Feature – Dari sampah jadi uang! Daur ulang berbasis teknologi dorong ekonomi sirkular di China

Orang-orang bekerja di Huge Recycle, perusahaan yang menangani pemulihan dan daur ulang limbah rumah tangga, di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China timur, pada 14 Januari 2026. (Xinhua/Jiang Han)
Tempat sampah pintar memilah barang yang dapat didaur ulang hingga mencapai 98,5 persen, dengan rata-rata volume daur ulang bulanan mencapai 1.000 ton.
Hangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dengan memindai kode, membuka penutup mesin, dan memasukkan botol, Yuan Meirong menyelesaikan proses daur ulang dalam waktu kurang dari 10 detik. Dengan bunyi ‘ding’, 0,8 yuan masuk ke rekeningnya.
*1 yuan = 2.434 rupiah
"Ini sangat praktis," ujar warga asal Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang, China timur, itu sambil menunjuk ke arah sebuah tempat sampah daur ulang pintar. "Kini saya bisa dengan mudah mendaur ulang kotak pengiriman dan botol untuk mendapatkan sedikit imbalan. Ini menyenangkan."
Dioperasikan oleh perusahaan daur ulang berbasis internet Lovere, tempat sampah pintar itu merupakan satu dari 870 unit yang telah ditempatkan di hampir 400 komunitas tempat tinggal di Distrik Xihu, Hangzhou, sejak peluncuran uji cobanya pada Juli 2024.
Warga dapat memasukkan nomor telepon atau memindai kode QR untuk mendaur ulang barang-barang seperti botol plastik, kardus, pakaian lama, dan wadah makanan pesan antar. Tempat sampah tersebut secara otomatis menimbang barang dan membayar sekitar 0,6 yuan per kilogram langsung ke akun pengguna.
Lebih dari sekadar kemudahan, tempat sampah ini menunjukkan bagaimana teknologi memfasilitasi monetisasi aliran limbah di berbagai kota di China, mengubah pembuangan pasif menjadi partisipasi aktif masyarakat dalam ekonomi sirkular.
Sejak tempat sampah pintar tersebut mulai beroperasi, tingkat akurasi pemilahan barang yang dapat didaur ulang telah mencapai 98,5 persen, dengan rata-rata volume daur ulang bulanan mencapai 1.000 ton, kata Zhang Yixiang, kepala Lovere cabang Hangzhou.
Perusahaan itu telah menempatkan lebih dari 50.000 unit tempat sampah di 38 kota dan mendaur ulang 2 juta ton untuk 30 juta pengguna.
Di Distrik Xihu saja, warga telah menggunakan tempat sampah tersebut sebanyak 2,58 juta kali dan menerima total 4,2 juta yuan. Pengguna dengan peringkat tertinggi telah mendaur ulang 9 ton sampah dan menghasilkan 5.400 yuan, menurut perusahaan tersebut.
Zhang Kang, kepala operasional Lovere cabang Hangzhou, mengatakan sensor akan mendorong pengangkutan hanya ketika tempat sampah sudah penuh, dan pusat pemilahan otomatis mengategorikan material menjadi lebih dari 80 jenis untuk dijual.
"Dengan skala yang lebih besar, bisnis ini diperkirakan akan membawa keuntungan," ujarnya.
Rekomendasi Komite Sentral Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) untuk perumusan Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) bagi pembangunan ekonomi dan sosial negara tersebut mengusulkan promosi ekonomi sirkular.
Di Xianyu, platform perdagangan barang bekas terkemuka milik raksasa internet China, Alibaba, rata-rata 7 juta barang bekas terdaftar setiap hari pada 2025, dengan volume perdagangan harian naik 30 persen secara tahunan (yoy).
"Setiap transaksi adalah partisipasi pengguna dalam gaya hidup ramah lingkungan," kata Ding Jian, CEO platform tersebut.
Dari April 2024 hingga Maret 2025, pengguna Xianyu mengurangi emisi karbon sebesar 11,8 juta ton melalui perdagangan dan daur ulang, setara dengan konsumsi listrik tahunan 7,4 juta rumah tangga, ujar Ding.
Menurut Asosiasi Ekonomi Sirkular China (China Association of Circular Economy), ekonomi sirkular menyumbang sekitar 30 persen dari pengurangan karbon negara tersebut dari 2021 hingga 2025, dan proporsi ini diperkirakan meningkat menjadi 35 persen per 2030.
Di Distrik Yuhang, Hangzhou, warga bernama Chai Yuyong memuji ‘Huge’, layanan daur ulang dari rumah ke rumah, yang mengambil sofa dan meja lamanya secara gratis dalam waktu 20 menit.
Warga melakukan pemesanan melalui aplikasi, dan seorang petugas tiba dalam waktu satu jam untuk mengambil, menimbang, serta membayar barang-barang seperti peralatan rumah tangga lama.
"Saya tinggal di lantai atas dan kerepotan jika harus membuang furnitur lama yang besar sendirian. Kini, hanya dengan satu ketukan pada ponsel saya, mereka datang untuk mengambil dan mengangkutnya secara gratis. Ini benar-benar melegakan," kata Chai.
Hu Shaoping, wakil presiden perusahaan Huge Recycle, mengatakan bahwa dalam 10 tahun terakhir, perusahaan tersebut telah membangun rantai menyeluruh, mulai dari pengambilan sampah rumah tangga hingga proses pemilahan, pembongkaran, dan pemanfaatan kembali sumber daya.
Layanan ini menawarkan harga yang transparan untuk peralatan bekas dengan berbagai ukuran. Warga dibayar dalam bentuk ‘koin hijau’, yang dapat ditukarkan menjadi uang tunai atau dibelanjakan di mal daring milik Huge, sehingga semakin mendorong konsumsi hijau. Hingga saat ini, perusahaan tersebut telah mengeluarkan koin hijau senilai hampir 500 juta yuan.
Xu Lin, profesor di Universitas Zhejiang, menyatakan bahwa teknologi pintar menjadikan daur ulang dan konsumsi hijau semudah memindai ponsel. Tindakan-tindakan kecil ini, katanya, menunjukkan bagaimana masyarakat beralih dari sekadar diberi tahu apa yang harus dilakukan ke mengambil peran utama dalam ekonomi sirkular.
"Jika potensi penuh partisipasi publik dapat dilepaskan, pengurangan karbon akan menjadi konsensus sosial dan kebiasaan sehari-hari bagi semua orang," ujar Xu.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

ADB: Asia-Pasifik masih hadapi berbagai tantangan, namun tetap tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
29 Sep 2024

Melonjaknya harga roti pita picu kemarahan publik di Turkiye
Indonesia
•
01 Mar 2024

Perekonomian UE dipersiapkan untuk hindari resesi, tetapi hambatan tetap ada
Indonesia
•
14 Feb 2023

Investasi UEA di Indonesia 259 juta dolar AS selama lima tahun terakhir
Indonesia
•
14 Dec 2020
Berita Terbaru

Tarif Trump berdampak pada rakyat AS sendiri, ekonom desak bantuan sosial
Indonesia
•
24 Feb 2026

Fokus Berita – Eksportir Inggris panik usai AS naikkan tarif jadi 15 persen
Indonesia
•
24 Feb 2026

Trump teken perintah eksekutif tarif global 10 persen
Indonesia
•
22 Feb 2026

Trump naikkan tarif global baru dari 10 persen jadi 15 persen
Indonesia
•
22 Feb 2026
