Feature – Melempar jumrah, membuang sifat tercela

Jutaan jamaah haji menunaikan ibadah melempar jumrah di Mina pada hari kedua Idul Adha (11 Dzulhijjah 1447 Hijriah), atau hari pertama Tasyrik, Kamis (28/5/2026). (Saudi Press Agency)

Melempar batu kecil itu bukan sekadar ritual biasa karena di baliknya tersimpan sejarah panjang tentang ujian iman, godaan setan, dan ketaatan luar biasa dari seorang nabi pilihan Allah .

Oleh: Dr. Naufal Mahfudz

 

Bogor, Jawa Barat, (Indonesia Window) – Di tengah hamparan padang pasir yang luas di tanah suci Mina, sekitar tujuh kilometer dari Masjidil Haram, jutaan manusia bergerak perlahan.

Para jamaah haji menggenggam erat kantong kecil berisi batu-batu kerikil yang minimal berjumlah 49 butir bagi yang melaksanakan nafar awal, dan 90 butir bagi yang mengerjakan Nafar Tsani.

Nafar awal adalah pilihan bagi jemaah haji untuk meninggalkan Mina lebih awal sebelum matahari terbenam pada 12 Dzulhijjah.

Nafar tsani adalah pilihan bagi jemaah haji untuk tetap tinggal dan bermalam (mabit) di Mina hingga 13 Dzulhijjah dan menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah lontar jumrah (ula, wustha, dan aqabah)

Wajah mereka lelah, namun dengan mata penuh harapan.

Di hari nahar dan hari-hari tasyrik ini mereka menunaikan salah satu rangkaian penting ibadah wajib haji, yaitu melempar jumrah.

Melempar batu kecil itu bukan sekadar ritual biasa karena di baliknya tersimpan sejarah panjang tentang ujian iman, godaan setan, dan ketaatan luar biasa dari seorang nabi pilihan Allah subhanahu wa ta’ala.

Ribuan tahun sebelum jutaan manusia berkumpul di Mina, padang tandus itu pernah menjadi saksi perjalanan agung seorang bapak para nabi, yaitu Nabi Ibrahim 'alaihissalam.

Suatu malam, di keheningan kota Hebron (Umat Islam menyebutnya Al-Khalil), Palestina, Ibrahim 'alaihissalam mendapat mimpi dari Allah ﷻ

Dalam mimpi itu, dia diperintahkan untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya, Nabi Ismail 'alaihissalam.

Perintah itu bukan perkara mudah. Ismail 'alaihissalam adalah anak yang telah lama dinanti. Anak yang tumbuh saleh dan patuh. Namun bagi Ibrahim 'alaihissalam, cinta kepada Allah ﷻ berada di atas segalanya.

Dengan hati bergetar, Ibrahim 'alaihissalam menyampaikan mimpi itu kepada Ismail 'alaihissalam dengan penuh kesantunan seorang ayah.

Ismail muda tidak memberontak. Tidak menangis. Dengan penuh ketundukan, bahkan dia berkata: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah ﷻ kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Maka keduanya berjalan menuju tempat penyembelihan di Mina.

Di tengah perjalanan itu, setan datang menggoda. Pertama, setan mendatangi Ibrahim 'alaihissalam dan membisikkan keraguan: “Bagaimana mungkin engkau tega menyembelih anakmu sendiri?”

Namun Ibrahim 'alaihissalam tahu itu godaan. Dengan dibimbing Malaikat Jibril, dia mengambil batu-batu kecil dan melemparkannya ke arah setan sebagai tanda penolakan terhadap bisikan jahat.

Setan tidak menyerah. Ia mendatangi Hajar radhiyallahu 'anha, ibunda Ismail 'alaihissalam, mencoba mengguncang hatinya. Tetapi Hajar radhiyallahu 'anha tetap teguh dalam keimanan.

Lalu setan kembali datang kepada Ismail 'alaihissalam agar dia membangkang terhadap ayahnya. Namun Ismail juga menolak godaan itu.

Di tiga tempat berbeda itulah Ibrahim 'alaihissalam melempar batu-batu ke arah setan. Peristiwa itulah yang menjadi asal mula ibadah melempar jumrah.

Tiga tempat tersebut kemudian dikenal sebagai Jamarat, yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah. Hingga kini, jamaah haji mengikuti jejak spiritual itu di Mina.

Saat Ibrahim 'alaihissalam hendak melaksanakan perintah Allah ﷻ, kuasa-Nya terjadi. Allah ﷻ mengganti Ismail 'alaihissalam dengan seekor kambing besar sebagai kurban.

Ketaatan Ibrahim 'alaihissalam  dan Ismail 'alaihissalam telah lulus dari ujian besar. Peristiwa itu menjadi simbol kepatuhan total kepada Sang Maha Kuasa, keberanian melawan godaan setan, dan keikhlasan dalam berkorban.

Karena itulah, setiap lemparan jumrah sejatinya adalah simbol perlawanan manusia terhadap hawa nafsu, kesombongan, dan bisikan keburukan.

Berabad-abad kemudian, Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam (ﷺ) datang membawa syariat Islam yang sempurna. Pada haji wada’, beliau mencontohkan langsung tata cara melempar jumrah kepada para sahabat di Mina.

Baginda ﷺ melempar tujuh batu kerikil sambil bertakbir,

“Allahu Akbar!” Setiap lemparan menjadi simbol keteguhan iman. Sejak saat itu, umat Islam di seluruh dunia mengikuti sunnah tersebut hingga saat ini.

Hari-hari ini Mina dipenuhi jutaan jamaah dari berbagai bangsa. Tua, muda, kaya, miskin, laki-laki, perempuan, kulit putih, kulit hitam, kulit berwarna, semuanya memakai kain ihram yang sama.

Mereka berjalan membawa kerikil kecil menuju jamarat. Di bawah terik matahari, mereka melempar batu-batu kerikil sambil berdoa dalam hati, melawan sifat sombong, membuang iri dan dengki, mengalahkan amarah, serta mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.

Batu yang dilempar memang kecil. Tetapi makna di baliknya sangat besar. Karena sesungguhnya, jumrah bukan tentang melempar batu kepada setan yang terlihat. Melainkan perjuangan manusia melawan ‘setan’ dalam dirinya sendiri.

Dan setiap tahun, di Mina, kisah agung Nabi Ibrahim 'alaihissalam, Nabi Ismail 'alaihissalam, dan Hajar radhiyallahu 'anha tetap hidup melalui jutaan langkah para tamu Allah ﷻ.

Selesai

Penulis: Ketua Umum Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah Bogor, Dr. Ir. H. Naufal Mahfudz

Bagikan

Komentar

Berita Terkait