Fokus Berita – Skandal penyuntingan BBC perparah krisis kredibilitas

Budaya editorial BBC

Tower Bridge terlihat saat matahari terbenam di London, Inggris, pada 2 Agustus 2025. (Xinhua/Wang Muhan)

Budaya editorial BBC telah melemah akibat serangkaian pukulan terhadap reputasinya selama bertahun-tahun, termasuk wawancara Putri Diana pada 1995 yang diperoleh melalui dokumen palsu dan netralitas dalam liputan konflik Israel-Palestina.

London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Permintaan maaf BBC kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas sebuah dokumenter yang menyesatkan telah memicu badai politik dan media baik di London maupun Washington. Namun, lembaga penyiaran itu pada Kamis (13/11) menegaskan bahwa mereka tidak akan membayar ganti rugi sebesar 1 miliar dolar AS yang dituntut Trump.

*1 dolar AS = 16.732 rupiah

Skandal ini kembali menyeret BBC dalam sorotan kontroversi publik di saat reputasinya terkait integritas jurnalistik telah tercoreng akibat kesalahan penyuntingan sebelumnya dan tuduhan bias dalam pemberitaan.

Kontroversi itu meledak setelah The Daily Telegraph mengungkap sebuah memo internal BBC yang menunjukkan bahwa episode Panorama pada Oktober 2024 berjudul ‘Trump: A Second Chance?’ telah menggabungkan dua bagian pidato Trump pada 6 Januari 2021, yang sebenarnya disampaikan dengan jeda lebih dari 50 menit. Penyuntingan itu menciptakan kesan menyesatkan bahwa Trump secara langsung mendorong para pendukungnya hingga mengarah pada kerusuhan di Capitol, memicu kemarahan publik dan memicu The New York Times menyebutnya sebagai "krisis terburuk BBC dalam beberapa dekade."

Dampaknya meningkat dengan cepat, yang berujung pada pengunduran diri Direktur Jenderal BBC Tim Davie dan kepala berita BBC Deborah Turness pada Ahad (9/11) lalu.

Tim hukum Trump terus menekan, menuntut pencabutan penuh, permintaan maaf resmi, dan ganti rugi sebesar 1 miliar dolar AS. Gedung Putih pada Rabu (12/11) mengonfirmasi bahwa tindakan hukum telah diajukan. Pada Kamis malam waktu setempat, BBC mengatakan sang chairman, Samir Shah, telah menulis surat kepada Gedung Putih menyatakan penyesalan atas "kesalahan penilaian" dan berjanji bahwa program itu tidak akan ditayangkan lagi, sembari menolak klaim pencemaran nama baik Trump.

Kontroversi tersebut telah memunculkan kembali pertanyaan lama mengenai budaya editorial dan struktur pengawasan BBC, yang menurut kritikus telah melemah akibat serangkaian pukulan terhadap reputasinya selama bertahun-tahun. Korporasi itu, yang didirikan pada 1922, sebelumnya telah menghadapi beberapa krisis besar, mulai dari wawancara Putri Diana pada 1995 yang diperoleh melalui dokumen palsu hingga rekaman Panorama yang direkayasa dalam laporan tahun 2011 tentang pekerja anak di Bangalore.

Pada 2023, beberapa jurnalis yang bekerja untuk BBC menuding organisasi tersebut gagal mempertahankan netralitas dalam liputan konflik Israel-Palestina, dengan menyatakan bahwa pelaporan tersebut cenderung menekankan korban Israel secara berlebihan sementara mengabaikan konteks krusial mengenai penderitaan warga Palestina.

The Telegraph juga melaporkan bahwa BBC Newsnight sempat menyunting potongan pidato Trump sejak 2022, yang memicu keberatan langsung dari seorang tamu saat siaran (on-air) dan menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai standar kerja di ruang redaksi.

Serangkaian insiden tersebut telah memicu kritik internasional baru terhadap bias media Barat, dengan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menuding media seperti BBC "mengubah hitam menjadi putih" dan membangun narasi yang direkayasa.

Para analis mengatakan krisis terbaru ini mengungkap kelemahan struktural yang lebih dalam, yang, jika tidak ditangani, dapat merusak otoritas lembaga penyiaran tersebut sebagai lembaga media layanan publik Inggris. Namun, pemerintah membela korporasi itu, dengan seorang juru bicara pada Senin (10/11) mengatakan bahwa mereka tidak percaya BBC mengalami "bias institusional."

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait