
15 orang meninggal akibat tanah longsor di Natuna per Rabu sore

Anggota Polri, Basarnas dan BPBD Kabupaten Natuna melakukan asesmen lanjutan di lokasi tanah longsor di Kampung Genteng, Desa Pangkalan, Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Rabu (8/3). BPBD Kabupaten Natuna menyebut lebih dari 27 rumah tertimbun material longsoran yang terjadi pada Senin (6/3). (Komunikasi Kebencanaan/Danung Arifin)
Tanah longsor di Natuna akibatkan 15 orang meninggal per Rabu (8/3) sore, dan 1.300 jiwa mengungsi. Para pihak terkait akan merelokasi sekitar 100 kepala keluarga terdampak.
Jakarta (Indonesia Window) – Setidaknya 15 orang meninggal akibat tanah longsor di Natuna, Kepulauan Riau, hingga Rabu sore (8/3), 35 orang dinyatakan masih hilang dan sebanyak 1.300 jiwa mengungsi, ungkap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).Sebagai bentuk upaya mengurangi dampak risiko bencana tanah longsor, BNPB mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Natuna yang akan merelokasi kurang lebih 100 kepala keluarga yang tinggal di sekitar kawasan terdampak longsor di Pulau Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, menurut laman BNPB dalam keterangan tertulisnya seperti dikutip Indonesia Window, Kamis.Hal itu dikatakan Kepala BNPB, Suharyanto, usai menggelar rapat koordinasi bersama Gubernur Kepulauan Riau, H.Ansar Ahmad, dan Bupati Natuna, Wan Siswandi, di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Serasan yang juga menjadi Posko Tanggap Darurat Penanganan Bencana Tanah Longsor Natuna.“Akan memindahkan 100 kepala keluarga di tempat yang baru,” jelas Suharyanto.Menurut Kepala BNPB, Pemerintah Kabupaten Natuna telah menyiapkan lahan yang akan menjadi lokasi relokasi. Tentunya, pihak BNPB akan melakukan koordinasi dengan beberapa kementerian dan lembaga termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terkait pembangunannya."Tanahnya sudah ada. Kami sedang proses koordinasi nanti dengan Kementerian PUPR,” terang Suharyanto.Lebih lanjut, Kepala BNPB juga memastikan bahwa proses pembangunan rumah relokasi warga terdampak bencana alam di Natuna tersebut akan dikerjakan sepenuhnya oleh Kementerian PUPR dengan pembiayaan dari BNPB. Program relokasi ini akan dilakukan setelah memasuki masa rehabilitasi dan rekonstruksi.“Biasanya kalau terjadi bencana di tempat lain, untuk relokasi yang membangun rumah ini dilakukan Kementerian PUPR tentu saja bekerja sama dengan BNPB terkait penganggaran,” kata Suharyanto.Guna mempercepat proses relokasi tersebut, Kepala BNPB meminta kepada Pemerintah Kabupaten Natuna untuk melakukan pendataan, sehingga apabila telah memasuki masa rehabilitasi dan rekonstruksi, proses pembangunan dapat segera dimulai.Tingginya curah hujan, kondisi tanah yang labil dan area perbukitan dengan kemiringan yang curam menjadi beberapa faktor pemicu terjadinya bencana tanah longsor tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

KBRI Brunei dan BPJS Ketenagakerjaaan beri perlindungan bagi PMI
Indonesia
•
13 Nov 2023

COVID-19 – Indonesia luncurkan vaksinasi ibu hamil, ibu menyusui dan anak
Indonesia
•
29 Jun 2021

Indonesia dorong kerja sama global perlindungan warga, akses vaksin dan mitigasi pandemik
Indonesia
•
04 Sep 2020

Volume kargo di Bandara Angkasa Pura I capai 32.819 ton pada Mei 2022
Indonesia
•
22 Jun 2022


Berita Terbaru

Opini – Usulan Indonesia untuk ambil inisiatif bentuk koalisi penjamin
Indonesia
•
27 Mar 2026

Idul Fitri 1447H - Mudik Lebaran 2026 di seluruh Indonesia diprediksi capai 143,9 juta perjalanan
Indonesia
•
19 Mar 2026

Flash - Pemerintah RI tetapkan 1 Syawal 1447H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026
Indonesia
•
19 Mar 2026

Indonesia jajaki kerja sama AI pertanian dengan Guangxi, China
Indonesia
•
17 Mar 2026
