Didorong permintaan AI, industri manufaktur Singapura optimistis hingga Maret 2027

Seorang wisatawan mengabadikan foto di Marina Bay, Singapura, pada 13 Agustus 2024. (Xinhua/Then Chih Wey)

Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – Sektor manufaktur Singapura tetap optimistis terkait prospek bisnis untuk enam bulan ke depan, yang ditopang oleh permintaan global berkelanjutan akan kecerdasan buatan (AI), meski ketidakpastian geopolitik membayangi prospek ekonomi, ujar Dewan Pembangunan Ekonomi (EDB) Singapura pada Senin (2/11).

Secara saldo tertimbang bersih, 24 persen produsen mempertahankan prospek bisnis yang positif antara Oktober 2026 dan Maret 2027 dibandingkan dengan kuartal ketiga tahun 2026, demikian pernyataan EDB.

Angka tersebut didapat dari 29 persen perusahaan yang memperkirakan kondisi yang lebih baik dan 5 persen lainnya yang mengantisipasi kemerosotan.

Klaster teknik presisi merupakan pihak yang paling optimistis, didukung oleh ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan investasi global terkait AI.

Klaster elektronik juga memperkirakan kondisi yang kuat, didorong oleh tingginya pesanan semikonduktor yang digunakan dalam aplikasi AI.

Sebaliknya, klaster bahan kimia menjadi pihak yang paling pesimistis, dengan perusahaan-perusahaan perminyakan mengkhawatirkan ketidakpastian pasokan bahan baku minyak mentah.

Secara saldo tertimbang bersih, 34 persen produsen memperkirakan bahwa output produksi akan meningkat pada kuartal keempat tahun 2026 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Selain itu, sebanyak 72 persen perusahaan memperkirakan tingkat ketenagakerjaan secara umum tidak berubah, sementara 23 persen lainnya mengantisipasi berbagai kesulitan dalam mengamankan pesanan ekspor, mengutip persaingan harga luar negeri serta ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, termasuk penerapan tarif dan tekanan inflasi.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait