
Feature – Karya AI terjual 19,4 miliar rupiah, apakah ini bisa disebut karya seni?

Foto dokumentasi ini menampilkan karya digital 'Rooted in Ruin' (2025) dari Keke yang dibuat menggunakan autonomous AI dan menjadi koleksi Wiyu Wahono. (Wiyu Wahono/Istimewa)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Bak air bah, seolah tak tersisa ruang kosong yang belum dijangkau oleh kecerdasan buatan (AI) di era modern saat ini, termasuk dalam bidang seni rupa dan turunannya. Hal yang dianggap mustahil di masa lalu kini mampu dihasilkan oleh AI generatif dalam hitungan detik, mulai dari ilustrasi, foto, hingga desain grafis.
Di tingkat global, karya AI sudah mencatat harga fantastis di balai lelang besar. Karya robot Ai-Da terjual 1,08 juta dolar AS di Sotheby's pada 2024, jauh di atas estimasi. Sebelumnya, karya cetak AI ‘Portrait of Edmond Belamy’ terjual 432.500 dolar AS di Christie's pada Oktober 2018.
Terobosan teknologi ini kerap dianggap bak pisau bermata dua yang tak hanya menawarkan keunggulan, tetapi juga pertanyaan besar perihal nilai dan keberlangsungan kreativitas manusia.
Dalam kesempatan berbeda, Xinhua berbincang dengan tiga individu dengan sudut pandang masing-masing, yakni kolektor, perupa, dan pekerja kreatif digital untuk menggali perspektif baru perihal isu tersebut, khususnya di Indonesia.
"Kita hidup dalam era sains dan teknologi. DNA dan AI adalah penemuan revolusioner dalam sejarah kemanusiaan," ujar Wiyu Wahono, seorang kolektor karya seni sejak 1999 dan juga pembicara di puluhan forum seni internasional serta juri di berbagai penghargaan bidang seni.
Menurut Wiyu, yang telah lima tahun mengoleksi karya berbasis AI, karya seni yang baik mampu merefleksikan zamannya.
Seolah ingin meluruskan anggapan yang keliru, Wiyu mencontohkan bahwa orang yang menekan tombol kamera tidak otomatis menjadi seniman fotografi, dan orang yang memberi perintah (prompt) kepada AI untuk membuat gambar dalam beberapa detik tidak otomatis menjadi seniman AI.
"Jutaan gambar dari text-to-image generator seperti Midjourney, Adobe Firefly, atau Canva bukanlah karya seni," ujar Wiyu, yang turut menjadi pembicara di IdeaFest 2026 lalu.
Wiyu, yang beragam karya seni koleksinya pernah dipamerkan di National Museum Liechtenstein hingga Hong Kong Arts Centre, melihat dunia yang dewasa ini kian dihuni mesin.
"Kita sedang menciptakan satu dunia tanpa manusia," katanya. Karena AI adalah entitas tanpa tubuh, usia, dan kesadaran, dia menilai karya AI menuntut pemikiran artistik dan estetik baru.
"Semua teori seni yang ada dibuat untuk karya manusia, jadi tidak bisa dipakai untuk menilai karya AI." Dia mencontohkan Sougwen Chung, seniman berdarah China-Kanada, yang melatih robot AI lintas generasi untuk melukis di kanvas dengan hasil yang mirip lukisan tangannya sendiri.
Hal itulah yang melandasi pemikiran Wiyu untuk mengoleksi karya AI dari para perupa secara bertahap dan sistematis, mulai dari karya umum yang terjangkau hingga karya unik yang mahal, tanpa perlu memikirkan untung-rugi secara finansial.
"Karya AI dapat dinikmati mulai dari karya seniman yang sengaja memakai text-to-image generator, karya yang memadukannya dengan sentuhan manusia, karya yang memakai dataset buatan seniman sendiri, hingga karya autonomous AI yang dibuat tanpa perintah manusia sama sekali," terang Wiyu.
Paradoks AI: Alat bantu hingga potensi ancaman
Dari sisi seniman, Vonny Ratna Indah, seorang perupa kontemporer, memaparkan kepada Xinhua bahwa bantuan AI dirasa cukup bermanfaat meski tidak pernah diandalkannya untuk hasil akhir.
Vonny memanfaatkan AI untuk sketsa cepat yang dipresentasikan kepada klien. Hasilnya biasanya cukup mendekati, tetapi tetap perlu diperbaiki. Kepada klien, dia pun menjelaskan bahwa karya akhir bisa berubah sesuai karakteristiknya.
