
China: Mayoritas negara Asia-Pasifik tak sambut baik upaya ekspansi NATO

Foto yang diabadikan pada 6 April 2022 ini menunjukkan sebuah patung dan bendera-bendera di kantor pusat NATO di Brussel, Belgia. (Xinhua/Zheng Huansong)
Ekspansi NATO di Asia mendapat penolakan tegas dari mayoritas negara Asia-Pasifik, dengan Indonesia dan Singapura mengatakan bahwa mereka tidak ingin menyaksikan "Perang Dingin baru" ataupun dipaksa memilih untuk berpihak pada China atau Amerika Serikat (AS).
Beijing, China (Xinhua) – Mayoritas negara Asia-Pasifik tidak menyambut baik upaya ekspansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Asia dan tentu saja tidak akan membiarkan Perang Dingin atau perang panas (hot war) terjadi lagi di Asia, ungkap Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China Wang Wenbin pada Senin (5/6).Pernyataan itu disampaikan Wang dalam konferensi pers rutin saat diminta berkomentar soal pernyataan pemimpin dari berbagai negara, termasuk Indonesia dan Singapura, yang mengatakan bahwa mereka tidak ingin menyaksikan "Perang Dingin baru" ataupun dipaksa memilih untuk berpihak pada China atau Amerika Serikat (AS) dalam Dialog Shangri-la yang digelar baru-baru ini.Dikatakan Wang, pernyataan itu merupakan indikasi yang jelas bahwa banyak negara di kawasan ini mewaspadai dan menentang upaya negara tertentu untuk memicu "Perang Dingin baru" di Asia dan memaksa negara-negara regional untuk berpihak ke salah satu sisi. Apa yang diinginkan oleh negara-negara di kawasan ini adalah mempertahankan kemandirian strategis serta menjaga kestabilan dan kemakmuran kawasan.Hal yang sangat memprihatinkan adalah bahwa negara-negara tertentu, yang mengklaim bahwa pihaknya menjunjung tinggi kebebasan dan keterbukaan serta bertekad untuk memelihara perdamaian dan kemakmuran di kawasan itu, pada kenyataannya justru membentuk kesepakatan dengan berbagai blok militer dan memperluas pengaruh NATO ke Asia-Pasifik, imbuh Wang.Sikap mayoritas negara di kawasan itu sangat jelas. Mereka menentang kemunculan blok-blok militer di kawasan tersebut, tidak menyambut baik upaya ekspansi NATO di Asia, tidak menginginkan replika konfrontasi blok di Asia, dan mereka tentu saja tidak akan membiarkan Perang Dingin atau perang panas terjadi lagi di Asia, kata Wang."Asia merupakan kawasan yang paling dinamis dan menjanjikan di dunia dari segi ekonomi, kawasan itu dapat menyediakan panggung yang luas bagi kerja sama yang saling menguntungkan, dan tidak seharusnya dipecah menjadi blok-blok yang terisolasi dan eksklusif," tutur sang jubir, seraya menyatakan bahwa negara-negara Asia menyambut baik upaya bersama untuk meraih keberhasilan bersama dan tidak menginginkan skema-skema yang dapat menimbulkan masalah di kawasan ini.Wang menyampaikan bahwa China secara tegas mendukung sentralitas Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan arsitektur kerja sama regional yang inklusif, dan ingin bekerja sama dengan negara-negara ASEAN dan mitra lainnya di kawasan itu untuk menjunjung tinggi semangat kerja sama yang terbuka dan saling menguntungkan, menentang segala retorika atau aksi yang memicu konfrontasi blok di Asia, dan bersama-sama memastikan bahwa Asia akan tetap menjadi pilar perdamaian, pelopor pembangunan, dan kawasan yang menjanjikan untuk menjalin kerja sama.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Menlu China dan Prancis gelar pertemuan, bahas hubungan bilateral
Indonesia
•
20 Dec 2022

Menkeu AS: Tidak legal bagi AS untuk menyita aset bank sentral Rusia
Indonesia
•
19 May 2022

Israel akan mulai perundingan gencatan senjata di Gaza, setujui rencana serangan terhadap Gaza City
Indonesia
•
23 Aug 2025

Warga New York gelar aksi unjuk rasa, kecam serangan militer AS terhadap Iran
Indonesia
•
01 Mar 2026


Berita Terbaru

Amerika Serikat terus menerus plinplan, Menlu Iran tak jamin ada perdamaian
Indonesia
•
30 May 2026

Belum ada kesepakatan yang difinalisasi dengan AS, Iran tegaskan hak kelola Selat Hormuz
Indonesia
•
30 May 2026

Hakim AS perintahkan nama Trump dihapus dari Kennedy Center
Indonesia
•
30 May 2026

Kekerasan seksual terkait konflik meningkat tajam di seluruh dunia pada 2025
Indonesia
•
30 May 2026
