AP: Pembunuhan yang menarget polisi meningkat di AS

Seorang petugas polisi berjalan melewati monumen bunga sementara di Highland Park, pinggiran kota Chicago, Illinois, Amerika Serikat, pada 5 Juli 2022. (Xinhua/Joel Lerner)

Maraknya penyergapan dan pembunuhan terhadap polisi terjadi di saat banyak departemen kepolisian di seluruh AS menghadapi kekurangan staf, dengan beberapa kekurangan ratusan petugas dan kesulitan mengisi lowongan.

 

New York City, AS (Xinhua) – Pembunuhan terhadap polisi meningkat di Amerika Serikat (AS), dengan 56 petugas polisi tewas akibat tembakan tahun ini, 14 persen lebih banyak dari angka tahun lalu pada saat yang sama, dan sekitar 45 persen lebih cepat dibandingkan laju pada 2020, demikian dilaporkan media AS pekan lalu.

“Negara tersebut akan menghadapi tahun paling mematikan sejak 67 petugas polisi tewas pada 2016,” lapor The Associated Press (AP), mengutip sejumlah organisasi yang melacak kekerasan terhadap polisi.

Laporan itu menyebutkan bahwa bahkan di saat semakin banyak polisi meninggalkan pekerjaan mereka dalam dua tahun terakhir, jumlah yang ditarget dan tewas meningkat.

Meski angka tersebut mencakup beberapa petugas yang tewas akibat tembakan yang tidak disengaja, jumlah penyergapan di mana polisi terluka atau tewas dalam serangan mendadak dengan peluang yang minim untuk membela diri telah melonjak sejak 2020 dan menyumbang hampir separuh dari jumlah petugas polisi yang tewas tahun ini, menurut laporan itu.

“Maraknya penyergapan dan pembunuhan terhadap polisi terjadi di saat banyak departemen kepolisian di seluruh AS menghadapi kekurangan staf, dengan beberapa kekurangan ratusan petugas dan kesulitan mengisi lowongan,” papar laporan tersebut.

Sementara itu, COVID-19 menjadi penyebab kematian terbesar petugas polisi dalam beberapa tahun terakhir, dengan 280 kematian pada 2020, 467 pada 2021, dan 64 di sejauh tahun ini, imbuh laporan tersebut, mengutip Officer Down Memorial Page.

Penurunan jumlah personel

Sementara kejahatan meningkat Amerika Serikat, banyak petugas polisi yang kelelahan akibat pandemik dan kecewa atas seruan untuk berhenti dari kepolisian memutuskan untuk mengundurkan diri atau pensiun lebih awal sebelum pengganti mereka direkrut, menurut laporan The Associated Press (AP) pada Agustus lalu.

“Banyak departemen berebut untuk merekrut di pasar tenaga kerja yang ketat dan juga memikirkan kembali layanan apa yang dapat mereka berikan dan peran apa yang harus dimainkan polisi di komunitas mereka,” sebut laporan itu. “Banyak (departemen) menugaskan petugas veteran untuk berpatroli, memecah tim khusus yang telah dibentuk selama puluhan tahun demi menangani panggilan 911.”

“Kami mendapat lebih banyak panggilan untuk bertugas, sementara jumlah petugas yang bisa menjawabnya semakin sedikit,” kata Juru Bicara Kepolisian Philadelphia Eric Gripp, yang departemennya telah merotasi karyawan dari unit khusus untuk tugas-tugas singkat demi meningkatkan patroli, seperti dikutip dalam laporan tersebut.

“Ini bukan hanya masalah di Philadelphia. Departemen di berbagai daerah mencatat penurunan dan perekrutan menjadi sulit untuk dilakukan,” katanya.

Los Angeles, yang mencatat penurunan sebanyak lebih dari 650 petugas jika dibandingkan dengan jumlah staf sebelum pandemik, telah menutup unit penyiksaan hewan dan mengurangi jumlah anggota unit perdagangan manusia, narkotika, dan detail senjata, serta mengurangi tim penjangkauan tunawisma hingga 80 persen, menurut laporan itu.

Fenomena ini mengikuti tren nasional, yaitu di saat tindak kejahatan nonkekerasan menurun selama pandemik, tingkat pembunuhan naik hampir 30 persen pada 2020 dan tingkat insiden penyerangan naik 10 persen, menurut laporan tersebut mengutip Brennan Center for Justice.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan