
Feature - Menapaki warisan Islam Melayu di Pulau Penyengat

Menteri Agama Republik Indonesia KH. Nasaruddin Umar mengamati mushaf Al-Qur'an di Masjid Raya Sultan Riau, di Pulau Penyengat, Rabu (14/1/2026). (Kementerian Agama RI)
Pulau Penyengat, yang terletak di perairan Kepulauan Riau, bukan sekadar destinasi wisata sejarah, melainkan juga pusat kejayaan Kesultanan Melayu Riau-Lingga, sekaligus ruang tumbuh peradaban Islam dan literasi Melayu yang pengaruhnya melampaui batas geografis zamannya.
Jakarta (Indonesia Window) - Fajar belum sepenuhnya terbit ketika kapal yang membawa Menteri Agama Republik Indonesia KH. Nasaruddin Umar dan rombongan perlahan menepi di Pulau Penyengat, Rabu (14/1).
Langit masih gelap, laut tenang, dan angin berembus lembut, menghadirkan suasana hening yang seolah mengantar langkah menuju sebuah pulau kecil dengan sejarah besar, ungkap Kementerian Agama RI dalam situs jejaringnya yang dikutip Indonesia Window pada Jumat.
Pulau Penyengat, yang terletak di perairan Kepulauan Riau, bukan sekadar destinasi wisata sejarah, melainkan juga pusat kejayaan Kesultanan Melayu Riau-Lingga, sekaligus ruang tumbuh peradaban Islam dan literasi Melayu yang pengaruhnya melampaui batas geografis zamannya.
Setibanya di pulau sebelum waktu subuh, Menteri Agama menyempatkan diri berjalan mengitari kawasan Masjid Raya Sultan Riau.
Dalam cahaya temaram, bangunan masjid yang didominasi warna kuning dan hijau tampak berdiri megah, seakan menyimpan ribuan doa dan jejak langkah para ulama serta bangsawan Melayu yang pernah memakmurkannya.
Tak lama kemudian, Menteri Agama memimpin sholat subuh berjamaah bersama masyarakat di Masjid Raya Sultan Riau.
Barisan saf yang tersusun rapi menghadirkan suasana khusyuk, menyatukan pemimpin dan umat dalam ibadah yang sederhana namun sarat makna.
Masjid Raya Sultan Riau merupakan salah satu peninggalan terpenting di Pulau Penyengat.
Masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1803 dan rampung pada 1832. Keunikan masjid ini terletak pada teknik konstruksinya yang menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir, dan tanah liat sebagai perekat, menjadikannya tetap kokoh meski telah berusia lebih dari dua abad.
Arsitektur masjid ini juga memuat filosofi keislaman yang mendalam. Terdapat 13 kubah berbentuk bawang dan empat menara di setiap sudut bangunan.
Jika dijumlahkan, angka tersebut melambangkan 17 rakaat salat wajib dalam sehari semalam, sebuah simbol penghambaan yang terpatri dalam desain bangunan.
Di dalam masjid tersimpan pula mushaf Al-Qur’an tulis tangan yang sangat berharga. Salah satunya ditulis oleh Abdurrahman Stambul pada 1867 yang merupakan seorang penduduk Pulau Penyengat yang dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama Islam.
Mushaf ini menjadi bukti bahwa Pulau Penyengat pernah menjadi pusat pembelajaran dan penyalinan Al-Qur’an yang hidup.
Usai Salat Subuh, perjalanan spiritual Menteri Agama berlanjut dengan ziarah ke makam Engku Putri Raja Hamidah.
Kompleks pemakaman keluarga kerajaan ini tampak teduh dan terawat, dengan nisan-nisan yang dibalut kain kuning sebagai simbol kebesaran dan kehormatan bangsawan Melayu.
Ziarah kemudian dilanjutkan ke makam Raja Ali Haji, tokoh besar yang meletakkan dasar bahasa Melayu baku melalui karya Gurindam Dua Belas.
