Bangsa Tsamud tetap ingkar walau diberi keajaiban unta betina

Bangsa Tsamud tetap ingkar walau diberi keajaiban unta betina
Sebuah tempat di Provinsi AlUla di wilayah Madinah, Arab Saudi yang dikenal sebagai Madain Saleh diyakini sebagai daerah yang dulunya dihuni oleh bangsa Tsamud. Sisa-sisa bangunan yang terpahat apik pada dinding-dinding batu yang keras dan menjulang dipercaya sebagai karya bangsa Tsamud. (Arab News)

Bangsa Tsamud adalah pemahat batu ulung dan sangat ahli dalam bidang konstruksi, dan merupakan generasi penerus setelah kaum ‘Aad Nabi Hud عليه السلام.

Mereka biasa memahat tebing-tebing batu yang keras dan terjal di daerah pegunungan dan mengubahnya menjadi istana-istana yang elok dan megah.

Di tengah kaum pandai bangunan itu, Allah ﷻ turunkan Nabi Shaleh عليه السلام.

Dalam Surat Al-A’raaf (7) ayat 73, Allah ﷻ berfirman yang artinya, Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh.

Shaleh عليه السلام dikenal karena kebijaksanaan, ketulusan dan kebaikannya, serta sangat dihormati oleh umatnya bahkan sebelum wahyu Allah ﷻ datang kepadanya.

Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami”. Terjemahan Surat Huud (11) ayat 62.

Mereka meragukan kata-katanya tentang perintah untuk menyembah hanya kepada Allah ﷻ.

Khawatir pengikut Shaleh عليه السلام akan bertambah, orang-orang Tsamud mencoba menghentikannya.

Mereka meminta Shaleh عليه السلام untuk menunjukkan tanda atau mukjizat yang menegaskan bahwa dia adalah utusan Allah ﷻ.

Mereka secara khusus memintanya untuk mengeluarkan seekor unta betina dari gunung dengan ciri dan warna tertentu.

Nabi Shaleh عليه السلام lantas bertanya kepada kaumnya, apakah mereka akan percaya pada ucapannya ketika Allah ﷻ benar-benar menunjukkan keajaiban yang mereka minta.

Mereka pun mengiyakan.

Nabi Shaleh عليه السلام kemudian pergi ke tempat yang biasanya dia gunakan untuk memanjatkan doa kepada Allah ﷻ, dan memohon agar keajaiban itu terjadi.

Selanjutnya, Allah ﷻ benar-benar menjawab doa hamba-Nya.

Seketika, sebuah gunung terbelah menjadi dua dan dari dalamnya keluar seekor unta betina besar dengan bentuk dan penampakan sesuai dengan keinginan orang-orang Tsamud.

Nabi Shaleh عليه السلام berucap kepada kaumnya dalam Surat Huud (11) ayat 64 yang artinya, Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.

Karena terpesona oleh keajaiban yang luar biasa itu, beberapa dari mereka percaya dan memeluk Islam.

Namun, banyak juga yang tetap menyangkal keajaiban itu dan mengingkari Allah ﷻ.

Allah ﷻ Yang Maha Mengetahui setiap kajadian di dalam kehidupan manusia, berfirman dalam Surat Al-Israa’ (17) ayat 59 yang artinya, Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.

Unta itu lalu disebut sebagai ‘unta Allah’, sebagai tanda kehormatan dan kemuliaan baginya.

Atas perintah Allah ﷻ, Nabi Shaleh عليه السلام membagi sumber air antara masyarakat Tsamud dan unta. Unta betina akan minum sehari, dan orang-orang Tsamud akan mendapat giliran pada esok hari.

Sebagai gantinya, masyarakat Tsamud memerah susu unta bentina itu pada hari saat dia minum air atau ketika mereka tidak mendapat giliran minum.

Unta itu memberi sangat banyak susu sehingga semua orang miskin punya cukup minum, dan mereka sangat bahagia.

Kemakmuran dan kesejahteraan sebagian orang tersebut ternyata tidak disenangi oleh sebagian lainnya.  Mereka bahkan membenci keadaan ini, apalagi terhadap para pengikut Nabi Shaleh عليه السلام yang tampak berbahagia.

Mereka yang mengingkari ajaran Saleh عليه السلام memutuskan untuk membunuh unta itu secara diam-diam.

Tapi Allah ﷻ Maha Mengetahui rencana buruk mereka dan berfirman dalam Surat An-Naml (27) ayat 50 yang artinya, Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.

Dengan petunjuk Allah ﷻ, peristiwa pembunuhan unta betina akhirnya diketahui pula oleh Nabi Shaleh عليه السلام, lalu berkata kepada kaumnya dalam Surat Huud (11) ayat 65 yang artinya, Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan”.

Atas perbuatan buruk mereka, Allah ﷻ memberikan hukuman dengan membatasi hidup mereka hanya tiga hari.

Sebagai ejekan mereka disuruh untuk bersuka ria selama waktu tersebut sebelum Allah ﷻ menimpakan azab atas bangsa pemahat batu itu berupa suara guntur yang menggelegar dan gempa bumi yang menghancurkan bangunan-bangunan megah mereka.

Seketika bangsa Tsamud mati bergelimpangan seakan-akan mereka tidak pernah ada di dunia.

Allah ﷻ berfirman tentang peristiwa itu dalam Surat Huud (11) ayat 67 dan 68 yang artinya, Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya; Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.

Sementara itu, Allah ﷻ menyelamatkan para pengikut Nabi Shaleh عليه السلام.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-Lah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Terjemahan Surat Huud (11) ayat 66.

Di masa kini, sebuah tempat di Provinsi AlUla di wilayah Madinah, Arab Saudi yang dikenal sebagai Madain Saleh diyakini sebagai daerah yang dulunya dihuni oleh bangsa Tsamud.

Sisa-sisa bangunan yang terpahat apik pada dinding-dinding batu yang keras dan menjulang dipercaya sebagai karya bangsa Tsamud.

Penulis: Maya

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here