
China secara bertahap tingkatkan kemampuan untuk kendalikan emisi metana

Xie Zhenhua, perwakilan khusus untuk Presiden China Xi Jinping sekaligus utusan khusus China untuk perubahan iklim, berpidato di KTT Implementasi Iklim dalam Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim ke-27 (COP27) di Sharm El-Sheikh, Mesir, pada 8 November 2022. (Xinhua/Sui Xiankai)
Pengendalian emisi metana sangat penting, mendorong China melakukan serangkaian kebijakan di sektor batu bara, minyak bumi dan gas alam, pertanian, serta pembuangan limbah.
Sharm El-Sheikh, Mesir (Xinhua) – China secara bertahap akan meningkatkan kemampuannya untuk mengendalikan emisi metana, sebut Xie Zhenhua, perwakilan khusus untuk Presiden China Xi Jinping sekaligus utusan khusus China untuk perubahan iklim, pada Selasa (8/11).Xie menyampaikan pernyataan tersebut di Sharm El-Sheikh, Mesir, ketika menghadiri sebuah acara tingkat tinggi yang bertajuk ‘It's Time to Sprint: Targeting Methane Emissions’, yang diselenggarakan oleh Bank Dunia sebagai acara sampingan di Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim ke-27 (COP27).Dia mengatakan bahwa China memandang pengendalian emisi metana sangat penting, dan melakukan serangkaian kebijakan di sektor batu bara, minyak bumi dan gas alam, pertanian, serta pembuangan limbah.Sementara itu, dia menambahkan bahwa China telah mempromosikan penggunaan mekanisme pasar untuk mendorong perusahaan-perusahaan mengendalikan emisi metana."China bersedia memperkuat komunikasi dan pertukaran dengan negara lain untuk kerja sama dalam pembuatan kebijakan, inovasi, dan penerapan teknologi pengendalian emisi metana, serta memberikan kontribusi bersama guna mengatasi perubahan iklim global," ujarnya.COP27 saat ini tengah digelar di Sharm El-Sheikh, sebuah kota pesisir di Mesir, dan akan berlangsung hingga 18 November.
Sejumlah orang mengantre di dekat sebuah poster dalam Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim ke-27 (COP27) yang sedang berlangsung di Sharm El-Sheikh, Mesir, pada 7 November 2022. (Xinhua/Ahmed Gomaa)
Langkah iklim China
Upaya China dalam hal aforestasi dan konservasi alam telah secara signifikan meningkatkan penyimpanan karbon dan mengurangi perubahan iklim dalam dua dekade pertama abad ini, menurut tim peneliti internasional.Sejak tahun 2000 hingga 2020, kontribusi China terhadap mitigasi perubahan iklim melalui Solusi Iklim Alami (Natural Climate Solutions/NCS) mencapai 600 juta ton CO2 (karbon dioksida) ekuivalen setiap tahunnya, mengimbangi 8 persen dari rata-rata emisi CO2 fosil tahunan pada periode yang sama, menurut studi yang belum lama ini diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change.NCS mencakup strategi pengurangan karbon seperti menanam pohon serta merestorasi padang rumput, lahan basah dan lahan pertanian.Untuk pertama kalinya, para ilmuwan dari China, Prancis, Amerika Serikat, dan Inggris memperkirakan kapasitas mitigasi historis China dari proyek-proyek konservasinya pada periode 2000-2020.Hasilnya sejalan dengan temuan pada 2019 yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability yang menunjukkan bahwa setidaknya 25 persen ekspansi vegetasi sejak awal 2000-an secara global terjadi di China, berdasarkan data dari satelit NASA.Kontribusi China terhadap tren penghijauan global secara signifikan datang dari inisiatif konservasi dan perluasan hutan negara tersebut, menyumbangkan sekitar 42 persen dari total kontribusi penghijauan.Sekitar 64 juta hektare pohon telah ditanam di China dalam satu dekade terakhir. Cakupan hutan di negara itu kini mencapai 23,04 persen, naik 2,68 poin persentase dari tahun 2012.Dalam studi terbaru itu, para peneliti juga memprediksi potensi di masa depan pada periode 2020-2030 dan 2020-2060 melalui konservasi, restorasi, dan penyempurnaan manajemen hutan, lahan pertanian, padang rumput, dan lahan basah.
Foto dari udara yang diabadikan pada 22 Agustus 2021 ini menunjukkan pemandangan hutan pertanian Saihanba di Provinsi Hebei, China utara. (Xinhua/Jin Haoyuan)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Penyintas Pembantaian Nanjing wafat, tersisa 32 orang yang masih hidup
Indonesia
•
23 Jul 2024

Fokus Berita – WHO sebut situasi kemanusiaan dan kesehatan di Gaza "sangat buruk"
Indonesia
•
10 Jan 2024

Feature – Kisah desainer Gen Z asal Indonesia kejar impian di China
Indonesia
•
18 Apr 2024

Presiden China desak upaya pemilahan sampah sebagai tren kehidupan rendah karbon
Indonesia
•
23 May 2023


Berita Terbaru

Badan Pengawas Obat AS tarik hampir 90.000 botol ibuprofen anak secara nasional
Indonesia
•
21 Mar 2026

Angka kematian anak balita turun lebih dari setengahnya sejak tahun 2000
Indonesia
•
19 Mar 2026

Idul Fitri 1447H – Warga Afghanistan bersiap sambut Idul Fitri di tengah sanksi dan kemiskinan
Indonesia
•
19 Mar 2026

Di New York, Taiwan tunjukkan kepeloporan dalam kesetaraan gender
Indonesia
•
17 Mar 2026