Dari pulau inilah gagasan tentang bahasa, adab, dan ilmu pengetahuan tumbuh dan kelak menjadi fondasi bahasa Indonesia.
Pulau Penyengat sendiri memiliki sejarah panjang sebagai hadiah pernikahan Sultan Mahmud Syah kepada permaisurinya, Engku Putri Raja Hamidah, pada tahun 1805.
Sejak saat itu, pulau ini berkembang menjadi pusat pemerintahan, keagamaan, dan intelektual Kesultanan Melayu Riau-Lingga.
Dalam catatan sejarah, Pulau Penyengat juga berperan sebagai basis pertahanan melawan kolonialisme.
Benteng Bukit Kursi yang dibangun oleh Raja Haji Fisabilillah menjadi saksi perjuangan rakyat Melayu dalam mempertahankan kedaulatan dan martabat negeri.
Rombongan Menteri Agama kemudian mengunjungi Balai Adat Pulau Penyengat. Bangunan bergaya rumah panggung tradisional Melayu ini didominasi warna kuning dan hijau.
Di dalamnya terdapat pelaminan Melayu bersulam benang emas, replika kamar pengantin, galeri foto para sultan, serta koleksi artefak dan perlengkapan adat.
Di bagian bawah Balai Adat, terdapat sebuah sumur air tawar yang telah berusia ratusan tahun.
Meski berada sangat dekat dengan laut, airnya tetap jernih dan tawar, serta diyakini tidak pernah kering. Sumur tersebut hingga kini masih dimanfaatkan oleh masyarakat dan pengunjung.
Perjalanan berlanjut ke Balai Maklumat Indera Sakti, pusat dokumentasi dan museum naskah kuno yang menjadi jantung intelektual Pulau Penyengat.
Di tempat tersebut tersimpan sekitar 500 manuskrip beraksara Arab-Melayu yang mencakup bidang keagamaan, sastra, ilmu pengetahuan, dan administrasi kerajaan.
Balai Maklumat juga merekam jejak Khutub Khanah Marhum Ahmadi, perpustakaan umum pertama di Nusantara yang berdiri pada tahun 1886.
Dari sinilah Pulau Penyengat pernah menjadi salah satu pusat percetakan dan penulisan buku paling produktif di Asia Tenggara pada abad ke-19.
Kunjungan Menteri Agama ditutup dengan berkeliling Kampung Datuak bersama Gubernur Kepulauan Riau dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau.
Interaksi hangat dengan masyarakat menjadi penegasan bahwa warisan sejarah tidak hanya dirawat melalui bangunan, tetapi juga melalui kedekatan dan keberlanjutan nilai-nilai spiritual.
Pulau Penyengat hingga kini tetap hidup sebagai simbol kebesaran, intelektualitas, dan spiritualitas Melayu.
Melalui kunjungan tersebut, Menteri Agama menegaskan pentingnya merawat warisan Islam Nusantara sebagai sumber nilai, identitas, dan inspirasi bagi perjalanan bangsa Indonesia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

India punya pilot wanita terbanyak di dunia, kalahkan AS
Indonesia
•
10 Aug 2022

Media: Akademisi muda Jepang pindah ke China untuk peluang yang lebih baik
Indonesia
•
20 Oct 2022

WHO peringatkan adanya "peningkatan tajam" kasus HIV di Filipina, Fiji, dan Papua Nugini
Indonesia
•
28 Oct 2025

Hamas sebut bantuan yang masuk ke Gaza hanya penuhi kurang dari 1 persen kebutuhan penduduk
Indonesia
•
26 May 2025


Berita Terbaru

Temu alumni program pelatihan China digelar di Jakarta, perkuat kerja sama Indonesia-China
Indonesia
•
13 Jun 2026

Ikon budaya pop asal China Labubu tampil dalam upacara pembukaan Piala Dunia 2026
Indonesia
•
13 Jun 2026

Main medsos 2 jam sehari bisa tingkatkan risiko depresi pada remaja, studi 10 tahun ungkap faktanya
Indonesia
•
13 Jun 2026

1,8 miliar orang di dunia kurang olahraga, WHO nilai china punya praktik yang efektif
Indonesia
•
12 Jun 2026
