
Analisis – Pentagon labeli Institut Konfusius ancaman keamanan, kebijakan AS tuai kritik

Kaum muda Amerika mengunjungi sebuah taman di Kota Changzhou, Provinsi Jiangsu, China timur, pada 14 Juli 2026. (Xinhua/Li Bo)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Langkah terbaru Pentagon yang melabeli Institut Konfusius di universitas-universitas Amerika Serikat (AS) sebagai ancaman keamanan nasional merupakan tindakan berlebihan yang absurd, serta memperlihatkan persepsi ancaman yang keliru dari sejumlah politisi AS dan kalkulasi politik berbahaya mereka untuk mengobarkan sentimen anti-China menjelang pemilihan umum (pemilu) sela.
Dengan memperlakukan lembaga budaya dan pendidikan sebagai risiko keamanan, Pentagon meregangkan konsep keamanan nasional hingga ke titik yang konyol.
Menurut kalkulasi keamanan Washington yang kian menyimpang, mengajarkan bahasa, memperkenalkan peradaban, dan mendorong pertukaran budaya bahkan bisa dicap sebagai ancaman.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, langkah ini tampaknya menggantikan penilaian berbasis bukti dengan kecurigaan politik. Alih-alih menunjukkan risiko keamanan spesifik yang ditimbulkan lembaga-lembaga ini, Washington kembali menempuh jalan insinuasi dan tuduhan bersalah karena keterkaitan.
Logika ini terlalu menyamaratakan dan berbahaya: segala hal yang berkaitan dengan China diperlakukan sebagai hal yang mencurigakan, dan bahkan berbagi bahasa dan budaya secara damai pun harus dipandang melalui kacamata konfrontasi geopolitik.
Ini bukanlah pendekatan yang serius terhadap keamanan nasional. Ini hanyalah upaya mengada-adakan ancaman.
Ironi ini sulit diabaikan. Dalam kunjungannya ke China pada Mei lalu, Presiden AS Donald Trump memuji patung Konfusius yang terpampang di fasad gedung Mahkamah Agung AS. Namun, lembaga-lembaga yang memperkenalkan bahasa dan budaya China kepada para pelajar Amerika kini justru digambarkan sebagai ancaman keamanan.
Konfusius mungkin disambut baik sebagai patung di sebuah landmark Amerika, tetapi pertukaran gagasan yang hidup dan berakar pada peradabannya justru diperlakukan sebagai alasan untuk waspada. Kontradiksi ini menunjukkan standar ganda yang membentuk pendekatan sejumlah politisi AS terhadap China.
Faktanya, AS sendiri menjalankan berbagai inisiatif, seperti ‘American Spaces Programs’ (Program Ruang Amerika), di luar negeri untuk mempromosikan budaya Amerika.
Film-film blockbuster Hollywood dan merek-merek seperti Coca-Cola juga telah puluhan tahun membawa budaya Amerika ke seluruh dunia. Menurut logika Pentagon, apakah semua itu juga merupakan ancaman yang harus dilarang?
Washington juga sebaiknya bercermin pada rekam jejaknya sendiri. Selama puluhan tahun, AS telah melancarkan perang di luar negeri, menjalankan operasi rahasia, dan mencampuri urusan dalam negeri negara lain, yang kerap membawa dampak yang menghancurkan bagi perdamaian dan stabilitas.
Namun, sejumlah politisi Amerika tampaknya lebih cemas terhadap lembaga budaya daripada dampak dari tindakan negara mereka sendiri di luar negeri.
Keamanan nasional seharusnya didasarkan pada bukti yang kredibel, bukan prasangka politik. Negara yang yakin akan institusi dan nilai-nilainya sendiri semestinya tidak perlu takut pada orang-orang yang mempelajari peradaban lain.
Menjadikan pertukaran budaya sebagai ancaman keamanan tidak akan membuat AS lebih aman.
Langkah itu hanya akan memperdalam ketidakpercayaan, merusak saling pengertian, dan memperbesar perpecahan yang mengancam perdamaian dunia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Netanyahu: Israel terbuka untuk berunding jika Hamas lucuti senjata dan lepaskan kendali
Indonesia
•
02 Apr 2025

Iran pastikan tidak ada kapal yang dapat lintasi Selat Hormuz tanpa seizinnya
Indonesia
•
03 May 2026

Kemenlu China: Rekor anggaran pertahanan Jepang timbulkan kekhawatiran
Indonesia
•
28 Dec 2022

China desak AS bereskan kerusakan hubungan bilateral akibat penyalahgunaan kekuatan
Indonesia
•
23 Feb 2023


Berita Terbaru

Memaknai visi Xi Jinping tentang tata kelola global melalui metafora
Indonesia
•
25 Oct 2026

Sekitar 410.000 orang ikuti gelombang baru aksi unjuk rasa di Prancis
Indonesia
•
25 Oct 2026

Biaya hidup naik, belanja senjata disorot: Protes meluas di Italia
Indonesia
•
25 Oct 2026

Ribuan orang demo di Portugal, tuntut pemerintah atasi krisis perumahan
Indonesia
•
25 Oct 2026
