Opini – Hubungan China-AS yang sehat akan hadirkan manfaat bagi masyarakat global

Para jurnalis dan staf bekerja di pusat media internasional APEC 2023 di San Francisco, Amerika Serikat (AS), pada 12 November 2023. Pertemuan Pemimpin Ekonomi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation/APEC) ke-30 dijadwalkan berlangsung pada 15-17 November di San Francisco setelah diawali sejumlah pertemuan tingkat tinggi. (Xinhua/Li Jianguo)
Oleh Dennis Munene, dari Kenya
Amerika Serikat dan China merupakan ekonomi terbesar pertama dan kedua di dunia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal, dan PDB yang didasarkan pada paritas daya beli.
Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan menghadiri Pertemuan Pemimpin Ekonomi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation/APEC) di San Francisco. Kedua pemimpin dunia tersebut akan bertemu di tengah meningkatnya ketegangan antara China dan AS.Pertemuan tatap muka antara kedua pemimpin tersebut akan meredakan ketegangan yang mengganggu misi global dalam meraih perdamaian dan persatuan antarperadaban. Lebih lanjut, pertemuan itu akan mematahkan narasi propagandis bahwa China dan AS harus berselisih satu sama lain dalam isu-isu kritis yang memengaruhi masyarakat global.Mengapa China dan AS perlu menjalin kerja sama?Pertama-tama, Amerika Serikat dan China merupakan ekonomi terbesar pertama dan kedua di dunia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal, dan PDB yang didasarkan pada paritas daya beli. Menurut statistik Bank Dunia, pada 2022, PDB AS tercatat hampir menyentuh 25,5 triliun dolar AS, sementara PDB China mencapai sekitar 17,9 triliun dolar AS. Kerja sama mereka sangat penting untuk penawaran barang publik global, serta perdamaian dan pembangunan di masyarakat global, terutama di era pemulihan ekonomi.Kedua, mengutip pernyataan Presiden Xi, China dan AS memiliki daya pengaruh dan kapasitas untuk memopulerkan gagasan "peradaban ekologis" sebagai sebuah paradigma perubahan dan jalur menuju ekonomi hijau dan rendah karbon. Dalam melakukan hal itu, kerja sama China-AS akan menata ulang tatanan internasional yang konfrontatif dalam menangani isu-isu perubahan iklim serta membentuk kembali tatanan dunia baru yang berakar pada pemajuan doktrin humanisme.Ketiga, masyarakat global sedang menghadapi sejumlah tantangan besar di mana ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dapat menawarkan solusi kunci. Komunike Shanghai pada 1972, yang kemudian dilanjutkan dengan kunjungan sekitar 100 ilmuwan dan cendekiawan AS ke China dan lawatan kelompok ilmuwan China pertama ke AS sejak berdirinya Republik Rakyat China, harus dijadikan kompas pemandu bagi kerja sama IPTEK China-AS. Dan, kemitraan di berbagai aspek antara lain seperti ilmu kebumian dan atmosfer, penelitian dasar di bidang fisika dan kimia, geologi, serta bidang-bidang terkait energi, diperlukan untuk membina kerja sama China-AS.
Pesawat yang ditumpangi oleh Presiden China Xi Jinping mendarat di San Francisco, Amerika Serikat (AS), pada 14 November 2023. Xi pada Selasa (14/11) tiba di San Francisco untuk mengikuti konferensi tingkat tinggi dengan Presiden AS Joe Biden dan menghadiri Pertemuan Pemimpin Ekonomi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation/APEC). (Xinhua/Yao Dawei)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Survei wadah pemikir sebut mayoritas warga Belanda pandang AS sebagai ancaman global
Indonesia
•
02 May 2025

Kanselir Jerman tegaskan Eropa mitra AS, bukan bawahan
Indonesia
•
31 Jan 2026

Xi Jinping bertemu Kepala Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman, sampaikan dukungan
Indonesia
•
10 Dec 2022

Presiden Afrika Selatan bantah tudingan Trump soal "penyitaan tanah"
Indonesia
•
06 Feb 2025
Berita Terbaru

Terima presiden Palestina, Norwegia tegaskan kembali komitmen terhadap solusi dua negara
Indonesia
•
13 Feb 2026

Anggota parlemen di seluruh dunia hadapi peningkatan intimidasi publik
Indonesia
•
13 Feb 2026

DPR AS tolak tarif Trump terhadap barang-barang dari Kanada
Indonesia
•
13 Feb 2026

Trump hapus temuan penting yang jadi dasar regulasi iklim AS
Indonesia
•
14 Feb 2026
