan Israel masih terus menggempur. Pada Ahad (15/2), sedikitnya 11 warga Palestina tewas di Gaza, menurut pejabat medis dan otoritas setempat, dalam apa yang mereka gambarkan sebagai pelanggaran gencatan senjata terbaru.
Di Gaza City, pasar Zawiya yang dahulu ramai menjadi pusat kegiatan jual-beli di Kota Tua tersebut, kini sebagian besar kosong. Barang-barang yang tak laku menumpuk di rak-rak toko.
Sameh al-Bitar (40), pemilik sebuah toko rempah-rempah, mengungkapkan kerinduannya akan suasana meriah Ramadan di masa lalu.
"Dulu kami biasa menghias rumah, jalanan, dan pasar," katanya. "Sekarang semuanya di Gaza tampak menyedihkan."
Al-Bitar mengatakan dirinya kehilangan dua putranya dalam sebuah serangan udara. "Perang belum berakhir," katanya. "Setiap hari terjadi pelanggaran, kematian, dan korban luka."
Menurutnya, momen Ramadan tahun ini akan terbatas pada pelaksanaan ritual keagamaan, tanpa kunjungan keluarga, maupun acara berbuka puasa bersama yang dahulu kerap mewarnai suasana bulan suci tersebut.
Otoritas kesehatan Gaza mengatakan 603 warga Palestina tewas dan 1.618 luka-luka sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025, sehingga total warga Palestina yang tewas di Gaza sejak Oktober 2023 mencapai lebih dari 72.000, dengan lebih dari 171.000 orang luka-luka.
Di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, warga Palestina khawatir Ramadan akan disertai peningkatan pengamanan dan kemungkinan terjadinya bentrokan.
Pasukan penjajah Israel terus melakukan penyerbuan dan penangkapan di berbagai kota dan kamp pengungsi, sementara pos pemeriksaan militer diperkuat di pintu masuk kota dan desa, yang memengaruhi kehidupan sehari-hari menjelang hari raya.
Kota-kota termasuk Nablus, Jenin, dan Tulkarm telah menyaksikan konfrontasi sporadis antara pemuda Palestina dan pasukan Israel. Warga melaporkan seringnya terjadi penyerbuan pada malam hari, penangkapan, perluasan permukiman, hingga penyitaan tanah oleh pihak Israel.
Ketegangan sangat tinggi terutama di sekitar situs-situs keagamaan yang sensitif.
Di Kota Hebron, Tepi Barat bagian selatan, penduduk mengatakan akses ke Masjid Ibrahimi sudah dibatasi karena kehadiran penjajah militer Israel yang besar dan lokasinya yang dekat dengan permukiman Yahudi. Pos pemeriksaan di sekitar masjid, yang biasanya diperketat selama Ramadan, membatasi masuknya jemaah dan terkadang memberlakukan batasan usia.
"Semua indikasi menunjukkan bahwa Ramadan kali ini akan sangat berat," kata Saeed al-Awiwi (50), yang tinggal di dekat masjid tersebut. Dia menyatakan kekhawatiran akan meningkatnya serangan para pemukim Israel di bawah perlindungan tentara.
Di Kota Tua Yerusalem, Abdul Rahman al-Alami (22) mengatakan dirinya khawatir kaum muda akan dilarang untuk sholat di Masjid Al-Aqsa.
"Hanya tinggal beberapa hari lagi, dan orang-orang seusia kita mungkin akan dilarang masuk," katanya di dekat Gerbang Damaskus. Dia menambahkan bahwa pihak berwenang sering memasang penghalang, memasang gerbang elektronik, dan melakukan pemeriksaan selama Ramadan.
Sementara itu, penjajah Israel pada Ahad menyetujui dimulainya proses pendaftaran tanah di Tepi Barat untuk pertama kalinya sejak 1967, menurut pejabat Israel. Langkah ini diharapkan dapat mengklasifikasikan wilayah yang luas sebagai tanah milik negara.
Kepresidenan Palestina mengutuk keputusan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan menggambarkannya sebagai langkah menuju aneksasi de facto. Israel merebut Tepi Barat dalam perang Timur Tengah tahun 1967, dan sebagian besar komunitas internasional menganggap permukiman di sana ilegal.
Menjelang Ramadan, warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem mengatakan mereka bersiap menghadapi Ramadan yang diwarnai dengan pembatasan pergerakan, pengamanan ketat, dan situasi sulit yang berlarut-larut.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Media: Bayi perempuan tak sengaja tertembak mati oleh saudara kandungnya di California, AS
Indonesia
•
21 Jul 2023

Sekjen PBB serukan persatuan dan harapan dalam pesan Tahun Baru
Indonesia
•
30 Dec 2023

Survei: Amerika Serikat miliki nilai moral yang buruk
Indonesia
•
20 Jun 2022

UNICEF: Lebih dari 650.000 anak di Somalia berpotensi mengungsi karena El Nino
Indonesia
•
10 Oct 2023
Berita Terbaru

Usai absen panjang, Gu Ailing sabet perak ‘freeski big air’ di Olimpiade Musim Dingin 2026
Indonesia
•
17 Feb 2026

Feature – Siauw Pek San, napas baru wayang Potehi Indonesia
Indonesia
•
17 Feb 2026

Emas berbentuk tapal kuda dari China ingatkan mahasiswa Indonesia akan ‘api kemerdekaan’ di Jakarta
Indonesia
•
16 Feb 2026

Raih emas kesembilan, atlet Norwegia Klaebo pecahkan rekor Olimpiade Musim Dingin
Indonesia
•
16 Feb 2026
