3.000 tahun lalu Firaun rayakan ulang tahun

3.000 tahun lalu Firaun rayakan ulang tahun
Ilustrasi. Perayaan ulang tahun sebenarnya sudah dilakukan 3.000 tahun Sebelum Masehi ketika Firaun dinobatkan menjadi “tuhan” pada zaman Mesir kuno. (Photo by Adi Goldstein on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Perayaan hari lahir sudah sangat lama menjadi gaya hidup, termasuk kaum Muslim.

Dalam laporan 2016 Reuters menyebutkan bahwa perayaan ulang tahun (ultah) telah menjadi industri baru di kalangan masyarakat segala lapisan.

Menurut sebuah jajak pendapat oleh situs BabyCenter.com, 26 persen orang tua melaporkan menghabiskan lebih dari 500 dolar AS (sekira 7,2 juta rupiah) hanya untuk pesta ultah pertama. Jumlah ini sangat tinggi mengingat perayaan ultah pertama tidak akan diingat oleh anak-anak mereka.

Paket perayaan ultah di berbagai restoran waralaba juga bisa mencapai beberapa ratus dolar AS (belasan hingga puluhan juta rupiah).

Tempat hiburan keluarga populer Amerika Serikat, Chuck E. Cheese, misalnya, mengenakan biaya sekitar 18 dolar AS per tamu untuk menu pizza, minuman, meja dan jasa penyelenggaraan pesta.

Sementara itu, survei oleh supermarket pengecer Asda menunjukkan rata-rata orang tua di Inggris menghabiskan 28.000 dolar AS (kira-kira setara 399,5 juta rupiah) untuk menggelar hari ulang tahun anak hingga usia 21 tahun.

Ultah Firaun

Sementara tradisi perayaan ultah telah bergeser menjadi industri di zaman kiwari, acara ini sebenarnya sudah dilakukan 3.000 tahun Sebelum Masehi ketika Firaun dinobatkan menjadi “tuhan” pada zaman Mesir kuno.

Hal tersebut merujuk pada Bibel dalam Kitab Kejadian pasal 40 ayat 1-23 yang menceritakan bahwa tuhan memberi Yusuf kemampuan untuk mengartikan mimpi kepala pelayan dan tukang roti Firaun. Mimpi tukang roti diartikan bahwa dia akan kehilangan nyawanya tiga hari setelah takwil mimpi itu. Yusuf mengerti bahwa Firaun akan menggantung tukang roti pada pesta ulang tahunnya.

Meski begitu, ahli perayaan ultah (birthdayologist), Dr. James Hoffmeier yakin bahwa pesta Firaun tersebut bukan perayaan hari lahir namun merupakan hari penobatannya sebagai tuhan pada zaman Mesir kuno.

Tanggal penobatan Firaun menjadi tuhan jauh lebih penting dari pada waktu kelahirannya.

Mitos Yunani

Perayaan ultah Firaun atau hari saat dia menjadi “tuhan” kemudian disalin oleh orang-orang Yunani kuno (1.200 – 900 Sebelum Masehi) untuk menyembah dewa-dewi mereka.

Mereka mempersembahkan kue berbentuk bulan kepada Artemis sebagai bentuk penghormatan kepada dewi bulan, berharap dia menciptakan kembali cahaya bulan dan kecantikannya. Makanya, mereka juga meletakkan lilin-lilin di atas kue guna mendapatkan cahaya yang melambangkan pancaran dewi bulan.

Ultah Romawi

Sementara perayaan ultah zaman Mesir kuno dan Yunani kuno berkaitan dengan penyembahan dewa-dewi, bangsa Romawi (625 Sebelum Masehi – 476 Masehi) merupakan yang pertama merayakan hari lahir yang tak ada kaitannya dengan ritual keagamaan.

Orang Romawi selalu merayakan awal dari segala sesuatu yang disebut dies natalis (hari kelahiran). Hari-hari kelahiran kuil dan kota sering dikenang dengan perayaan, juga bayi yang berumur lebih dari satu tahun karena dianggap sebagai suatu pencapaian dalam hidup.

