COVID-19 – Rusia kembangkan metode tentukan kekebalan sel-T

COVID-19 – Rusia kembangkan metode tentukan kekebalan sel-T
Ilustrasi. Badan Biologi Medis Federal (FMBA) Rusia bersama dengan Universitas Kedokteran Pirogov dari Kementerian Kesehatan Rusia telah mengembangkan teknik diagnostik untuk menentukan kekebalan seluler terhadap virus corona. (Cassiopeia_Arts from Pixabay)
Advertiser Popin

Jakarta (Indonesia Window) – Badan Biologi Medis Federal (FMBA) Rusia bersama dengan Universitas Kedokteran Pirogov dari Kementerian Kesehatan Rusia telah mengembangkan teknik diagnostik untuk menentukan kekebalan seluler terhadap virus corona, kata layanan pers badan tersebut kepada Kantor Berita TASS, yang dikutip di Jakarta, Jumat.

Pernyataan itu menyebutkan bahwa para ilmuwan telah mengembangkan teknik diagnostik yang unik untuk menentukan daftar reseptor sel-T yang spesifik untuk SARS-CoV-2 berdasarkan sekuensing yang ditargetkan dari DNA manusia generasi berikutnya.

Sel T adalah ejenis sel darah putih yang merupakan kunci penting bagi sistem kekebalan dan merupakan inti dari kekebalan adaptif, sistem yang menyesuaikan respons kekebalan tubuh terhadap patogen tertentu.

‘T’ adalah singkatan dari ‘timus’, yakni- organ di mana sel-sel ini matang.

Kelenjar timus terletak di belakang tulang dada dan di antara paru-paru, dan hanya aktif sampai masa pubertas.

Setelah pubertas, timus mulai menyusut perlahan dan digantikan oleh lemak.

Timosin adalah hormon timus yang merangsang perkembangan sel-T untuk melawan penyakit.

Analisis klonotipe sel-T spesifik SARS-CoV-2 dalam sampel eksperimental menunjukkan korelasi tinggi antara keberadaan imunitas humoral dan seluler, dengan mayoritas absolut individu seropositif memiliki respons seluler-T spesifik SARS-CoV-2.

Pada saat yang sama, 30 persen orang yang terinfeksi virus corona dan tidak memiliki antibodi, memiliki sel-T.

Mereka yang tidak terinfeksi COVID-19 dan tidak memiliki kekebalan humoral terhadap infeksi, dalam beberapa kasus memiliki klonotipe sel-T.

Menurut FMBA, hal tersebut diduga karena kekebalan seluler T yang sudah ada sebelumnya, yang dikondisikan oleh virus corona musiman atau agen lain dari infeksi virus pernapasan akut.

Pengamatan tersebut membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Laporan: Redaksi

Advertiser Popin

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here