Feature – Maryam Aqil, perempuan pengurus jenazah di tengah luka perang Lebanon

Orang-orang menghadiri prosesi pemakaman massal bagi para korban yang tewas akibat serangan 'drone' Israel di Nabatieh al-Fawqa, Lebanon selatan, pada 7 Juli 2026. (Xinhua/Ali Hashisho)

Beirut, Lebanon (Xinhua/Indonesia Window) – Dengan jubah hitam panjang dan kerudung, Maryam Aqil menyusuri jalan-jalan kota Nabatieh yang porak-poranda, melewati bangunan-bangunan yang rusak akibat serangan artileri dan sejumlah ruas jalan yang masih hancur akibat perang.

Bagi banyak orang, Aqil mungkin terlihat seperti perempuan setempat yang berjalan melewati kampung halamannya, sebuah kota di Lebanon selatan. Namun, setiap sudut kota membawanya kembali pada masa perang, ketika Aqil memikul salah satu tugas terberat, yakni memandikan jenazah para korban serangan udara, mengumpulkan jasad mereka, dan memakamkan mereka.

Aqil, yang berusia 60-an tahun, tetap tinggal di Nabatieh ketika banyak orang lainnya memilih pergi dari kota tersebut. dia mengatakan kepada Xinhua bahwa dirinya tidak mencari peran yang luar biasa, tetapi dia merasa bahwa keluarga para korban membutuhkan seseorang untuk menghormati orang-orang terkasih mereka yang telah berpulang dan mempersiapkan mereka untuk perpisahan terakhir.

"Sering kali, saya sendirian karena tidak ada orang lain yang bisa melakukan tugas ini," tutur Aqil.

Aqil masih mengingat gempuran artileri yang tiada henti, serta suara sirene ambulans dan kendaraan Palang Merah yang meraung melaju ke arahnya, membawa para korban yang direnggut nyawanya tanpa pandang bulu oleh serangan-serangan tersebut, termasuk warga lanjut usia (lansia), perempuan, dan anak-anak.

Kisah yang begitu membekas itu terjadi di tengah perang yang dilancarkan Israel di Lebanon, yang telah menelan banyak korban, dengan 4.346 orang tewas dan 12.301 lainnya terluka sejak 2 Maret, menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon.

Tugas tersebut meninggalkan dampak yang mendalam bagi Aqil.

"Tak seorang pun dapat melihat jasad manusia tanpa merasa terpengaruh. Dan yang paling membekas bagi saya adalah anak-anak yang tubuhnya tercabik-cabik bukan karena kesalahan mereka. Saya sangat menderita," ungkapnya.

Aqil sendiri kehilangan sepupunya akibat serangan udara. Sambil menunjuk sejumlah tempat di sekitarnya, Aqil mengenang kembali bahaya-bahaya yang pernah dihadapinya.

"Di sini, sebuah rumah terkena serangan artileri. Rumah lainnya hancur. Ada sebuah jalan dan di sana keluarga-keluarga menghilang, dan setiap sudut menjadi saksi sebuah peristiwa yang meninggalkan kenangan tentang seseorang yang saya kenal."

"Hanya ada garis tipis antara hidup dan mati," ujarnya.

Meskipun pedih melihat jasad-jasad yang hangus dan tercabik-cabik, Aqil memandang pekerjaannya sebagai tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

"Keluarga-keluarga itu menunggu orang-orang terkasih mereka, dan saya menganggap hal itu sebagai tugas saya. Mereka membutuhkan seseorang untuk berada di sisi mereka," katanya.

Biasanya, Aqil menggunakan kapur barus dan sabun Arab tradisional, yang diperolehnya dari pusat-pusat kesehatan, untuk memandikan jenazah.

"Terlepas dari semua kesulitan yang ada, saya tidak pernah berpikir untuk pergi," kata Aqil.

Di tengah situasi tenang yang masih rapuh di Nabatieh dan desa-desa sekitarnya, Aqil menyusuri jalan-jalan yang menyimpan kenangan akan dentuman bom.

"Waktu mungkin menghapus sebagian detail, tetapi tempat tidak pernah lupa. Di sini, pernah terjadi serangan udara; di sana, sebuah keluarga kehilangan salah satu anggotanya; dan di tempat lain, saya membawa jasad seseorang yang tewas," kata Aqil. "Tempat-tempat ini telah menjadi bagian dari ingatan saya."

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait