
Terobosan baterai ‘ultra-low temperature’ dukung ‘drone’ tuntaskan uji terbang di suhu minus 36 derajat celsius

Orang-orang menyaksikan pertunjukan cahaya drone di Kuwait City, Kuwait, pada 2 Februari 2025. (Xinhua/Asad)
Baterai lithium dengan kepadatan energi tinggi untuk lingkungan bersuhu sangat rendah (ultra-low-temperature high-energy-density lithium battery), berhasil menyelesaikan uji terbang di kota paling utara China dalam kondisi sangat dingin, yaitu minus 36 derajat Celsius.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah drone yang ditenagai oleh baterai lithium dengan kepadatan energi tinggi untuk lingkungan bersuhu sangat rendah (ultra-low-temperature high-energy-density lithium battery), yang dikembangkan oleh para peneliti China, berhasil menyelesaikan uji terbang di kota paling utara China dalam kondisi sangat dingin, yaitu minus 36 derajat Celsius.Terobosan ini, yang dirilis oleh Dalian Institute of Chemical Physics (Dalian Institute of Chemical Physics/DICP) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), menjanjikan solusi daya yang kuat untuk ekspedisi kutub, patroli perbatasan, penyelamatan bencana, dan logistik di lingkungan ekstrem, demikian dilansir Science and Technology Daily pada Ahad (16/3).Pengujian yang berhasil ini menandai terobosan baru dalam teknologi baterai daya drone berkinerja tinggi, kata Chen Zhongwei dari DICP, ujar pemimpin tim peneliti proyek baterai tersebut.Pengujian ini menunjukkan performa terbang drone hexacopter yang stabil, serta memenuhi tolok ukur ketahanan dalam kondisi sangat dingin.Drone ini dapat melakukan start-up dengan cepat, melayang di ketinggian, dan navigasi jalur yang rumit tanpa fluktuasi voltase atau kehilangan daya secara tiba-tiba, mengonfirmasi keandalan baterai yang luar biasa pada suhu rendah, kata Chen.Untuk mengatasi masalah penurunan kinerja baterai lithium yang sangat parah di iklim sangat dingin, tim Chen memelopori inovasi dalam formulasi elektrolit dan modifikasi bahan anoda.Kemajuan ini memungkinkan output daya yang stabil di kisaran suhu minus 40 hingga 50 derajat Celsius.Selain itu, integrasi teknologi manajemen termal adaptif dan pengoptimalan impedansi suhu rendah ini telah mengurangi tingkat penurunan daya tahan baterai pada suhu minus 40 derajat Celsius hingga kurang dari 10 persen dari kapasitasnya pada suhu normal, jauh di bawah rata-rata industri yang berkisar 30-50 persen.Lompatan ini secara signifikan memperpanjang durasi misi untuk drone yang beroperasi di daerah kutub atau dataran tinggi, sehingga meminimalkan frekuensi pengisian daya ulang, kata Chen.Tim ini akan terus menyempurnakan kemampuan baterai untuk memperluas aplikasinya pada peralatan yang berada di lingkungan ekstrem, tambahnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China catat peningkatan cakupan vegetasi sejak 2000 hingga 2021
Indonesia
•
04 Aug 2022

Memahami pengaruh Madden–Julian Oscillation terhadap curah hujan di Indonesia
Indonesia
•
16 Jan 2026

Bagian Tembok Besar berusia sekitar 2.000 tahun ditemukan di China barat laut
Indonesia
•
01 May 2025

Fosil vertebrata 101 juta tahun ditemukan di timur laut China
Indonesia
•
02 Oct 2021


Berita Terbaru

Makam era Firaun berusia 3.000 tahun lebih ditemukan di Luxor, Mesir
Indonesia
•
13 Jul 2026

China operasikan platform riset lepas pantai seluas 2 km persergi, mampu simulasikan berbagai skenario perubahan iklim
Indonesia
•
11 Jul 2026

OpenAI luncurkan GPT-5.6, AI baru yang lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih efisien
Indonesia
•
10 Jul 2026

Limbah pertanian ‘disulap’ jadi bioarang, teknologi China ini capai produksi 50.000 ton per tahun
Indonesia
•
09 Jul 2026
