COVID-19 – WHO: Pandemik tingkatkan kematian anak seluruh dunia

COVID-19 – WHO: Pandemik tingkatkan kematian anak seluruh dunia
Ilustrasi. Selama hampir tiga dekade jumlah kematian balita global turun ke titik terendah dari 12,5 juta pada 1990 menjadi 5,2 juta pada 2019. (SeppH from Pixabay)

Jakarta (Indonesia Window) – Selama hampir tiga dekade jumlah kematian balita global turun ke titik terendah dari 12,5 juta pada 1990 menjadi 5,2 juta pada 2019, menurut perkiraan kematian baru yang dirilis oleh Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Divisi Populasi Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Grup Bank Dunia.

Namun, UNICEF dan WHO mengungkapkan bahwa pandemik COVID-19 telah mengganggu layanan kesehatan sehingga capaian selama puluhan tahun tersebut, menurut pernyataan WHO yang diterima di Jakarta, Rabu.

“Komunitas global telah melangkah jauh untuk memberantas kematian anak yang dapat dicegah saat pandemik COVID-19 menghentikan langkah kita,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore.

“Ketika anak-anak tidak diberi akses ke layanan kesehatan karena sistem yang terganggu, dan ketika perempuan takut melahirkan di rumah sakit karena takut terinfeksi, mereka juga bisa menjadi korban COVID-19. Tanpa investasi untuk memulai kembali sistem dan layanan kesehatan yang terganggu, jutaan anak balita, terutama bayi baru lahir, dapat meninggal,” tutur Fore.

Selama 30 tahun terakhir, layanan kesehatan untuk mencegah atau mengobati penyebab kematian anak, seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, komplikasi saat lahir, sepsis neonatal (infeksi darah yang terjadi pada bayi yang baru lahir), pneumonia (radang paru-paru), diare dan malaria, serta vaksinasi, telah berperan besar dalam menyelamatkan jutaan jiwa.

Saat ini negara-negara di seluruh dunia mengalami gangguan pada layanan kesehatan ibu dan anak, seperti pemeriksaan kesehatan, vaksinasi dan perawatan prenatal dan pasca melahirkan, karena keterbatasan sumber daya dan ketidaknyamanan umum dalam menikmati layanan kesehatan karena takut tertular COVID-19.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here