
JAMA: Kematian ibu hamil di AS naik lebih dari dua kali lipat dalam dua dekade

Tenaga kesehatan melakukan operasi di sebuah unit perawatan intensif (ICU) di Beverly Hospital di Montebello City, California, Amerika Serikat, pada 22 Januari 2021. (Xinhua)
Angka kematian ibu hamil di seantero Amerika Serikat naik lebih dari dua kali lipat dalam dua dekade, dengan penyebab umum dari kematian tersebut mencakup pendarahan yang berlebihan, infeksi, penyakit jantung, bunuh diri, dan overdosis obat.
New York City, AS (Xinhua) – Angka kematian ibu hamil di seantero Amerika Serikat (AS) naik lebih dari dua kali lipat dalam dua dekade, dan tragedi itu terjadi secara tidak seimbang, lapor The Associated Press (AP) pada Senin (3/7), mengutip sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA).Kematian ibu hamil berkulit hitam membukukan angka tertinggi di negara itu, sedangkan peningkatan kematian terbesar ditemukan pada ibu hamil keturunan India dan pribumi Alaska. Lebih lanjut ditemukan pula bahwa beberapa negara bagian, serta kelompok ras atau etnis yang ada di dalamnya, bernasib lebih buruk dibandingkan yang lainnya, sebut laporan itu.Para peneliti dalam studi ini mengamati kematian ibu hamil antara 1999 hingga 2019, tetapi bukan lonjakan pandemik, untuk setiap negara bagian serta lima kelompok ras dan etnis."Ini menjadi sebuah seruan untuk bertindak bagi kita semua guna memahami akar penyebabnya, untuk memahami bahwa beberapa di antara penyebabnya adalah tentang perawatan kesehatan dan akses mendapatkan perawatan kesehatan, tetapi sebagian besar di antaranya adalah tentang rasisme struktural serta kebijakan, prosedur, dan hal-hal yang diberlakukan yang dapat membuat orang tidak sehat," kata Allison Bryant, salah satu peneliti dalam studi ini sekaligus direktur medis senior untuk kesetaraan kesehatan di Mass General Brigham, sebagaimana dikutip.Di antara negara-negara kaya, AS memiliki tingkat kematian ibu hamil tertinggi, yang didefinisikan sebagai kematian selama masa kehamilan atau hingga satu tahun sesudahnya. Penyebab umum dari kematian tersebut mencakup pendarahan yang berlebihan, infeksi, penyakit jantung, bunuh diri, dan overdosis obat, urai laporan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Lebih 20.000 relawan mendaftar uji vaksin Taiwan
Indonesia
•
18 Nov 2020

Guterres tekankan pentingnya menjunjung tinggi nilai dan prinsip PBB di dunia
Indonesia
•
25 Oct 2022

IOC umumkan Tim Olimpiade Pengungsi dengan 36 atlet untuk Olimpiade Paris 2024
Indonesia
•
05 May 2024

Curug Cikaung sangga kehidupan dalam sunyi
Indonesia
•
20 Dec 2019


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
