Lebih dari 300 juta orang tak punya rumah saat dunia peringati Hari Habitat Internasional

Pemandangan Kota Jakarta saat matahari terbenam pada Selasa (7/10/2025). (Indonesia Window)
Kawasan kumuh dihuni oleh satu dari delapan orang di seluruh dunia, dengan layanan kesehatan, sistem air, dan jaringan transportasi yang tidak memadai.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia tidak memiliki rumah, dan sekitar satu dari delapan orang tinggal di kawasan kumuh (informal settlements), demikian disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Senin (6/10).Pada Hari Habitat Sedunia, yang diperingati setiap hari Senin pertama pada bulan Oktober, Guterres mengatakan bahwa di dunia yang saat ini tingkat urbanisasinya berkembang pesat, kota-kota sering kali menanggung dampak dari krisis masa kini, dengan konflik, ketidakstabilan politik, dan kondisi darurat iklim telah memaksa 123 juta orang meninggalkan rumah mereka. Sebagian besar dari mereka berupaya mencari keselamatan di kota-kota besar maupun kecil yang sebenarnya sudah berada di dalam tekanan.Guterres memperingatkan bahwa layanan kesehatan, sistem air, dan jaringan transportasi sudah kewalahan, sementara risiko bencana baru terus mengintai.Namun, kota-kota menjadi tempat di mana solusi dapat tumbuh dan berkembang, kata sekjen PBB itu. "Jika kita merencanakan inklusi, pendatang baru akan membantu menggerakkan perekonomian, memperkuat komunitas, dan memperkaya budaya."Dikatakan Guterres, pada Hari Habitat Sedunia ini, "kita menyoroti solusi, mulai dari perumahan yang lebih baik, hingga hak atas tanah, hingga sistem air dan sanitasi." Dia juga menghargai kepemimpinan vital para wali kota dan pemerintah daerah, serta ketangguhan komunitas perkotaan, khususnya kaum perempuan dan pemuda."Yang terpenting, kita berusaha membagikan inovasi yang membantu menjamin akses bagi kelompok paling rentan, termasuk penyandang disabilitas, warga lanjut usia, dan anak-anak," tuturnya."Sebuah kota lebih dari sekadar batu bata dan semen. Kota menjadi janji akan sebuah tempat tinggal," ujar Guterres.Pada 1985, PBB menetapkan Hari Habitat Sedunia untuk merefleksikan kondisi tempat tinggal kita dan hak dasar semua orang untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak. Tema Hari Habitat Sedunia tahun ini adalah respons terhadap krisis perkotaan.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Kisah mahasiswi asal Indonesia jadi sukarelawan di Asian Games Hangzhou
Indonesia
•
10 Oct 2023

Sekjen PBB lihat ujian yang belum pernah terjadi terhadap multilateralisme
Indonesia
•
13 Sep 2022

Retail M&S buang tanggal ‘best before’ pada produk buah-sayuran kurangi makanan terbuang
Indonesia
•
18 Jul 2022

Korban tewas dalam insiden jatuhnya minibus ke Sungai Nil bertambah jadi 11 orang
Indonesia
•
24 May 2024
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Antisipasi wabah Nipah, Singapura akan terapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara
Indonesia
•
30 Jan 2026

Kasus bunuh diri anak di Jepang catat rekor tertinggi pada 2025
Indonesia
•
30 Jan 2026

Australia pantau ketat wabah virus Nipah
Indonesia
•
30 Jan 2026