Menurut akademisi Kathryn Argetsinger, ulang tahun dalam pola pikir Romawi jauh lebih dekat dengan perayaan keagamaan kultus dari pada zaman sekarang, terutama karena setiap orang memiliki roh pengawas yang mereka korbankan pada hari kelahiran mereka. Dewa ini melindungi seseorang selama tahun itu, dan karenanya ada peningkatan perlindungan di setiap tahun lewat pengorbanan.

Dia juga beranggapan bahwa Romawi adalah masyarakat agraris yang memanfaatkan festival untuk merayakan kehidupan, hewan ternak dan panen tanaman yang melimpah, anak-anak tumbuh, dan ulang tahun menjadi salah satu bentuk perayaan ini.

Bagi bangsa Romawi pesta ulang tahun adalah campuran antara perayaan agama dan persahabatan, di mana ada ritual pengorbanan, pembakaran dupa, ritual pembuatan dan penyantapan kue dan jubah putih yang dikenakan.

Orang Romawi merayakan hari ulang tahun bersama teman dan keluarga mereka. Bahkan, para penguasa menciptakan hari libur umum untuk merayakan hari ulang lahir warga yang terkenal.

Akademisi Denis Feeney menulis tentang hal tersebut dalam bukunya bahwa Julius Caesar merayakan secara resmi ulang tahunnya pada 12 Juli mulai tahun 42 Sebelum Masehi.

Mereka yang merayakan pesta ulang tahun ke-50 akan menerima kue khusus yang terbuat dari tepung gandum, minyak zaitun, madu, dan keju parut. Namun semua perayaan ini hanya untuk kaum lelaki hingga abad ke-12 saat ulang tahun perempuan juga dirayakan.

3.000 tahun lalu Firaun rayakan ulang tahun
Ilustrasi. Sementara budaya-budaya kuno mempraktikkan perayaan hari lahir dan Bibel mengisahkan pesta ulang tahun, dalam Islam tak secuil pun acara ini disebut pernah ada dalam kehidupan para Nabi, Rasul, Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan orang-orang shalih terdahulu. (Photo by Ashkan Forouzani on Unsplash)

Tasyabbuh

Sementara budaya-budaya kuno mempraktikkan perayaan hari lahir dan Bibel mengisahkan pesta ulang tahun, dalam Islam tak secuil pun acara ini disebut pernah ada dalam kehidupan para Nabi, Rasul, Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan orang-orang shalih terdahulu.

Sayangnya, sejarah perayaan hari lahir yang dimula dari orang kafir ternyata juga telah menjadi gaya hidup sebagian kaum Muslim.

Mereka ikut-ikutan meyakini bahwa usia satu tahun dari seorang anak merupakan hari penting dalam hidupnya, juga ketika telah berusia 17 tahun yang dikenal dengan pesta sweet seventeen.

Namun demikian, menurut Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, hal tersebut adalah sunnatullah dengan merujuk sabda Nabi ﷺ dari Abu Hurairah yang berbunyi, “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah ﷺ, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?” (HR. Bukhari no. 7319)

Sementara itu, dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669)

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nasrani dalam sebagian perkara.

Karenanya Rasulullah ﷺ berpesan, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.” (HR. Tirmidzi no. 2695)

Makanya, Allah ﷻ memerintahkan Muslim untuk senantiasa memohon petunjuk ke jalan yang lurus, yakni jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat dari kalangan para nabi, orang-orang yang benar imannya, orang-orang yang mati syahid, orang-orang shalih.

Bukan jalan orang-orang yang dimurkai, yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang seperti mereka; dan bukan orang-orang yang sesat yaitu orang-orang Nasrani dan orang-orang yang mengikuti jalan hidup mereka.

Sumber:  www.reuters.com; www.huffpost.com; rcg.org; www.forbes.com;minnesota.cbslocal.com; rumaysho.com; tafsirweb.com

Penulis: Indonesia Window

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here