
Feature – Petani Gaza berjuang garap lahan pertanian yang susut tinggal 3 persen akibat agresi militer Israel

Tim pertahanan sipil Palestina mencari jenazah dan penyintas di antara reruntuhan sebuah bangunan yang menjadi tempat pengungsian warga Palestina di Gaza City pada 16 September 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Di sebidang lahan seluas tujuh dunam (0,7 hektare) di dekat ‘Garis Kuning’, Mohammed Al-Dahdouh (55) tampak membungkuk di atas ladang kentang kecil. Lahan itu hanya sebagian kecil dari 40 dunam (4 hektare) lebih tanah yang pernah digarapnya.
Garis demarkasi militer yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata itu memisahkan wilayah tempat pasukan Israel dikerahkan dari wilayah lain di Jalur Gaza, sehingga setiap musim tanam menjadi sebuah pertaruhan.
Sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023, lahan pertanian di Gaza telah menyusut drastis. Pasokan air, listrik, bahan bakar, dan sarana pertanian menjadi langka atau harganya melambung. Namun, Al-Dahdouh, yang merupakan ayah dari enam anak, menolak untuk meninggalkan lahan garapannya.
Setiap gempuran artileri mendekat, dia akan pergi menyelamatkan diri, dan ketika serangan berhenti, dia pun kembali ke ladangnya.
Perjuangan Al-Dahdouh mencerminkan nasib para petani di seluruh wilayah kantong tersebut. Di Kota Beit Lahia, Gaza utara, Ibrahim Abu Samhadana, seorang petani berusia 42 tahun, menanam stroberi, zukini, dan terong sembari tinggal di dalam tenda di samping reruntuhan rumahnya.
Lahan seluas 22 dunam (2,2 hektare) milik keluarganya telah lenyap.
"Perang benar-benar telah menghancurkan sektor pertanian," kata Abu Samhadana.
Meski demikian, dia tetap mengerjakan ladangnya.
"Saya bertekad untuk tetap bertani karena itulah mata pencaharian yang kami kenal sejak kecil," tutur petani yang juga ayah enam anak itu.
Di Gaza selatan, musim jambu biji, yang biasanya berlangsung dari September hingga Desember, menunjukkan situasi serupa.
Lahan milik Hani Al-Qudra di Khan Younis telah menyusut dari sekitar 1.350 dunam (135 hektare) sebelum perang menjadi sekitar 200 dunam (20 hektare), dan jumlah pekerjanya berkurang dari sekitar 100 orang menjadi 15 orang.
"Jambu biji merupakan salah satu tanaman terpenting di Jalur Gaza, baik penduduk maupun petani bergantung pada tanaman ini untuk kebutuhan pangan dan peluang kerja," kata Al-Qudra.
Konsumen pun turut merasakan dampaknya. Di sebuah pasar di Khan Yunis, Ahmed Al-Najjar, seorang ayah tiga anak berusia 45 tahun, mengatakan jambu biji, yang dahulu merupakan buah musiman dengan harga terjangkau, kini tak lagi terjangkau bagi banyak keluarga.
"Saya sedih ketika anak-anak saya memintanya, dan saya tidak mampu membelinya," kata Al-Najjar.
Para pakar menggambarkan situasi yang suram. Spesialis pertanian Mohammed Abu Shamala mengatakan luas lahan budi daya jambu biji di Gaza telah menyusut dari sekitar 1.700 dunam (170 hektare) sebelum perang menjadi kurang dari 100 dunam (10 hektare).
Sementara itu, kerusakan lahan pertanian dan sistem irigasi, serta meningkatnya kadar garam air telah menurunkan kualitas hasil panen dan membatasi budi daya beberapa varietas.
Sebuah penilaian oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang dirilis pada Agustus menemukan hanya sekitar 448 hektare, atau kira-kira 3 persen, dari lahan pertanian di Gaza yang kondisinya tetap dapat diakses dan tidak rusak.
Otoritas pertanian Gaza yang dikelola Hamas memperkirakan kerugian di sektor pertanian mencapai sekitar 3,49 miliar dolar AS.
*1 dolar AS = 17.753 rupiah
Sebelum perang, sektor pertanian menyumbang sekitar 10 persen dari perekonomian Gaza dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 560.000 orang. Kini, bagi para petani seperti Al-Dahdouh, Abu Samhadana, dan Al-Qudra, upaya gigih untuk terus membudidayakan kentang, sayuran, dan jambu biji telah menjadi perjuangan untuk terus mempertahankan mata pencaharian mereka sekaligus menjaga sisa-sisa sektor pertanian Gaza.
Saat gempuran mereda, Al-Dahdouh kembali ke lahan seluas tujuh dunam (0,7 hektare) miliknya, merawat tanaman kentang serta bersiap menanam tomat untuk musim mendatang.
"Saya akan tetap berjuang untuk bertani dan mencari penghasilan demi anak-anak saya," ujar Al-Dahdouh.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Iran bantah lakukan negosiasi dengan AS, menyebutnya tidak bermakna dalam kondisi sekarang
Indonesia
•
25 Mar 2026

Fokus Berita – Presiden China dan as sepakati visi baru hubungan bilateral dalam pembicaraan di Beijing
Indonesia
•
15 May 2026

Pasukan koalisi pimpinan AS serbu Suriah utara, tangkap komandan senior ISIS
Indonesia
•
27 Jul 2025

Taiwan luncurkan paspor baru pada 2021
Indonesia
•
01 Dec 2020


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
