“Fake List”: Kisah perundungan

“Fake List”: Kisah perundungan
Ilustrasi. (Photo by Angelina Litvin on Unsplash)

Bagaimana perasaanmu kalau kamu difitnah? Apakah kamu merasa sedang diperlakukan tidak adil?

Jika iya, berarti perasaan kita sama.

Masalah ini bermula dari peraturan sekolah, saat guru kami menunjuk dua orang dari kelas 6 dengan tugas mencatat nama murid yang ribut ketika dzikir sehabis sholat Zhuhur berjamaah di masjid sekolah.

Sebenarnya, aku sudah berdzikir dengan suara keras dan khusyuk seperti siswa yang lain.

Mulutku sudah komat-kamit dan tidak melakukan pelanggaran, seperti ngobrol dan banyak bergerak.

Namun, aku dan temanku yang duduk berdampingan tetap saja dicatat oleh para pencatat itu.

Sebenarnya banyak yang berpikiran bahwa mereka itu asal catat nama saja, tanpa fakta.

Namun, kita harus berpikiran positif kan?

Hingga ada kejadian yang membuatku sudah tidak tahan lagi.

Suatu ketika, seorang teman (sebut saja si X) tertangkap basah sedang menyuruh si pencatat itu mencatat namaku. Padahal, aku tidak ribut atau pun ngobrol, melainkan dzikir dengan tenang.

Aku memang sudah mempunyai firasat bahwa aku akan dicatat pada saat si X itu menoleh ke arahku sambil menatap sinis.

Saat selesai berdzikir, aku mendatangi si pencatat yang disuruh oleh si X.  Aku melihat selembar kertas di tangannya dan ternyata memang benar ada namaku di situ!

Aku tanya padanya, mengapa dia mencatatku? Apa alasannya?

Firasatku benar! Dia mencatat namaku hanya karena disuruh oleh si X.

Aku lantas menegur dan menyuruh dia untuk menghapus namaku dari daftar murid yang ribut.

Namun dia tidak mau melakukannya. Teman-temanku yang lain datang dan membelaku karena aku toh memang tidak ribut dan tidak melanggar aturan sehingga namaku tak boleh masuk daftar itu.

Setelah mendengarkan penjelasanku dan desakan dari para siswa lainnya, si pencatat itu pun menghapus namaku yang sudah terlanjur dia tulis di atas kertas itu.

Fake list

Daftar itu aku namakan fake list, artinya catatan palsu yang sengaja dibuat untuk mengerjai orang tertentu saja.

Menurutku, tindakan itu tak beda dengan bullying atau merundung orang yang tidak bersalah.

Walaupun perundungan seperti itu sudah aku alami beberapa kali, aku tetap saja heran, mengapa seseorang sanggup melakukan hal tersebut pada kawannya sendiri yang tak pernah sedikit pun menjahati dirinya. Lebih-lebih kejadiannya di masjid, tempat yang suci.

Si pencatat itu harusnya menjalankan tugas yang diberikan oleh guru dengan amanah. Seharusnya dia melakukan tugasnya itu sesuai dengan perintah guru, dan tidak semena-mena.

Mungkin temanku si pencatat itu lupa akan ajaran Islam bahwa memfitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

Kejadian fake list itu betul-betul membuatku sedih sampai-sampai aku menangis karena kena hukuman lagi. Gara-gara dihukum aku sampai tidak sempat makan siang karena jatah waktunya habis.

Waktu aku ceritakan kejadian itu pada orang tuaku, aku disuruh menyelesaikan masalah itu sendiri supaya tidak berlarut-larut. Orang tuaku menyuruhku berani bertindak jika memang aku benar.

Akhirnya, aku beranikan diri bicara baik-baik dengan si pembuat fake list. Aku juga ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada guru.

Tapi kalau kasus ini terus berlanjut, ayahku bilang: “Jadikan 2S sebagai penolong, yaitu Sabar dan Sholat.

Aku jadi ingat kisah Nabi Yusuf ‘alaihi salam yang kena bully oleh saudara-saudaranya sendiri karena mereka cemburu terhadap dirinya.

Nabi Yusuf ‘alaihi salam sampai dibuang ke dalam sumur, tapi beliau tidak dendam meskipun selalu disakiti.

Karena kesabarannya Nabi Yusuf ‘alaihi salam akhirnya diangkat menjadi bangsawan alias raja ketika beranjak dewasa.

