Meski ada komplikasi kehamilan berbahaya, banyak permintaan aborsi ditolak di AS

Orang-orang mengikuti unjuk rasa yang menyerukan hak aborsi di Washington DC, Amerika Serikat, pada 9 Juli 2022. (Xinhua/Liu Jie)

Permintaan aborsi di beberapa negara bagian di AS banyak ditolak meskipun ada kasus wanita hamil dengan kondisi medis berbahaya.

 

New York City, AS (Xinhua) – Sejumlah wanita hamil dengan kondisi medis berbahaya mendapat penolakan atas aborsi, yang sebenarnya akan dapat membantu menyelamatkan mereka, ketika mendatangi rumah sakit dan klinik-klinik dokter di Amerika Serikat (AS), menurut laporan The Associated Press (AP).

“Beberapa dokter di sejumlah negara bagian dengan undang-undang aborsi restriktif mengatakan mereka telah merujuk atau menyarankan lebih banyak pasien untuk pergi ke tempat lain dibandingkan sebelumnya. Beberapa wanita menghadapi penundaan yang membahayakan dan berpotensi mematikan,” kata laporan itu pada Ahad (20/11).

Para dokter mengatakan mereka dipaksa untuk menyeimbangkan antara penilaian medis dengan kemungkinan hukuman, termasuk hukuman penjara. Meskipun undang-undang yang paling ketat sekalipun mengizinkan aborsi untuk menyelamatkan nyawa seorang ibu, sebuah pertanyaan besar tetap ada, yaitu harus seberapa dekatkah pasien tersebut dengan kematian?

“Para ahli mengatakan sulit untuk menentukan data pasti mengenai kasus penolakan aborsi ketika komplikasi serius muncul,” kata laporan itu.

Beberapa penentang aborsi mengatakan dokter mungkin menolak permintaan aborsi dalam situasi yang mengancam jiwa karena takut, lanjut laporan tersebut.

Larangan aborsi

Empat bulan setelah pembatalan putusan Roe v. Wade pada Juni lalu, sejumlah konsekuensi kesehatan yang mengerikan dari pelarangan layanan aborsi semakin terlihat jelas di Amerika Serikat (AS), demikian dilaporkan oleh Center for American Progress pada awal November.

Sebanyak 18 negara bagian di AS, yang merupakan tempat tinggal bagi lebih dari 25 juta wanita yang berada di rentang usia subur, telah melarang sebagian atau seluruh akses ke layanan aborsi, dengan hanya menyisakan sejumlah pengecualian yang hampir mustahil untuk diterapkan, kata laporan tersebut.

Permintaan aborsi
Para demonstran berunjuk rasa menuntut hak aborsi di Washington DC, Amerika Serikat, pada 8 Oktober 2022. (Xinhua/Liu Jie)

“Ribuan orang telah mendapati bahwa memperoleh (layanan) aborsi yang diperlukan adalah hal mustahil,” imbuh laporan itu.

“Kisah-kisah mengerikan dari sejumlah negara bagian yang telah melarang aborsi menunjukkan krisis medis yang saat ini mencengkeram hampir separuh wilayah di negara ini,” urai laporan itu.

Memperparah kekejaman larangan aborsi, krisis akses aborsi tersebut memiliki kaitan dengan bencana perawatan kesehatan lainnya di AS, yakni kematian ibu (maternal mortality). Lebih lanjut laporan itu memaparkan bahwa AS mencatat tingkat kematian ibu tertinggi di antara negara-negara maju, dengan wanita kulit hitam mencatatkan tingkat kematian ibu yang lebih tinggi dibandingkan kelompok demografis lainnya.

Selain itu, para dokter di seluruh wilayah negara tersebut berada di posisi yang sangat lemah dalam menjalani antara pelatihan medis dan kewajiban etika profesional mereka di tengah kurangnya kejelasan soal apa yang diizinkan menurut undang-undang, urai laporan itu.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan