
Alat pencitraan berbasis AI mampu deteksi lesi otak penyebab epilepsi pada anak

Ilustrasi. (Marisa Howenstine on Unsplash)
Alat pencitraan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat mendeteksi lesi otak kecil yang menyebabkan epilepsi parah pada anak-anak.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti Australia mengembangkan alat pencitraan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dapat mendeteksi lesi otak kecil yang menyebabkan epilepsi parah pada anak-anak. Alat ini memungkinkan diagnosis lebih dini, jenis pengobatan lebih tepat, dan potensi penyembuhan.Alat "Detektif Epilepsi AI" ini dapat mendeteksi displasia kortikal fokal, atau lesi berukuran sekitar buah blueberry yang menyebabkan kejang berulang, pada hingga 94 persen kasus dengan dukungan pencitraan medis, menurut pernyataan yang dirilis pada Rabu (1/10) oleh Murdoch Children's Research Institute (MCRI) Australia.Dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Amerika Serikat (AS), Epilepsia, sistem ini berhasil mendeteksi lesi menggunakan pemindaian MRI dan PET, dibandingkan pada pemindaian tradisional di mana 80 persen diagnosis sering terlewat karena pemeriksaan hasil MRI dilakukan secara manual oleh manusia."Dengan pencitraan yang lebih akurat, ahli bedah saraf dapat mengembangkan peta bedah yang lebih aman guna menghindari pembuluh darah penting dan area otak yang mengendalikan kemampuan bicara, berpikir, dan gerakan, serta menghindari pengangkatan jaringan otak yang sehat," kata penulis utama studi Emma Macdonald-Laurs, seorang neurologis dari MCRI.Diagnosis yang lebih akurat terhadap displasia kortikal juga akan memudahkan rujukan lebih cepat untuk operasi epilepsi, mengurangi frekuensi kejang, dan meningkatkan hasil penyembuhan jangka panjang, kata Macdonald-Laurs, yang memimpin tim yang mengembangkan detektor tersebut.Uji klinis tersebut melibatkan 71 anak di Rumah Sakit Anak Royal Australia. Dari 17 anak dalam kelompok uji akhir, 12 di antaranya menjalani operasi dan 11 di antaranya bebas dari gejala kejang, demikian jelas pernyataan tersebut.Epilepsi memengaruhi sekitar satu dari 200 anak di Australia, dengan displasia kortikal, yang berkembang saat bayi masih dalam kandungan, merupakan penyebab umum gejala kejang yang resisten terhadap obat, kata laporan tersebut.Semakin lama kejang yang tidak terkendali berlangsung pada seorang anak, semakin besar risiko terjadinya gangguan belajar, termasuk gangguan intelektual. Namun, epilepsi yang disebabkan oleh displasia kortikal dapat diperbaiki kondisinya atau disembuhkan melalui operasi jika jaringan otak yang abnormal dapat diidentifikasi dan diangkat, kata Macdonald-Laurs.Para peneliti mengatakan bahwa dengan tambahan dana, tim itu dapat menguji detektor tersebut di berbagai rumah sakit anak di seluruh Australia.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan China temukan 46 danau subglasial di Antarktika
Indonesia
•
23 Apr 2024

Kapal pengamat cuaca nirawak China memulai pelayaran durasi panjang
Indonesia
•
24 Nov 2023

Penemuan fosil Periode Jura di China Timur ungkap wawasan baru perihal asal-usul burung
Indonesia
•
15 Feb 2025

Peternakan laut cerdas bantu modernisasi sektor perikanan Hainan
Indonesia
•
19 Jul 2023


Berita Terbaru

Peneliti Spanyol gunakan ‘drone’ dan AI untuk identifikasi gandum yang tahan terhadap perubahan iklim
Indonesia
•
01 May 2026

Sinar matahari bisa ubah limbah plastik jadi bahan bakar bersih
Indonesia
•
30 Apr 2026

Peneliti buat peta pertama untuk reseptor penciuman di hidung
Indonesia
•
30 Apr 2026

Ada mikroplastik di dalam otak manusia, peneliti ungkap pola distribusinya
Indonesia
•
30 Apr 2026