Aku berharap semoga orang yang suka membully, memfitnah atau mencari-cari kesalahan orang lain yang tidak bersalah menjadi sadar.

Si pembuat fake list yang kuceritakan akhirnya berubah menjadi baik, dan kami pun tetap berteman.

Mudah-mudahan begitu seterusnya. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi hingga aku lulus dari Sekolah Dasar.

Penulis: ARadhwa Sagena Hasyim (murid kelas 6; tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur)

20 Komentar

  1. Saya juga pernah merasakannya nak, zaman SD thn 1985 atw 86an lah, zamannya emakmu karena kami 1 kelas waktu itu, dituduh mencuri pulpen teman tapi tidak pernah melakukannya. Bedanya, saya tidak berani bicara dengan orang yang menuduh saya (badannya paling besar soalnya??).
    Tulisan ini mewakili perasaan saya.
    Lanjutkan ya nak??

  2. MasyaaAllah tulisannya bagus, ini bisa menjadi bahan refleksi juga untuk orang dewasa terutama bagi para pendidik untuk memikirkan lagi bagaimana caranya agar kasus bullying disekolah bisa diatasi dengan baik, kalau bisa bahkan dicegah jangan sampai terjadi. Semangat terus buat tulisan begini ya!

  3. Perundungan memang hal yang sering terjadi di sekitar kita, bisa menjadi pengalaman buruk sekaligus pengalaman yang bisa menjadi pelajaran di masa depan. Itulah mengapa perilaku saling menyayangi satu sama lain harus di tekankan sejak dini

  4. Terkadang manusia melakukan sesuatu yang dianggap hanya sebuah lelucon namun disisi lain tiap orang punya cara menanggapi hal tersebut ada yang menganggap hanya sebuah candaaan,ada pula yang mudah tersinggung
    Jadi sebaiknya kenali orang yang ingin kita jailin karena ga semua bisa nerima atau merespon baik apa yang kita lakukan

  5. Menurut saya, tulisan ini adalah curhat berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Dan mungkin ada kaitan nya dengan filsafat jika di cari tau kenapa si pembuat fake list itu bisa melakukan hal seperti itu. saya sangat mengapresiasi tindakan korban karena berbesar hati bisa memaafkan:) dan semoga si pembuat fake list tidak mengulangi kesalahannya.

  6. Tulisan ini bikin kita sadar, perundungan itu bener-bener terjadi di sekitar kita. Hal yang mungkin kita anggap sepele bisa jadi itu merupakan sebuah perundungan. Kita menganggap itu sepele karena kita tidak mencoba lebih dalam untuk mengetahui kejadian tersebut. Jadi yuk, mari kita lebih peduli terhadap sekitar.

  7. Perundungan memang sulit untuk dihindari terutama untuk orang orang yang merasa diri mereka lemah dan tidak berani melawan,namun saya belum menangkap alasan utama kenapa si X membuat fake list ini,but in my perspective,benar apa yang dikatakan penulis bahwa fake list seperti ini juga dapat dikategorikan sebagai perundungan,dengan berfikir secara teologis/religius,hal hal seperti ini mungkin dapat dihindari. Saya berpesan kepada penulis untuk tidak bersedih,karena orang orang seperti X itu ada banyak di dunia. So,tetap kuat ya berjalan di dunia ini 🙂

  8. sekarang pembullyan sering kali dianggap candaan, jika korban marah atau pun sedih para pelaku sering berlindung di kata “bercanda” ataupun “baperan”. ini lah yg membuat pembullyan makin marak terjadi

  9. Seharusnya pendidikan sikap ditekankan sedari kecil untuk mencegah hal-hal ini terjadi. Contoh hal yang harus di ajarkan : diajarkan untuk tidak berbohong, tidak membenci teman, tidak melakukan hal yang merugikan orang lain. Jika kita terjebak dalam situasi seperti diatas, ada baiknya kita melakukan yang penulis lakukan yaitu bertindak untuk membela kebenaran agar kita tidak seterusnya diperlakukan seperti itu.

