
Feature – Dari benteng berusia 2.000 tahun, perempuan Afghanistan menemukan jalan lewat seni

Seorang wanita bekerja di sebuah bengkel keramik di Herat, Afghanistan, pada 9 Agustus 2026. (Xinhua/Saifurahman Safi)
Herat, Afghanistan (Xinhua/Indonesia Window) – Mengelola sebuah pusat pelatihan seni rupa kecil dan sebuah toko di dalam Arg-e-Hera, sebuah benteng bersejarah yang berusia lebih dari 2.000 tahun di Kota Herat, Afghanistan barat, Quraish Malikzada berbisik penuh sukacita bahwa dia memperoleh penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya.
"Saya memiliki penghasilan yang cukup. Para pengunjung, termasuk warga asing, sering membeli produk saya, dan bahkan pengunjung dari Kabul dan kota Mazar-i-Sharif di bagian utara membeli barang-barang kami," ujar Malikzada kepada Xinhua baru-baru ini di tempat kerjanya.
Merawat ketiga anaknya yang menderita penyakit kronis, Malikzada dengan gembira mengatakan bahwa dia telah melatih 40 wanita dan anak perempuan selama enam tahun terakhir, dan 15 di antaranya kini menjalankan usaha sendiri di luar benteng untuk menghidupi diri mereka serta keluarga mereka.
Sambil memamerkan beragam karyanya, mulai dari lukisan hingga karya seni miniatur dan kaligrafi, perajin itu menggambarkan karyanya sebagai "seni yang penuh kegembiraan", sambil mengatakan bahwa mereka yang berkecimpung di industri ini pada dasarnya dapat mengatasi depresi dan masalah psikologis serupa.
"Ini seni yang menyenangkan karena kita berkarya dengan lukisan dan warna. Orang-orang menyukainya, dan kami merasa puas dengan karya kami serta hasilnya," kata Malikzada.
Menyuarakan pandangan serupa, seorang perajin sekaligus perempuan muda lainnya, Samya Suliman Khil, berpendapat bahwa mempelajari dan mempromosikan seni rupa dapat membuka peluang kerja serta menjadi sarana pemulihan bagi perempuan.
"Beberapa perempuan yang mengalami depresi di rumah pulih setelah bergabung dengan kami di galeri dan mulai bekerja di sini," ujar Suliman Khil kepada Xinhua di workshop-nya.
Para siswa dan peserta pelatihan dalam workshop tersebut diajarkan keterampilan menjahit, menyulam, seni miniatur, serta kaligrafi pada media kayu dan kaca.
Menjabat sebagai ketua di sebuah lembaga lokal bernama Naiko Cultural and Artistic Institution, Suliman Khil yang energik dan ambisius berkata dengan penuh keyakinan, "Saat ini, kami memiliki 170 murid yang siap lulus, dan kami berencana untuk menerima 300 anak perempuan lagi dan melatih mereka dalam waktu dekat."
"Anak-anak perempuan dari berbagai latar belakang dan kelompok usia, termasuk mereka yang tidak dapat melanjutkan pendidikan universitas dan bahkan beberapa guru yang menderita depresi, telah bergabung dengan lembaga kami. Naiko menyambut mereka layaknya seorang ibu," imbuh Suliman Khil yang masih muda itu.
Banyak wanita percaya bahwa duduk berdiam diri di rumah dapat menimbulkan berbagai gangguan fisik dan mental bagi mereka.
"Sangat sulit bagi seorang anak perempuan yang terbiasa bekerja di luar untuk berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa-apa. Bagi saya, tinggal di rumah itu membosankan karena hal itu membuat Anda kian terisolasi dan merasa tertekan. Itulah sebabnya saya lebih memilih untuk bekerja," ujar Susan Nuri, seorang jurnalis perempuan.
Nuri, yang bekerja di sebuah stasiun radio lokal, mengatakan kepada Xinhua bahwa dia merasa senang ketika programnya mendapat dukungan dari banyak pendengar.
"Untungnya, program radio saya memiliki banyak pendengar, dan mereka memberikan semangat kepada kami," ujarnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China rayakan Festival Qingming dengan makam ramah lingkungan yang semakin populer
Indonesia
•
08 Apr 2023

Studi sebut 70 persen serangan beruang di Jepang terjadi di area-area yang dihuni manusia
Indonesia
•
28 Oct 2025

Riset: 1 dari 5 orang Indonesia berisiko alami masalah kesehatan mental
Indonesia
•
30 Oct 2021

Beijing akan rampungkan restorasi ekologis 8.000 hektare lahan pada 2023
Indonesia
•
04 Feb 2023


Berita Terbaru

Opini – Memuliakan guru, menjaga akal bangsa
Indonesia
•
16 Aug 2026

621 tahun jejak Cheng Ho, Semarang kembali hidupkan warisan akulturasi budaya
Indonesia
•
16 Aug 2026

Anak di bawah 16 tahun bakal dilarang akses media sosial di Norwegia
Indonesia
•
15 Aug 2026

Feature – Selimut, bunga, dan surat: Kisah persahabatan Xi Jinping dengan orang-orang di dunia
Indonesia
•
15 Aug 2026
