
Madu Indonesia mengandung bakteri probiotik yang berpotensi lawan kanker dan diabetes

Ilustrasi. (Meggyn Pomerleau on Unsplash)
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini berhasil mengidentifikasi bakteri asam laktat probiotik dari madu dan bee pollen lebah tanpa sengat (stingless bee) asal Indonesia, yang memiliki berbagai aktivitas biologis penting, mulai dari antibakteri, antibiofilm, antioksidan, antikanker, hingga potensi membantu pengendalian kadar gula darah.
Temuan ini membuka peluang pengembangan pangan fungsional dan nutribiotik berbasis keanekaragaman hayati Indonesia.
Riset tersebut dilakukan tim peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN bersama mitra dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Penelitian memanfaatkan madu dan bee pollen dari tujuh spesies lebah tanpa sengat yang berasal dari Yogyakarta dan Sumbawa (Nusa Tenggara Barat).
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Antonie van Leeuwenhoek dan International Microbiology, serta telah memperoleh pendaftaran paten dengan nomor S00202605018.
Peneliti PRTPP BRIN, Ema Damayanti, menjelaskan bahwa selama ini madu lebah tanpa sengat dikenal kaya senyawa bioaktif. Namun, keberadaan mikroorganisme probiotik yang hidup di dalam madu dan bee pollen tersebut masih jarang diteliti, terutama di Indonesia.
“Kami menemukan bahwa madu lebah tanpa sengat Indonesia menyimpan bakteri asam laktat yang tidak hanya mampu bertahan pada kondisi saluran pencernaan, tetapi juga memiliki aktivitas antibakteri, antibiofilm, antikanker, dan antioksidan yang sangat baik. Ini menunjukkan potensinya sebagai kandidat probiotik untuk pangan fungsional,” ujar Ema.
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti berhasil mengisolasi sejumlah bakteri asam laktat dari madu dan bee pollen berbagai spesies lebah tanpa sengat, antara lain Heterotrigona itama, Tetragonula laeviceps, Tetragonula clypearis, Tetragonula sarawakensis, Lepidotrigona terminata, Tetragonula drescheri, dan Tetragonula biroi. Dari berbagai isolat yang diperoleh, tujuh isolat terbaik dipilih berdasarkan kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri patogen.
Ketujuh isolat tersebut kemudian dianalisis menggunakan teknologi whole genome sequencing (WGS), metabolomik berbasis UHPLC-HRMS, serta berbagai pengujian karakter probiotik. Hasil analisis menunjukkan bahwa isolat unggulan tersebut teridentifikasi sebagai Lacticaseibacillus rhamnosus dan Pediococcus acidilactici.
Menurut Ema, penelitian menunjukkan bahwa bakteri hasil isolasi mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa, sekaligus mencegah pembentukan biofilm yang sering menjadi penyebab meningkatnya resistensi bakteri terhadap pengobatan.
Tidak hanya itu, bakteri probiotik tersebut juga menunjukkan aktivitas antikanker terhadap lini sel kanker kolon WiDr serta aktivitas antioksidan yang tinggi berdasarkan pengujian DPPH, ABTS, dan FRAP.
“Kami juga menemukan aktivitas penghambatan α-amilase yang cukup signifikan. Potensi ini menarik karena berkaitan dengan pengendalian kadar gula darah, sehingga berpeluang dikembangkan menjadi produk pangan sehat,” tambah Ema.
Analisis genom lebih lanjut mengungkap keberadaan biosynthetic gene clusters (BGCs) yang berperan dalam produksi berbagai senyawa bioaktif, termasuk bakteriosin dan senyawa antimikroba alami.
Sementara itu, analisis metabolomik berhasil mengidentifikasi beragam metabolit bioaktif yang mendukung manfaat kesehatan dari bakteri tersebut.
Menurut Ema, integrasi pendekatan genomik dan metabolomik menjadi langkah penting untuk memahami mekanisme biologis probiotik lokal Indonesia secara lebih komprehensif.
“Indonesia memiliki keanekaragaman hayati lebah tanpa sengat yang sangat besar. Potensi ini tidak hanya penting bagi ketahanan pangan dan biodiversitas, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri pangan fungsional dan kesehatan berbasis riset,” jelasnya.
Ke depan, tim peneliti BRIN akan melanjutkan penelitian pada tahap formulasi produk dan uji aplikasi pada pangan fermentasi maupun suplemen probiotik. Riset lanjutan juga diperlukan untuk memastikan keamanan, stabilitas, dan efektivitas bakteri probiotik tersebut pada skala industri.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China identifikasi spesies dinosaurus ‘Sauropoda’ baru di China barat daya
Indonesia
•
18 Feb 2025

Studi: Sel kanker dapat merusak DNA sendiri saat tumbuh, berpotensi jadi target terapi
Indonesia
•
22 Jan 2026

Studi ungkap Jupiter ternyata lebih kecil dan lebih pipih dari perkiraan sebelumnya
Indonesia
•
03 Feb 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