"Karya AI tetap harus di-finishing atau di-retouch oleh pikiran dan tangan seniman. Jadi tidak 100 persen karya AI," ujar Vonny yang karyanya pernah dipamerkan hingga Korea Selatan dan Jepang. Baginya, AI layak dipertimbangkan sebagai alat bantu sebagaimana halnya manusia meminta bantuan kepada individu lain.
Meski demikian, Wiyu menilai AI masih dapat dimanfaatkan lebih lanjut daripada sekadar alat bantu. "AI punya kemampuan otak jauh melebihi manusia, sangat mubazir kalau hanya berhenti sebagai alat bantu," katanya, seraya mengajak para seniman untuk memosisikan AI sebagai kolaborator aktif.
Sementara itu, Eunike Kartini, pekerja kreatif digital yang juga penikmat seni, membeberkan pandangan yang lebih berhati-hati. Dirinya yang kerap memanfaatkan ChatGPT, Gemini, dan Claude untuk manajemen proyek, riset, dan copywriting itu menilai campur tangan AI dalam karya seni tidaklah sesederhana melihat output-nya saja.
Dia berpendapat bahwa karya yang 100 persen dibuat lewat prompt tanpa sentuhan kriya terasa palsu, meski prompt itu sendiri lahir dari ide manusia.
Namun, Eunike, yang lebih suka memosisikan dirinya sebagai orang awam tersebut, masih bisa memaklumi jika suatu karya dihasilkan dengan memadukan prompt dengan proses fisik, misalnya hasil cetak 3D. Pasalnya, proses tersebut tetap menuntut pertimbangan ukuran, material, dan bentuk, dan hasilnya pun biasanya masih disempurnakan oleh manusia, sehingga porsi 50:50 antara mesin dan manusia masih bisa dimaklumi.
"Walau sebetulnya saya lebih menghargai segala sesuatu yang dibuat dari nol oleh tangan manusia secara fisik," ujarnya.
Terlepas dari perbedaan itu, baik Wiyu maupun Vonny sepakat bahwa rasa takut adalah reaksi wajar. Wiyu menyebut manusia takut kehilangan kontrol, takut pada hal yang belum dikenal, dan takut gagal mencoba hal baru.
Menurutnya, faktor psikologis inilah, ditambah kesalahpahaman tadi, yang membuat sebagian besar kolektor dan seniman cenderung menolak karya seni AI. Vonny menyebut bahwa hal baru mudah dilihat sebagai ancaman, meski bisa dikendalikan lewat aturan dan ketentuan yang disepakati.
Dampak ekonominya, setidaknya dari pengalaman Vonny, belumlah terasa negatif.
Dia menilai AI tidak memengaruhi minat kolektor maupun harga lukisan, bahkan cenderung membantunya secara teknis. Dia juga tidak mendengar adanya pelukis, ilustrator, atau desainer di sekitarnya yang kehilangan pekerjaan atau klien karena AI. Hal ini selaras dengan pengakuan Wiyu bahwa baru segelintir kolektor di Indonesia yang berminat mengoleksi karya AI.
Sementara itu, ketika ditanya seandainya dia seorang kolektor, Eunike mengaku belum berminat untuk membeli karya yang melibatkan AI meski kontribusinya kecil.
Menurutnya, lukisan menjadi "hidup" karena lahir dari pikiran dan pengalaman yang diwujudkan melalui tangan pelukis. Pada ilustrasi digital, dia merasakan perbedaan antara karya yang sketsanya dibuat manual dari nol dan karya yang melibatkan otomasi AI.
"Terasa ya, bukan terlihat," katanya. Dia mengaku lebih menyukai proses ketimbang hasil akhir, dan menurutnya karya bernilai jual tinggi, seperti seni pahat atau kain tradisional Indonesia, umumnya lahir dari proses yang tidak instan.
Sebagai seorang seniman, Vonny menilai perlu ada aturan yang mewajibkan label "dibuat dengan AI", dan menyebut pelatihan AI tanpa seizin seniman yang bersangkutan tidaklah etis. Sebaliknya, Wiyu menilai batas orisinalitas pun semakin tipis. Dia mencontohkan bahwa di era modern seperti ini seniman mencari informasi hingga inspirasi lewat mesin pencari dan media sosial yang turut dikelola mesin, sehingga semua karya tak lepas dari campur tangan AI.