  10. Sebuah perlakuan terkadang tidak kita sadar bahwa apakah itu baik atau benar. Kita bermaksud untuk memberikan sebuah perlakukan interaksi namun hal itu tidak akan selamanya bebas dilakukan dengan segala hal, perlu kita sadarin bahwa perilaku perlu diseleksi agar tidak adanya pernyataan bahwa itu sebuah perundungan sebuah pembullyan dimana kita melakukan hal yang menyebabkan kesalahan fatal. Oleh karena itu, pahami dulu apa yang kita lakukan apakah itu bermanfaat atau tidak perundungan bukan untuk membuat kita terasa hebat namun membuat kita terlihat buruk dimata orang lain

  11. Sebenar nya Masih banyak orang yang tak sadar bahwa ia menjadi korban dari perundungan ,mungkin karena faktor lingkungan yang juga mewajarkan perilaku itu sebagai “Jokes”.
    Bahkan hal yang bagi kita sepele tetap bisa menjadikan seseorang merasa terbully. Semoga semakin banyak orang yang sadar bahwa perundungan itu bukan lah hal yang sepele.

  12. Banyak yang menganggap bahwa bullying itu hanya sebuah lelucon, tapi sangat berdampak bagi sebagian orang dan membuat para korban mengalami masalah kesehatan mental gara² pembullyan. So, please stop bullying.

  13. Tulisan ini menyadarkan kita bahwa, hal sekecil apapun dengan tujuan yang tidak baik akan berakibat fatal nantinya. Apalagi jika kedua belah pihak sama² bersikeras untuk tidak mengalah, walaupun nantinya harus ada salah satu yang mengalah. Lalu, hal ini sangat sering terjadi karena dianggap sepele, tetapi bisa jadi bibit² perundungan bermula disana. Oleh karenanya, mari kita lebih peduli terhadap hal-hal kecil dan tidak menganggap itu sepele.

  14. Tulisan ini menyadarkan bahwa hal sepele seperti ini bisa berakibat fatal jika dilakukan terus menerus. Apalagi jika kedua belah pihak sama-sama bersikeras untuk memulai jalan damai. Dan juga perundingan seperti cerita diatas yang masih sering terjadi dan dianggap sepele. Oleh karena nya, mari kita lebih peduli terhadap sekitar dan stop bullying.

  15. Sekarang ini seringkali terjadi pembullyan dengan cover bercanda, tetapi kadang bahan candaan itu bisa merugikan untuk pihak lain. sebaiknya hal seperti itu dihindari agar tidak memicu tindakan pembullyan yang lain dan lebih berhati-hati dalam bercanda karna bisa saja orang yang kita ajak bercanda merasa tidak nyaman.

  16. Tak disangka, “bullying” atau perundungan dapat terjadi dimana saja bahkan di tempat yang suci sekalipun seperti cerita diatas. Ini merupakan fakta yang cukup menyedihkan apalagi terjadi di kalangan anak SD 🙁
    jujur saya kagum dengan anak yang mengalami pembullyan tersebut karena dia begitu tegardan bahkan ketika dibully dia tetap menanggapi dengan sabar. wahh.. menjadi sebuah pelajaran juga nih buat kita orang-orang yang jauh lebih dewasa dari si adik dalam cerita diatas:)

  17. Ketika kita dibully atau pun di fitnah, kita tidak boleh hanya diam saja, kita harus berani bertindak jika memang kita benar. Untuk kasus seperti perundungan di atas mungkin kita bisa menggunakan Theology Thinking agar hal serupa tidak terjadi kembali. Semangat terus buat penulis, semoga karyanya selalu sukses.

  18. Sebenarnya banyak sekali pelaku bullying yang melakukan hal tersebut hanya untuk bersenang-senang tanpa ada alasan yang khusus. Entah dia melakukannya secara sadar atau tidak. Maka dari itu kenapa pembentukan karakter dari kecil itu sangat penting. Saya sangat kagum dengan penulis karena bisa bersabar menghadapi hal tersebut. Semoga tidak ada lagi kejadian kejadian seperti yang penulis ceritakan diatas seterusnya, untuk penulis semangat berkaryaa yaa

  19. Sebenarnya banyak sekali pelaku bullying yang melakukan hal tersebut hanya untuk bersenang-senang tanpa ada alasan yang khusus. Entah dia melakukannya secara sadar atau tidak. maka dari itu kenapa pembentukan karakter dari kecil itu sangat penting. Saya kagum dengan penulis karena bersabar ketika menghadapi hal tersebut dan memaafkannya. semangat terus untuk berkaya yaa

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here