
China mulai studi kelayakan untuk konstelasi komputasi cerdas berbasis luar angkasa

Sejumlah orang mengunjungi pameran prestasi inovasi dalam Konferensi Komputasi Dunia (World Computing Conference) 2025 di Changsha, Provinsi Hunan, China tengah, pada 20 November 2025. (Xinhua/Ding Chunyu)
Komputasi berbasis luar angkasa menawarkan alternatif nol karbon (zero-carbon), berkelanjutan, dan dapat diakses secara luas.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – China meluncurkan studi kelayakan komprehensif dan evaluasi praproyek untuk konstelasi komputasi cerdas berbasis luar angkasa, kata seorang pejabat tinggi dari Administrasi Negara untuk Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Industri Pertahanan Nasional China.
Yu Guobin, deputi direktur departemen luar angkasa komersial di administrasi tersebut, mengungkapkan dalam Konferensi Industri Komputasi Antariksa (Space Computing Industry Conference) 2026 yang digelar di Beijing pada Jumat (3/4) bahwa pihaknya telah memimpin penyelenggaraan rapat perdana proyek tersebut serta sesi panel para pakar. Pekerjaan ini sedang dilaksanakan secara tertata, demikian dilaporkan Science and Technology Daily.
Komputasi berbasis luar angkasa merujuk pada penerapan kapasitas komputasional di luar angkasa, yang memungkinkan cakupan global tanpa hambatan melalui jaringan satelit. Dibandingkan dengan pusat data terestrial, keunggulan terbesarnya terletak pada kemampuan respons waktu nyata (real-time) dan cakupan global.
Yu menggarisbawahi kebutuhan strategis terkait pengembangan komputasi berbasis luar angkasa. Dia menyebut hal itu merupakan cara kunci untuk mengatasi berbagai hambatan dalam komputasi di darat dan memastikan pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan.
Pusat data tradisional dibatasi oleh konsumsi energi yang tinggi, keterbatasan lahan, biaya pendinginan yang mahal, serta cakupan yang terbatas, sehingga sulit memenuhi kebutuhan masa depan akan daya komputasi berskala ultrabesar, ramah lingkungan, dan memiliki cakupan global, ujar Yu. Sementara itu, komputasi berbasis luar angkasa menawarkan alternatif nol karbon (zero-carbon), berkelanjutan, dan dapat diakses secara luas, imbuhnya.
Selain itu, dalam model tradisional, satelit mengumpulkan data dalam jumlah masif dari luar angkasa, tetapi memiliki daya komputasi internal (onboard) yang sangat terbatas. Semua data mentah harus dikirim kembali ke stasiun di Bumi untuk diproses dan dianalisis.
Model ini mengalami keterbatasan bandwidth yang parah, dengan tingkat pemanfaatan data yang diproses secara waktu nyata di bawah 10 persen. Komputasi berbasis luar angkasa memungkinkan pemrosesan cerdas di orbit, memangkas latensi transmisi data hingga hitungan detik, papar Yu.
Xie Lina, deputi direktur departemen pusat data di Institut Penelitian Komputasi Awan dan Mahadata, yang berada di bawah naungan Akademi Teknologi Informasi dan Komunikasi China, menjelaskan bahwa satelit komputasi dapat membentuk koneksi komunikasi laser untuk mencapai cakupan global tanpa hambatan dan memproses data langsung di orbit.
Hal ini mengurangi latensi data untuk beberapa skenario, seperti peringatan dini bencana dan pemantauan sumber daya, dari hitungan jam menjadi hitungan detik, sebuah capaian yang tidak dapat diraih oleh komputasi berbasis darat, kata Xie.
Komputasi berbasis luar angkasa juga sangat mendesak untuk membangun jaringan komputasi global yang populer dan melayani strategi nasional, kata Yu.
Penerapan-penerapan seperti tanggap darurat, observasi kelautan, dan ekspedisi kutub membutuhkan cakupan global yang tanpa hambatan, latensi rendah, dan layanan yang sangat andal, dan itu merupakan sejumlah keunggulan yang dapat diberikan oleh komputasi berbasis luar angkasa, imbuh pejabat tersebut.
Menurut Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China, negara itu sedang menggenjot pengembangan ekosistem industri komputasi luar angkasa.
Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China akan mendukung penelitian komputasi luar angkasa yang berwawasan ke depan, secara bertahap membangun sistem standar yang mencakup perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), jaringan, dan keamanan, serta mendorong penelitian dan pengembangan teknologi dan produk, seperti cip tahan radiasi untuk luar angkasa dan komunikasi laser antarsatelit.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian tunjukkan hubungan vaksinasi COVID dengan penurunan risiko serangan jantung
Indonesia
•
21 Feb 2023

Situs prasejarah di Jiangsu China dikonfirmasi berusia sekitar 7.500 hingga 8.100 tahun
Indonesia
•
19 Nov 2025

Jalur pipa CO2 akan hubungkan Jerman-Norwegia untuk simpan karbon bawah tanah
Indonesia
•
31 Aug 2022

Rusia luncurkan wahana antariksa kargo Progress MS-26 ke orbit
Indonesia
•
16 Feb 2024


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