Sebagai perupa, Vonny meyakini bahwa perbedaan karya AI dan manusia masih akan tampak, dari detail warna hingga anatomi manusia dan hewan.
Dia menegaskan hal itu penting karena jerih payah seniman adalah bagian dari nilai karya.
Sebagai kolektor, Wiyu berpendapat bahwa perbedaan antara lukisan manusia dan lukisan oleh AI kini semakin samar.
Dia kembali menyinggung Sougwen Chung yang melatih robot AI lintas generasi untuk melukis di kanvas hingga hasilnya mirip lukisan tangannya sendiri.
Meski demikian, untuk keaslian karya AI, sebagai kolektor Wiyu mengandalkan sertifikat tokenisasi blockchain. Dia mengakui hal itu tidak menjamin karya bebas dari pemalsuan atau pelanggaran hak cipta, tetapi transaksi jual belinya terekam dan sangat sulit dipalsukan.
Meramal masa depan
Meski berbeda pada beberapa hal, baik Wiyu maupun Vonny meyakini bahwa karya buatan manusia akan tetap bertahan. Wiyu mengibaratkannya dengan barang kerajinan yang bertahan di tengah produksi massal, meski dalam skala lebih kecil.
Vonny menyebut goresan, tekstur, dan waktu pengerjaan tetap penting bagi penikmat seni, dan jiwa sebuah lukisan lahir dari karakteristik serta keseriusan berkarya.
Dia pun mengingatkan para perupa muda bahwa karya yang terlalu bergantung pada AI tanpa karakter pribadi akan tampak datar dan seragam, dan audiens tetap bisa menangkapnya.
Sebagai pekerja kreatif digital, Eunike memahami bahwa seni sangatlah luas, mencakup bentuk dua dimensi dan tiga dimensi, serta seni murni dan seni terapan, yang masih terbagi lagi menjadi lukis, patung, kriya, grafis, desain, dan arsitektur.
Di kemudian hari, dia memperkirakan AI paling banyak dipadukan dengan ranah kreasi seni terapan, seperti desain produk, arsitektur, dan sebagian seni kriya berupa pemodelan dasar.
Untuk seni murni, menurutnya peran AI lebih pada membuka akses, bukan menciptakan karya. Dia membayangkan pameran digital yang menampilkan karya fisik tanpa campur tangan AI, serta galeri dan museum fisik yang karyanya dapat dinikmati atau dibeli orang dari berbagai negara tanpa harus datang langsung.
"Potensi maksimal fungsi AI lebih untuk mendukung perluasan aksesnya bagi penikmat, tanpa meninggalkan kemurnian karya seni itu sendiri," ujarnya.
Ketika ditanya tentang 10 tahun mendatang, sebagai kolektor Wiyu mengaku sulit memprediksi karena teknologi berkembang terlalu cepat dan tak ada yang bisa memetakan siapa yang mengembangkan apa, sementara Vonny membayangkan dunia seni rupa yang lebih terbuka dan makin berbaur dengan bidang keilmuan lain.
"Zaman semakin maju dan dunia kian terbuka. Kembali lagi, resepnya agar pelukis tetap relevan dan terlindungi di tengah kemajuan zaman yang tidak terbendung adalah dengan tetap genuine dan punya karakteristik pribadi di tiap karya mereka," ujarnya.
Selesai
Penulis: Prabowo Destyan
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Indonesia punya 12.000 jenis ngengat, jaga kesehatan vegetasi hutan
Indonesia
•
07 Oct 2020

Menyusui bentuk ulang sistem imun untuk cegah kanker payudara
Indonesia
•
22 Oct 2025

Teleskop FAST China deteksi lengkungan cahaya dalam semburan gelombang radio cepat
Indonesia
•
04 Jan 2024

NASA tunjuk tiga perusahaan untuk bangun pangkalan bulan, empat misi diluncurkan hingga 2028
Indonesia
•
01 Jul 2026


Berita Terbaru

Mikroskop nirkabel 1 gram mampu rekam 8.500 ‘neuron’ sekaligus
Indonesia
•
21 Oct 2026

NASA kirim ‘rover’ VIPER ke Kutub Selatan Bulan pada 2027 untuk mencari air
Indonesia
•
21 Oct 2026

Makin banyak makan buah, risiko gejala depresi remaja makin turun
Indonesia
•
20 Oct 2026

Yunani resmikan superkomputer 85,69 petaflop, masuk 31 terkuat di dunia
Indonesia
•
20 Oct 2026
