
AI cari enzim pengurai plastik dari jutaan data biologis, ini temuannya

Sukarelawan lingkungan mengumpulkan limbah plastik dari laut di Kota Zhoushan, Provinsi Zhejiang, China timur, pada 3 Februari 2026. (Xinhua)
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Ilmuwan di Australia menggunakan bioteknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi enzim yang berpotensi mampu mengurai plastik dan polutan berbahaya lainnya.
Para peneliti menggabungkan teknologi pembelajaran mesin dan biokimia untuk menyaring jutaan enzim yang tersimpan di dalam basis data biologis di seluruh dunia dan mengidentifikasi kandidat yang dapat mengurai polutan berbahaya, papar pernyataan terbaru dari Universitas Murdoch Australia.
Joseph Boctor, seorang kandidat PhD di Universitas Murdoch, mengatakan dalam tinjauannya yang diterbitkan di dalam jurnal Nature Reviews: Earth & Environment bahwa kunci untuk menemukan kecocokan biologis yang tepat untuk mengatasi setiap jenis polutan kemungkinan tersembunyi dalam data yang sudah ada.
Alat-alat pembelajaran mesin dapat menggali jutaan data biologis yang belum tereksplorasi untuk menemukan kandidat enzim yang sesuai, ujar Boctor, seraya menambahkan bahwa alur kerja pembelajaran mesin tersebut memanfaatkan pengetahuan dari enzim-enzim yang telah tercirikan sebelumnya untuk memprediksi bagaimana struktur enzim dapat berinteraksi dengan polutan target dan menguraikannya.
Boctor mengatakan pendekatan tersebut dapat membantu secara lebih cepat dalam mengatasi polutan yang sudah terlanjur mencemari lingkungan, di saat para ilmuwan mengembangkan alternatif bioplastik.
Dia mengatakan polutan-polutan persisten, seperti PFAS dan mikroplastik, dapat menyebabkan masalah kesehatan, dengan tanah pertanian kini dilaporkan mengandung mikroplastik sekitar 23 kali lebih banyak daripada lautan.
Tim di Bioplastics Innovation Hub di bawah naungan Universitas Murdoch, yang merupakan kolaborasi dengan Organisasi Riset Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation/CSIRO), sebuah lembaga ilmu pengetahuan nasional di Australia, kini berfokus pada pengujian, validasi, dan peningkatan skala enzim-enzim yang telah teridentifikasi untuk upaya bioremediasi.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China rilis peta geologi baru Bulan
Indonesia
•
09 Jun 2022

Ilmuwan China rancang perangkat komputasi yang dapat diprogram berbasis DNA
Indonesia
•
03 Oct 2023

China tampilkan perdana purwarupa kereta cepat paling kencang di dunia
Indonesia
•
31 Dec 2024

Peneliti China temukan gen kunci untuk modifikasi hasil panen dan kualitas serat kapas
Indonesia
•
07 Jan 2024


Berita Terbaru

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026

Dibekali kamera 200MP, Huawei nova 16s Series 5G resmi meluncur di Indonesia
Indonesia
•
22 Oct 2026

Feature – Karya AI terjual 19,4 miliar rupiah, apakah ini bisa disebut karya seni?
Indonesia
•
21 Oct 2026

Mikroskop nirkabel 1 gram mampu rekam 8.500 ‘neuron’ sekaligus
Indonesia
•
21 Oct 2026
