
Pakar harap COP15 hasilkan langkah konkret akhiri kehancuran keanekaragaman hayati

Morgan Katati, CEO Zambia Institute of Environmental Management, menjalani wawancara dengan Xinhua di Lusaka, Zambia, pada 13 Desember 2022. (Xinhua/Martin Mbangweta)
COP15 di Montreal, Kanada, harus menghasilkan resolusi praktis bagi semua negara untuk mengadopsi langkah-langkah guna melindungi keanekaragaman hayati dari kehancuran lebih lanjut.
Lusaka, Zambia (Xinhua) – Pertemuan ke-15 Konferensi Para Pihak Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Keanekaragaman Hayati (COP15) yang sedang berlangsung di Montreal, Kanada, harus menghasilkan resolusi praktis bagi semua negara untuk mengadopsi langkah-langkah guna melindungi keanekaragaman hayati dari kehancuran lebih lanjut, kata seorang pakar pada Selasa (13/12)."Konferensi Para Pihak ini sangat krusial karena ini adalah konferensi yang mencoba menangani isu-isu keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Anda tahu bahwa dunia telah kehilangan banyak hewan, tumbuhan, dan spesies terkait dalam jumlah yang sangat mengkhawatirkan," kata Morgan Katati, CEO Zambia Institute of Environmental Management, sebuah organisasi lokal yang memperjuangkan keadilan sosial dan lingkungan, dalam sebuah wawancara.Sang pakar mengatakan para pemangku kepentingan berharap bahwa COP15 akan memenuhi harapan masyarakat global dengan menghasilkan langkah-langkah konkret untuk mengakhiri kehancuran keanekaragaman hayati di dunia.Menurutnya, para pemangku kepentingan berharap konferensi tersebut akan menghasilkan teks hukum dan menegosiasikan kekuatan untuk memastikan bahwa dunia berada di jalur yang benar untuk menghentikan kepunahan keanekaragaman hayati, yang kini sedang terjadi dengan laju yang mengkhawatirkan.Katati mengatakan bahwa perubahan iklim merupakan risiko pengganda yang berdampak terhadap fauna dan flora serta sedang membawa dampak terhadap pengelolaan margasatwa.Dia menambahkan bahwa konferensi tersebut harus menghasilkan resolusi yang akan menangani perluasan populasi manusia dan pengaruhnya terhadap keanekaragaman hayati.Katati mengungkapkan kekhawatirannya bahwa pendanaan untuk perlindungan keanekaragaman hayati tidak sekuat mekanisme pendanaan untuk perubahan iklim.Meski mengakui keberadaan mekanisme pendanaan untuk perlindungan keanekaragaman hayati, seperti Biological Finance dan Global Environmental Facility, pakar tersebut menuturkan bahwa dana yang tersedia tidak memadai karena upaya pelestarian keanekaragaman hayati tergolong mahal dan membutuhkan dana dalam jumlah besar."Upaya pelestarian sangatlah mahal, apalagi jika berkaitan dengan restorasi spesies alam dan lingkungan. Itu tidak mudah, dan membutuhkan investasi skala besar," imbuhnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pele tunjukkan pemulihan dari infeksi pernafasan
Indonesia
•
13 Dec 2022

CNN: Anak-anak dan remaja AS lebih berpotensi tewas akibat senjata api
Indonesia
•
07 Apr 2023

Feature – Kedai Kopi TPS, ‘tempat penitipan suami’ di Pasar Bersih Sentul City
Indonesia
•
02 Aug 2025

Direktur Eksekutif CUS: Muslim Uighur perlu perhatian internasional
Indonesia
•
19 Dec 2023


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
