Afghanistan selidiki serangan udara Nimroz tewaskan warga sipil

Afghanistan selidiki serangan udara Nimroz tewaskan warga sipil
Ilustrasi. Misi Bantuan PBB untuk Afghanistan (UNAMA) mengatakan dalam sebuah laporan pada Oktober, bahwa 2.117 warga sipil tewas dan 3.822 lainnya cedera dalam sembilan bulan pertama tahun 2020. (Amber Clay from Pixabay)
Advertiser Popin

Jakarta (Indonesia Window) – Pihak berwenang Afghanistan mengatakan mereka sedang menyelidiki serangan udara akhir pekan yang menurut pejabat setempat menewaskan lebih dari selusin warga sipil, termasuk anak-anak, menurut laporan Al-Jazeera (11/1).

Lebih dari selusin orang tewas pada Sabtu malam (9/1) akibat sebuah roket menghantam rumah di Distrik Khashrod di Provinsi Nimroz.

“Kami mengetahui adanya klaim korban sipil di Nimroz. Kami telah melakukan penyelidikan bersama dengan pejabat setempat, ” kata Kementerian Pertahanan dalam sebuah pernyataan.

Kerabat korban dan saksi menyebutkan jumlah korban meninggal sebanyak 18 orang, yang semuanya merupakan anggota keluarga yang sama di Desa Munazari.

Anggota dewan provinsi, Nehmatullah Sediqqi, mengatakan bahwa pasukan Afghanistan melakukan dua serangan udara di distrik tersebut.

“Dalam serangan pertama, enam pejuang Taliban tewas. Serangan kedua menghantam sebuah rumah yang menewaskan 15 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak,” katanya.

Pejabat setempat lainnya, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa rumah yang menjadi sasaran serangan itu milik seorang komandan Taliban dan pasukan keamanan tidak tahu ada warga sipil di dalamnya.

Pada Ahad (10/1), kerabat para korban membawa jenazah ke ibu kota provinsi, Zaranj, untuk membuktikan bahwa mendiang bukan pejuang Taliban, dan menuntut keadilan.

Presiden Ashraf Ghani pada Senin (11/1) mengatakan dia sangat sedih dengan korban sipil dalam serangan udara tersebut dan mendesak pihak berwenang untuk menyelidiki secara menyeluruh.

Namun dia menyalahkan Taliban yang bertanggung jawab atas korban jiwa.

“Taliban dan kelompok teroris lainnya sering menggunakan rumah warga sebagai tameng dan menjadi penyebab utama kemalangan selama perang,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Pertumpahan darah terbaru memicu seruan internasional untuk penyelidikan atas serangan itu.

“Kami menyerukan penyelidikan penuh dan jika perlu untuk akuntabilitas dan keadilan,” cuit Kedutaan Perancis di Kabul di Twitter.

Misi Bantuan PBB untuk Afghanistan (UNAMA) mengatakan dalam sebuah laporan pada Oktober, bahwa 2.117 warga sipil tewas dan 3.822 lainnya cedera dalam sembilan bulan pertama tahun 2020.

Laporan tersebut mengatakan sekitar 8 persen dari korban sipil selama periode itu disebabkan oleh serangan udara Afghanistan.

Kekerasan yang berlanjut memicu seruan internasional untuk gencatan senjata antara pemerintah Afghanistan dan Taliban.

Perwakilan keduanya bertemu pada Sabtu (9/1) untuk sesi pertama dalam putaran kedua pembicaraan damai, di mana isu-isu yang diperdebatkan seperti gencatan senjata dan pembagian kekuasaan kemungkinan akan dibahas.

Taliban digulingkan dari kekuasaan pada tahun 2001 oleh pasukan pimpinan Amerika Serikat. Pemerintah yang didukung AS telah memegang kekuasaan di Afghanistan sejak saat itu, meskipun Taliban masih menguasai wilayah yang luas di negara antara Asia Tengah dan Asia Selatan itu.

Berdasarkan kesepakatan Februari 2020, pasukan asing akan meninggalkan Afghanistan pada Mei 2021 dengan imbalan jaminan keamanan dari Taliban.

Laporan: Raihana Radhwa

Advertiser Popin

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here