
PBB alokasikan dana tambahan untuk atasi situasi yang kian buruk di Lebanon

Foto yang diabadikan pada 4 Oktober 2024 ini menunjukkan kerusakan yang disebabkan oleh serangan udara Israel di wilayah pinggiran selatan Beirut, Lebanon. (Xinhua/Bilal Jawich)
Daerah permukiman Beirut kembali menjadi sasaran serangan udara Israel yang intens pada malam hari, yang tampaknya melukai petugas penyelamat.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Mengingat kebutuhan kemanusiaan yang semakin parah di Lebanon, Koordinator Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Lebanon Imran Riza pada Jumat (4/10) mengumumkan tambahan 2 juta dolar AS dari Dana Kemanusiaan Lebanon guna mengatasi situasi yang memburuk di negara itu, menurut seorang juru bicara (jubir) PBB.Dana baru tersebut, yang diberikan bersamaan dengan alokasi baru-baru ini senilai 10 juta dolar AS dari Dana Respons Darurat Pusat (Central Emergency Response Fund), akan menambah total alokasi menjadi 12 juta dolar AS sejauh ini, tutur Stephane Dujarric, jubir untuk Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres, dalam sebuah konferensi pers harian.Dujarric mengatakan bahwa di bidang kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat mengumumkan penerbangan pertama yang mengangkut pasokan medis WHO, yang cukup untuk merawat puluhan ribu orang yang terluka, sudah tiba di Beirut, Lebanon. Pengiriman pasokan medis WHO lainnya direncanakan akan kembali dilakukan pada Jumat dan beberapa hari mendatang.Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan terus menyuarakan kekhawatiran akan keselamatan dan kesejahteraan warga sipil, di tengah meningkatnya serangan udara dan perintah pengungsian di negara tersebut. Israel mengeluarkan perintah evakuasi di bagian selatan, termasuk untuk sejumlah area di atas Sungai Litani dan area-area seperti El-Buss, yang menjadi salah satu kamp pengungsi Palestina. Perintah tersebut memaksa banyak keluarga untuk mengungsi dari daerah yang sebelumnya dianggap lebih aman."Warga sipil di kedua sisi Garis Biru di Lebanon dan di Israel harus diizinkan hidup dalam kedamaian dan ketenangan," kata Dujarric.
Relawan menemani anak-anak pengungsi di sebuah tempat penampungan di Sidon, Lebanon selatan, pada 2 Oktober 2024. (Xinhua/Ali Hashisho)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

OKI: penembakan Florida bukan cerminan Islam
Indonesia
•
07 Dec 2019

Penelitian dari Barat tunjukkan Islam sebagai agama damai
Indonesia
•
05 Aug 2021

Meski sepakati gencatan senjata di Gaza, Netanyahu sebut operasi militer Israel "belum berakhir"
Indonesia
•
13 Oct 2025

Presiden China adakan pertemuan dengan Putin lewat tautan video
Indonesia
•
31 Dec 2022


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
